<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom">
<title>My Memo</title>
<id>https://memo.wellosoft.net/id</id>
<icon>/favicon.png</icon>
<updated>2023-08-24T23:38:58+00:00</updated>
<summary>Tempatnya bercerita dan berfakta dari tangan pengalaman saya sendiri.</summary>
<link href="https://memo.wellosoft.net/id/"/>
<link href="https://memo.wellosoft.net/feed/" rel="self"/>
<incaseyoudontgettheidea>Ini adalah Atom Feed. Kamu bisa kaitkan daftar berita (contoh. Wordpress Reader) dengan blog saya dengan menambah URL Atom diatas. Enjoy!</incaseyoudontgettheidea>
<author>
  <name>Wildan M</name>
  <email>willnode@wellosoft.net</email>
  <uri>https://wellosoft.net</uri>
</author>
<entry>
  <title>Monopoli Uang (Dan Hutang Piutang)</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/monopoli-uang.html"/>
  <updated>2020-06-17T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/monopoli-uang</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini banyak sekali orang sedang kehilangan arah. New Normal memaksa kita untuk memikirkan kembali strategi jalan hidup yang kita jalani; mulai dari gaya hidup, sistem pendidikan, bahkan model pekerjaan yang membuat kita aman untuk menyambung hidup. Tapi manusia adalah manusia, kita bisa gegabah kapan saja tanpa kita sadari; dan ini adalah reminder terhadap semua orang menghadapi masalah ini: Jangan tergoda oleh arus monopoli uang.</p> <p>Belajar dari beberapa sumber, aku bisa mengerti, bagaimana uang dibuat dan dikendalian. Tentu pemerintah tidak gegabah mencetak uang banyak-banyak agar inflasi tidak terjadi. Namun hal tersebut juga tidak dapat dicegah. Kenapa demikian? Karena setiap orang bisa berhutang pada bank sebanyak mereka sanggup. Mari kita kaji sejenak, bagaimana bila bank tersebut kehabisan uang?</p> <p>Solusinya gampang, bank bisa hutang kepada bank sentral negara kapanpun mereka mau, dengan catatan bahwa hutang tersebut berasal dari klien mereka sendiri. Bagaimana bila bank sentral kehabisan uang? Ngutang negara lain? Tentu tidak mungkin, karena bank tersebut merupakan kunci aset negara, tidak boleh menjadi miskin; alhasil dinegara manapun kau hidup, bank sentral punya kendali bagaimana mata uang beredar, dan mendapatkan otoritas untuk <strong>mencetak uang baru</strong> kapanpun mereka butuhkan, dengan catatan hutang tersebut berasal dari netizen negara tersebut sendiri. Karena netizen itulah yang nantinya membayar “hutang” mereka sendiri.</p> <p>Kalau situasinya seperti itu? Apakah nantinya juga berakibat inflasi pada negara tersebut? Tentu saja inflasi itu tetap terjadi, lagipula semakin banyak orang ngutang pada bank, mau tidak mau jumlah mata uang beredar pun ikut bertambah, menambah masalah pada kesehatan keuangan negara. Tapi negara tidak peduli berapa banyak inflasi yang terjadi tiap tahunnya, negara hanya peduli bahwa rakyat mereka tetap mau bekerja dan memutar uang, bagaimana pun resikonya.</p> <h3 id="tradisi-masyarakat">Tradisi Masyarakat</h3> <p>Jangankan melirik perbankan. Kita sebagai masyarakat biasa pun dapat “membuat” uang kita sendiri. Caranya? tentu melalui hutang. Kau boleh tidak percaya padaku, tapi utang piutang adalah cara ajaib untuk menambahkan kekayaan. Hutang terjadi, baik karena orang itu terdesak, atau karena mereka butuh modal untuk bisnis baru. Apakah mereka berhutang karena mereka suka mencari masalah? Tentu tidak. Dan orang yang meminjamkan mau memberikan uang mereka, karena mereka diberikan cek/nota berisi “janji” atau “harapan” bahwa uang mereka (yang tidak digunakan) akan kembali, baik dengan jumlah yang sama atau lebih, sebagai ganti mereka “memberikan” uang tersebut kepada orang lain.</p> <p>Jadi apabila kamu melihat orang yang banyak hutang, jangan heran juga, mereka bak seperti membeli kekayaan dengan “janji” dan “harapan” pada banyak orang, dan mereka sukses melakukannya. Mereka orang-orang yang sukses bisnisnya pun dulunya pasti mengikuti jalan yang sama, punya banyak sekali hutang, bukan karena mereka suka mencari masalah, namun mereka melihat potensi bisnis mereka yang dapat memutar modal menjadi keuntungan, sekali lagi berdasarkan pada “janji” dan “harapan” yang mereka berani pertaruhkan.</p> <h3 id="hutang-sebagai-bisnis">Hutang sebagai Bisnis</h3> <p>Jadi jangan kaget, apabila banyak sekali organisasi/instansi yang menjual modal sebagai bisnis utama mereka. Sebut salah satunya Cicilan. Jika kau pikir lebih dalam, cicilan pun konsep nya sama seperti hutang, dan dimana-mana layanan cicilan itu pasti ada bunganya. Apakah hal tersebut dianggap “riba”? Bagiku itu sangat konyol, karena bunga merupakan bagian dari bisnis. Sama seperti perbankan yang menerapkan bunga buat klien yang pinjam duit. Kalau tidak ada bunga, tidak ada instansi bisnis yang mau menjual cicilan dan pinjam meminjam.</p> <p>Tidak cuma cicilan, sekarang banyak sekali sistem uang yang menerapkan hutang menjadi naik level, sampai member mereka gak merasakan kalau mereka sebenarnya terlibat dengan hutang, contohnya saja beberapa seperti Kredit online dan Arisan online. Ada juga hutang yang dibaur dengan bisnis jual-menjual produk atau aset, seperti dealer untuk properti berat seperti motor, mobil, rumah atau reseller untuk properti ringan seperti snack, aksesoris dan produk kecantikan.</p> <p>Bisnis-bisnis seperti itu masih gampang dicerna, namun orang-orang jaman sekarang sudah sangat pintar bahkan bermain “hutang” dalam bentuk aset, yang harganya rawan naik turun sesuai musim, seperti properti, emas, saham, forex bahkan cryptocurrency. Bagaimana nilai jual-beli (trading) tersebut berubah dan siapa yang punya wewenang itu ialah diluar pengetahuanku dan topik artikel ini.</p> <p>Kesimpulannya, semua bisnis yang aku sebutkan diatas, intinya sama. Mereka semua <strong>berharap</strong> mendapatkan keuntungan dari bisnis yang mereka dalami, atau lebih keren lagi, mengajak orang berbisnis berdasarkan konsep <em>gotong royong</em> dan <em>win-win solution</em>. Dinamika inilah yang membuat orang menjadi <em>berharap</em>, apalagi setelah kita tahu bahwa teman atau relasi terdekat kita yang awalnya bukan siapa-siapa bisa sukses dadakan, karena sekali lagi, bisnis adalah soal hutang dan putar memutar uang, dan <strong>hutang berpotensi membuat uang baru</strong>, baik kamu sadari secara langsung maupun tidak.</p> <h3 id="jangan-tergoda">Jangan Tergoda</h3> <p>Memikirkan uang memang menarik, dan dinamika uang terbukti membantu banyak orang membangun harapan bahwa, semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk bekerja, saling memenuhi kebutuhan, bahkan membangun rasa aman melalui kepemilikan aset yang tidak terbayang sebelumnya.</p> <p>Namun satu hal yang membuat aku prihatin ialah, <strong>hal ini menghancurkan inovasi dan bakat yang ada dalam setiap insan manusia yang terlibat</strong>. Jika semua orang berusaha memperkaya diri melalui putaran uang, siapa yang nantinya akan melipat gandakan uang tersebut melalui inovasi, skill dan kerja keras? Menjadi orang yang pintar memutar uang itu penting, namun skill dan kerja keras kita terhadap inovasi itulah yang membuat peradaban manusia lebih maju, langkah demi selangkah.</p> <p>Aku tidak berniat menyalahkan orang yang suka memutar uang, justru buat kalian yang tidak percaya dengan bakat kalian, sedang krisis atau membutuhkan suntikan uang, merasa hidup akan jauh lebih mudah jika punya modal, silahkan bereksperimen dengan bisnis hutang dan memutar uang.</p> <p>Namun itu tidak untukku, meski aku juga butuh uang, dan aku melihat potensi memperkaya diri melalui bisnis itu, aku merasa tujuan hidup dan bakatku akan sia sia. Lagipula aku merasa aku tidak pantas untuk menjadi orang kaya apabila aku berkontribusi nol terhadap inovasi bangsa dan negara, atau belum memberikan dampak positif yang besar melalui bakat yang Tuhan berikan selama ini.</p> <blockquote> <p>If all my life is working for enriching my self in money, I lose faith in humanity</p> </blockquote> <p><em>Jika anda merasa bisa memberikan dampak positif melalui bakat anda, jangan sampai putus asa dan tergoda oleh monopoli uang.</em> Sekian.</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Laptop Debunking Myth</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/laptop-debunking-myth.html"/>
  <updated>2020-05-31T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/laptop-debunking-myth</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Sudah 3 minggu yang lalu laptopku rusak karena hal yang super sepele. Kau tahu, semenjak itu aku lebih berhati-hati memilih laptop mana yang akan aku gunakan selanjutnya? Aku menerima banyak saran belakangan ini; maka dari itu akan coba merangkumnya, mudah-mudahan berguna juga buat kalian yang ingin cari tahu rekomendasi laptop atau upgrade yang tepat.</p> <p>Artikel ini urut dari pertanyaan yang umum hingga sangat teknis, dan sudah aku sempatkan untuk memberikan banyak referensi luar biar kamu nggak tersesat atau dapat mencari tahu sendiri info lebih jelasnya.</p> <h4 id="mengapa-pilih-laptop-daripada-komputer">Mengapa Pilih Laptop daripada Komputer?</h4> <p>Untuk aku yang masih mahasiswa, aku butuh laptop. Lagipula, juga suka kerja berpindah-pindah tempat (laboratorium, cafe, dsb) dan aku berencana setelah kuliah S1 untuk lanjut ke S2. Jadi mau punya Komputer? Sepertinya bukan opsi yang cocok untukku.</p> <h4 id="berapa-spek-minimal-yang-bagus-untuk-budget-x">Berapa Spek Minimal yang Bagus untuk Budget X?</h4> <p>Ini adalah pertanyaan yang sangat umum. Kalau memang budgetnya press banget, aku sarankan cari laptop yang upgradable, yang slot <a href="https://www.blogsayugi.com/2019/03/kenapa-ssd-dan-ram-di-laptop-baru.html">RAM atau SSD nya tidak disolder</a>, serta prosesor yang generasinya tidak terlalu lama (laptop rilisan 2015 keatas, karena Windows 10 rilis disekitar tahun itu). Terakhir, kalau bisa, yang sudah berisi Windows 10 (<a href="https://jalantikus.com/gadgets/notebook-asus-microsft-windows-10/">semua laptop dari ASUS sudah begitu</a>).</p> <p>Kenapa upgradable itu penting? Bolehlah mungkin sekarang kamu hanya punya budget yang press, tapi bagaimana kalau tahun depan ingin menambah spek lagi? Bagaimana kalau spek dari pabrik yang sudah kamu beli sudah tidak cepat lagi? Jadi belilah laptop yang upgradable, yang punya slot RAM tambahan, atau punya DVD-ROM, atau lebih bagus lagi, punya slot M.2. Menurut pengamatanku, laptop yang upgradable untuk harga yang terjangkau biasanya ada di produk-produk laptop Jepang (HP, Dell, Toshiba, Fujitsu, dsb.)</p> <p>Untuk tahun 2020 ini, jika ingin beli laptop, usahakan cari yang <a href="https://carisinyal.com/laptop-4-jutaan/">range 4 jutaan keatas</a>. Dengan budget tersebut kebanyakan laptop sudah memiliki kapatitas RAM 4 GB dan HDD 1 TB, dan CPU yang cukup buat keperluan ringan.</p> <p>Untuk rincian speknya, baca terus sampai selesai.</p> <h4 id="apakah-lebih-baik-upgrade-nanti-atau-sekalian-beli-spek-besar">Apakah Lebih Baik Upgrade Nanti atau Sekalian Beli Spek Besar?</h4> <p>Tergantung dari budget. Misalkan, untuk menikmati Laptop dengan RAM 8 GB, setidaknya menyiapkan budget paling rendah 6 juta; padahal anda juga dapat membeli Laptop range 4 jutaan lalu menambah stik RAM 4 GB seharga setengah juta (DDR4) untuk di upgrade.</p> <p>Namun, ingat bahwa tidak semua laptop bisa bekerja optimal jika diupgrade terlalu tinggi. Maksudku, apakah masih masuk akal jika mempunyai CPU yang speknya rendah namun kapasitas RAM-nya sangat tinggi? maka dari itu, jika kamu punya budget lebih, alangkah lebih baik cari aman saja dengan mencari spek yang sekalian tinggi.</p> <blockquote> <p>Ini juga berlaku buat beberapa spek laptop yang “aneh”; Misalnya, untuk beberapa model laptop yang mempunyai RAM 8 GB dengan harga 4 jutaan, apakah itu masuk akal? Menurutku tidak, karena seolah-olah seperti “spek tinggi yang dipaksa”. Bisa saja itu harga basenya 3 jutaan hanya setelah itu diupgrade RAM-nya, dengan kata lain pasti ada komponen lain yang “disunat” jika dibandingkan dengan sesama laptop 4 jutaan, bisa saja dari prosesor atau kapasitas storage nya.</p> </blockquote> <h4 id="manakah-yang-lebih-penting-untuk-upgrade-ram-atau-ssd">Manakah yang Lebih Penting untuk Upgrade? RAM atau SSD?</h4> <p><strong>Selalu SSD.</strong></p> <p>Karena dari segi kecepatan <a href="https://tekhattan.com/blog/hardware/ssd-vs-hdd-speed-lifespan-and-reliability/">sudah beda jauh</a>: HDD sekitar <strong>80-120 MB/s</strong> sedangkan SSD (SATA) sekitar <strong>200-600 MB/s</strong>. Apakah komputer nanti lambat meski dengan RAM tipis? Sepertinya tidak, karena Windows dari zaman XP sudah menerapkann <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Memori_virtual">Virtual Memori</a>, yakni apabila Windows tidak cukup ruang memori, maka windows mengalokasikan memori tersebut kepada storage (HDD/SSD).</p> <p>Jangan kira RAM 4 GB itu cukup, bahkan untuk <em>cold boot</em> atau penggunaan ringan, Windows butuh setidaknya <a href="https://superuser.com/questions/971967/why-is-my-committed-memory-so-much-higher-than-my-actual-ram-space/974010">12 GB memori</a> untuk berjalan. Jadi secepat dan sebesar apapun RAM anda, bakal turun juga performanya, gara-gara kecepatan Virtual Memori yang sangat rendah.</p> <p>Apabila Windows-mu masih memakai HDD, sebisanya upgrade ke SSD. Tapi kalau kamu masih ragu-ragu, tidak apa-apa juga, masih ada banyak Youtuber yang bisa <a href="https://www.youtube.com/watch?v=OQiZm0h9xn4">menjelaskan lebih dalam tentang SSD</a>:</p> <iframe width="100%" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/OQiZm0h9xn4" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen=""></iframe> <p><br /></p> <h4 id="tapi-aku-tetap-butuh-ram-tambahan-apa-resikonya">Tapi aku tetap butuh RAM Tambahan. Apa Resikonya?</h4> <p>Pertama, Beberapa Motherboard sudah mensolder RAM mereka jadi satu. Kedua, kamu <a href="https://blog.dimensidata.com/perbedaan-memori-ram-ddr3-dengan-ram-ddr4/">tidak bisa memasukkan</a> Memori DDR4 kedalam slot DDR3 dan sebaliknya. Jadi kamu harus cek dulu slot tipe DDR laptop sebelum membeli RAM.</p> <p>Ketiga, ada kerugian tersendiri apabila 2 RAM terpasang namun berbeda spesifikasi baik itu kapasitas, rating voltase, ataupun kecepatan RAM – yakni dapat membuat <a href="https://id.quora.com/Apakah-memasang-RAM-beda-kapasitas-4GB-8GB-akan-terbaca-menjadi-dual-channel">performa RAM menurun</a> atau apabila prosesor tidak mendukung kombinasi RAM yang digunakan, membuat laptop jadi <a href="https://www.ricksdailytips.com/pc-wont-boot-with-new-ram/">tidak mau menyala</a>. Jadi teliti lagi sebelum membeli RAM, usahakan mencari spesifikasi RAM yang sama dan sudah tahu bahwa kombinasi RAM yang akan dipasang benar-benar bisa diterima oleh prosesor.</p> <h4 id="apa-keuntungan-ssd-dibanding-hdd">Apa keuntungan SSD dibanding HDD?</h4> <p>Banyak, tapi yang paling aku sukai dari SSD adalah <a href="https://tekhattan.com/blog/hardware/ssd-vs-hdd-speed-lifespan-and-reliability/">performa dan ketahanannya</a>. Berbeda dengan HDD, SSD tidak menggunakan <a href="https://www.backblaze.com/blog/hdd-versus-ssd-whats-the-diff/">piringan</a> untuk menyimpan data, melainkan menggunakan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Solid_state_drive#SSD_berbasis_flash">flash memory</a> mirip seperti Flashdisk. Dan karena di SSD tidak memakai piringan, SSD mempunyai konsumsi daya yang rendah, tidak menghasilkan suara berisik dan tidak cepat panas dibandingkan HDD; lagipula HDD juga lebih rentan piringannya pecah atau rusak apabila terkena <a href="https://www.youtube.com/watch?v=pXITrgRkT5k">medan magnet</a> atau guncangan yang cukup keras; problem seperti itu tidak ada dalam SSD.</p> <p>Namun tetap, HDD masih punya keunggulan tersendiri, misal untuk backup data, karena HDD lebih murah dan mempunyai kapasitas yang lebih tinggi. Kebanyakan HDD suatu saat akan gagal karena masalah dalam sistem mekaniknya, namun SSD akan gagal apabila digunakan terlalu sering, standar penggunaan untuk <a href="https://www.solarwindsmsp.com/blog/ssd-lifespan">HDD berkisar 5 tahun sedangkan SSD 3 tahun</a> untuk penggunaan normal.</p> <h4 id="bukankah-kalau-upgrade-ssd-berarti-mengangkat-hdd-lama">Bukankah kalau upgrade SSD berarti mengangkat HDD lama?</h4> <p>Tidak selalu. Buat laptop yang ada DVD-ROM nya, DVD-ROM itu bisa diangkat <a href="https://www.elppas.com/2017/05/mengganti-dvd-rw-laptop-dengan-harddisk.html">diganti dengan Caddy</a> yang bisa dibuat menampung HDD lama. Dengan demikian, kamu bisa gunakan SSD tersebut untuk mengisi partisi Windows yang menggunakan HDD lama untuk menyimpan data. Untuk cara memasang SSD dan migrasi partisi Windows ke SSD, kamu bisa gugel banyak <a href="https://www.youtube.com/watch?v=AqXY0SjGcXQ">tutorial di YouTube</a>.</p> <p>Untuk beberapa model laptop, biasanya yang tipis diharga 5 jutaan keatas, mempunyai slot M.2 (SATA). Slot ini bisa diisi dengan <a href="https://images.google.com/images?hl=en&amp;q=m.2+ssd">SSD M.2</a> yang berbentuk chip panjang seperti RAM. SSD M.2 (SATA) cenderung lebih mahal daripada versi <a href="https://images.google.com/images?hl=en&amp;q=ssd+sata+2.5">regular 2.5”</a> karena bentuknya yang tipis. Buat kalian yang laptopnya punya slot M.2, sangat aku anjurkan untuk beli SSD varian M.2 dibandingkan varian SATA 2.5”, kalo budgetnya tidak ada, bolehlah nabung-nabung sebentar.</p> <blockquote> <p>Selain slot 2.5” SATA dan M.2 SATA, ada lagi slot <a href="https://images.google.com/images?hl=en&amp;q=msata">mSATA</a>, hanya saja lebih jarang dijumpai. Intinya, semua slot tersebut mempunyai jenis koneksi yang sama, yakni SATA, dan nama kerennya untuk perbedaan jenis-jenis colokan SSD ini disebut <a href="https://www.obengplus.com/articles/3524/1/SSD-Form-Factor-dan-istilah-dalam-SSD.html">Form Factor</a> dalam SSD.</p> </blockquote> <h4 id="apakah-ada-hal-yang-perlu-diperhatikan-sebelum-membeli-ssd">Apakah ada hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli SSD?</h4> <p>Ya, beberapa SSD ada yang memakai <strong>DRAM Cache</strong> dan ada beberapa yang tidak (dengan kata lain, <strong>DRAM-Less</strong>), keduanya mempunyai harga yang mirip-mirip meski DRAM-Less cenderung lebih murah. Namun jangan tertipu, kedua tipe SSD tersebut mempunyai tujuan kegunaan yang jauh berbeda. Kamu bisa <a href="https://www.youtube.com/watch?v=ybIXsrLCgdM">lihat di YouTube</a> bagaimana DRAM-Less bisa berbeda dengan SSD mainstream; namun yang jelas, SSD ber-DRAM mempunyai keunggulan dengan kecepatan di Random Read/Write, jauh lebih cepat (5-10 kali) dibanding DRAM-Less, cenderung mempunyai <a href="https://juruinformatika.blogspot.com/2019/03/cara-mudah-mengetahui-umur-ssd.html">rating TBW</a> yang lebih tinggi terbantu oleh Dynamic Wear Leveling dari DRAM.</p> <p>Waw! Untuk harga yang beda tipis (sekitar 100 ribu), SSD ber-DRAM memang menggungguli performa daripada SSD tanpa DRAM. Jadi kenapa DRAM-Less masih popular? Jawabannya ialah di model NAND flashnya. Jika kamu teliti, SSD mempunyai <a href="https://www.youtube.com/watch?v=I9mbZUI0J3A">model SLC, MLC, TLC hingga QLC</a> yang secara urut berarti <strong>1</strong>, <strong>2</strong>, <strong>3</strong> dan <strong>4 bit per cell</strong>. Dikutip dari <a href="https://searchstorage.techtarget.com/answer/Comparing-SLC-SSD-with-DRAM-SSD-when-it-comes-to-IOPS">hasil gugel</a>, mempunyai lebih banyak bit per cell berarti harga-per-Giga yang lebih murah, namun dengan resiko <em>wear-out</em> yang tinggi dan <em>write speed</em> yang lebih lama.</p> <p>Dalam kasus SSD ber-DRAM, seperti <a href="https://info.patriotmemory.com/patriot-burst-solid-state-drive-ssd-box">Patriot Burst</a>, biasanya bermodel TLC (atau QLC), karena dengan menggunakan DRAM, harga SSD tersebut sudah cukup tinggi, sehingga masuk akal apabila menggunakan model 3 (atau 4) bit per cell. Sedangkan untuk SSD tanpa DRAM seperti <a href="https://www.westerndigital.com/products/internal-drives/wd-green-sata-ssd">WD Green</a> atau <a href="https://shop.westerndigital.com/in-id/products/internal-drives/sandisk-ssd-plus-sata-iii-ssd#SDSSDA-1T00-G26">SanDisk SSD Plus</a>, harganya akan lebih murah, sehingga masuk akal apabila diisi dengan model SLC atau 1 bit per cell; Karena kecepatan SLC yang cukup tinggi, sering kali kita akan menjupai kata <strong>SLC Cache</strong>, yakni istilah marketing bahwa SSD tersebut menggunakan model SLC atau 1 bit per cell.</p> <p>Jadi apabila SSD DRAM menggunakan TLC sedangkan SSD tanpa DRAM menggunakan SLC, manakah yang lebih awet? Jawabannya adalah pada penggunaannya: Secara ideal, SSD DRAM sebaiknya digunakan untuk tempat <strong>Boot</strong> atau <strong>Windows</strong>, sedangkan <strong>file-file pribadi</strong> ditempatkan pada SSD DRAM-Less.</p> <p>Kenapa aku percaya demikian? karena Windows pasti mengandalkan kecepatan Random Read/Write, apalagi untuk keperluan Virtual Memori. Sedangkan untuk File Pribadi, kamu tak perlu random RW speed atau rasio TBW yang tinggi, justru kau membutuhkan SSD yang lebih durable, lebih terjangkau, berkapasitas besar, dan lebih hemat daya. Fitur-fitur itulah <a href="https://www.reddit.com/r/hardware/comments/b1a3nc/are_dramless_ssds_useful_for_anything/">hanya ada di SSD tanpa DRAM</a>. Lagipula, secara kecepatan Sequential Read/Write, kedua SSD sama cepatnya (sekitar <strong>550 MB/s</strong> atau <strong>6 Gbit/s</strong>).</p> <p>Bagaimana dengan SSD berkapasitas besar? Disinilah <a href="https://www.youtube.com/watch?v=FWV5z9qTUK8">teknologi 3D NAND</a> unggul. 3D NAND menggunakan SLC (1 bit per cell) namun memanfaatkan tempat secara vertikal, alhasil harga-per-giga yang ditawarkan jauh lebih rendah daripada SSD mainstream lainnya. Beberapa SSD ber 3D NAND adalah <a href="https://www.samsung.com/id/memory-storage/850-evo-sata-3-2-5-inch-ssd/MZ-75E250BW/">Samsung EVO</a>, <a href="https://www.westerndigital.com/products/internal-drives/wd-blue-3d-nand-sata-ssd">WD Blue</a> dan <a href="https://www.adata.com/en/Solid-State-Drives/25/">Adata Ultimate</a>. Jika kamu teliti, SSD 3D NAND cenderung mempunyai banyak storage (512 GB keatas), TBW yang tinggi (bergaransi 5 tahun), bahkan beberapa model dilengkapi dengan DRAM. Semua benefit tersebut tentu mempunyai satu masalah yang serius, yaitu harganya pasti cukup mahal, diatas 1 juta.</p> <p>Terakhir, koneksi SATA mempunyai beberapa versi, yakni <a href="https://www.murdockcruz.com/2018/03/09/mengenal-lebih-dekat-tentang-istilah-sata-dan-versinya/">SATA II dan SATA III</a>, SATA II mempunyai kecepatan setengah dari SATA III (yang mempunyai kecepatan maks <strong>550 MB/s</strong> atau <strong>6 Gbit/s</strong>), jadi apabila SSD mu mempunyai kecepatan <a href="https://id.k2rx.com/how-check-analyse">Sequential Read/Write</a> masih sekitar 200 MB/s, kemungkinan itu karena kamu menaruh SSD mu ke Caddy / DVD-ROM (yang biasanya masih menggunakan SATA II), bukannya ke port SATA HDD; atau karena laptopmu merupakan generasi lama (namun kebanyakan laptop 2015 keatas sudah memakai SATA III pada colokan HDD-nya).</p> <blockquote> <p>Sebelum membeli SSD ukuran M.2, teliti kembali port M.2 anda, karena ada <a href="https://www.dewaweb.com/blog/memahami-perbedaan-ssd-sata-dan-ssd-nvme/">M.2 yang menggunakan koneksi SATA dan ada yang menggunakan NVMe</a>. MVMe adalah jenis koneksi yang jauh berbeda desainnya dengan SATA, karena berhubungan langsung dengan Prosesor melalui PCIe, memungkinkan kecepatan transfer hingga <strong>3 GB/s</strong>! Karena kecepatan tinggi ini, biasanya hanya ada di laptop 8 jutaan keatas. Jadi buat anda yang ingin mengisi kekosongan slot M.2, <strong>jangan gegabah</strong> membeli SSD NVMe, bisa saja port M.2 anda bukan NVMe (dan begitu pula sebaliknya). SSD yang dibahas diatas semuanya ialah SSD berjenis SATA.</p> </blockquote> <h4 id="bagaimana-dengan-cpu-processor-mana-yang-pas-untuk-x-dengan-budget-y">Bagaimana dengan CPU? Processor mana yang pas untuk X dengan budget Y?</h4> <p>sebenarnya, memilih CPU adalah topik yang cukup rumit untuk dibahas. Namun syarat mutlak untuk CPU adalah, <strong>jauhi laptop keluaran dibawah tahun 2015</strong>, karena ada kemungkinan bahwa CPU tersebut tidak kompatibel atau memiliki beberapa fitur yang hilang untuk menjalankan Windows 10. Aku ingat dulu jaman Intel Atom waktu tahun 2012-an, bahkan prosesor itu pun <a href="https://www.guru3d.com/news-story/intel-atom-cedarview-cpus-wont-support-directx-10-after-all.html">tidak mendukung DirectX 10</a>. Sekarang Windows 10 memerlukan CPU yang support hingga DirectX 12 (istilah kerennya, <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Windows_Display_Driver_Model#WDDM_2.0">WDDM 2.0</a>), yang pastinya didukung oleh semua prosesor sejak Windows 10 muncul di tahun 2015.</p> <p>Perlu diingat, untuk laptop budget apalagi yang dibawah 5 juta, CPU itu bukanlah faktor utama. Bahkan untuk Procesor Intel Pentium (rilisan 2015 keatas), sebenarnya <a href="https://www.quora.com/Can-I-run-Android-Studio-on-Pentium-with-4GB-RAM-and-a-dual-core-processor">sudah sanggup</a> untuk menjalankan Software seberat Android Studio. Faktor utama lain pada laptop budget adalah Storage, kemudian RAM. Apabila kedua faktor tersebut sudah dicukupi, barulah kita membahas CPU mana yang cocok untuk kita.</p> <p>Perlu diingat bahwa Prosesor laptop tidak seperti Komputer; Prosesor dalam laptop <a href="https://www.kaskus.co.id/thread/51f5b1e21acb17ab66000000/tanya--mengganti-processor-laptop-bisa-atau-tidak/">tidak bisa diganti</a>. Jadi apabila ada rencana untuk upgrade komponen laptop, sangat perlu untuk menimbang-nimbang fitur Prosesor apa saja yang kamu butuhkan untuk jangka panjang. Karena, tiap Prosesor pasti memiliki limit konfigurasi tertentu, seperti berapa kapasitas thread yang tersedia, berapa maksimum GHz-nya, berapa maksimum kapasitas RAM yang dibolehkan, berapa juga konsumsi Watt-nya, dan masih banyak parameter lain yang harus kita bahas.</p> <p>Jadi bagaimana memilih prosesor yang baik? Tentu semakin mahal prosesor maka semakin canggih, namun prosesor yang tinggi pun <a href="https://www.youtube.com/watch?v=1vaEBgceqdA">mempunyai masalah sendiri</a> seperti penggunaan daya yang boros dan lebih cepat panas, akhirnya mau tidak mau kamu pun harus menimbang-nimbang model laptop mana yang sesuai dengan gaya penggunaan sehari-hari. Jadi, selalu ingat untuk beli prosesor sesuai kebutuhan. Dan kita akan membahasnya lebih jauh lagi di <strong>Laptop Debunking Myth: Part 2 (Buat Pro Player)</strong>.</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Midnight Train of Thought</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/midnight-train-of-thought.html"/>
  <updated>2020-05-25T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/midnight-train-of-thought</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Entah ini adalah penyakit atau kebiasaan, hampir tiap malam saat kesibukan lenggang, justru otakku tak pernah bisa diam memikirkan beragam hal. Namun, satu hal yang aku selalu amati, hampir semua persoalan bertuju pada satu hal: Masa depan.</p> <p>Tentu, manusia tak bisa mengintip nasib masa depan. Namun, dengan adanya akal, mana mungkin ada manusia didunia ini gak pernah meresakan untuk berkhayal? Memikirkan hal yang mereka inginkan sedari dulu, atau mewujudkan misi bayangan mereka seolah-olah itu tujuan hidup mereka?</p> <p>Aku tahu, manusia itu lemah, hanya serpihan debu diantara angkasa. Tapi justru itulah, yang membuat manusia spesial. Kita tidak ditugaskan untuk misi khusus seperti setan atau malaikat, jadi semua terserah kita. Kita mau berbuat apa selama kita hidup di batu raksasa yang kita namakan “Bumi” ini?</p> <p>Ada orang yang peduli dengan Bumi ini. Ada pula orang yang serakah berjalan diatas Bumi ini. Mereka yang serakah sebenarnya bukan tidak peduli, hanya saja tidak tahu cara kehidupan bekerja, yakni, meski kita semua bakal jadi debu, paling tidak kita bisa berusaha merawat Bumi ini untuk anak cucu kita, generasi masa depan. Kalau kamu tidak berpikir demikian, it’s okey, lambat atau cepat, saat tua kau akan menyadari itu, adalah sebuah Harapan.</p> <p>Jangan remehkan harapan, karena itu salah satu motivasi terpenting nenek moyang kita mengusir penjajah. Dan hey! Itu masih relevan dengan sekarang. 20 tahun hidup, dan aku masih berharap kalau besok akan jauh lebih baik dari sekarang. Meski kenyataannya, semuanya berjalan dengan sangat lambat.</p> <p>Bagaimana dengan rentang hidup manusia? 10 tahun masa kanak-kanak ditambah 20 tahun masa remaja kemudian 30 tahun berumah tangga hingga tersisa masa pensiun. Dengan waktu yang “singkat” itu, kerap kali kita menemui impian seseorang yang awalnya menggebu lalu menciut hingga sebutir jagung. Astaga, lalu buat apa hidup? Mungkin benar, manusia yang sejatinya serakah. Sudah dikasi makanan, oksigen, tempat yang gratis, masih saja ingin menguasai dunia, padahal waktu di bumi sangat cukup singkat. Bagaimana bisa demikian?</p> <p>Harapan. Itulah jawabannya. Manusia percaya apabila kau pergi menuju bulan, paling tidak kau bisa jatuh diantara bintang. Dan satu hal yang dapat aku simpulkan selama hidup 20 tahun ini, ialah, tidak masalah tujuan kita kemana, mau jadi Presiden, Astronot, Ilmuwan, Maestro atau Arsitek – semuanya sama. Yang membedakan ialah, dalam prosesnya, apakah kamu tokoh protagonis atau antagonis di atas muka bumi ini? Apakah kamu membantu bumi ini terpelihara atau malah merusaknya? Coba pikirkan sejenak.</p> <p>Ingat, pikiran manusia adalah selalu subjektif. Bahkan penjahat pun masih punya Hati. Kau harus ingat, bahwa perlakuan jahat akan pasti membakar diri yang awalnya baik. Begitu cara hidup bekerja, karena sejatinya, semua manusia di muka bumi ini sama, yang membedakan hanyalah isi otak dan memorinya. Dan itu lah kuncinya,</p> <p>Mungkin salah satu pembaca disini pernah berpikir deep sedalam seperti ini, buat apa sih hidup kalau cuma sesingkat ini? Kemudian pengalaman hidup singkatku mengatakan, it’s okey, percayalah, banyak orang sana yang sedang memanjat impian mereka masing-masing. Meski impianmu dan mereka masih sama jauhnya diatas sana, kau tetap bisa bantu banyak sekali orang dalam prosesnya.</p> <p>Alhasil, meski impianmu terlahap oleh waktu, namun paling tidak masih ada ratusan impian lain yang tercapai berkat dirimu, dan 100 impian itu jauh lebih baik daripada satu, kan?. Inilah cikal bakal kenapa orang bilang, <em>proses jauh lebih penting daripada hasilnya</em>.</p> <p>So, Selalu isi otakmu dengan kebaikan, untuk bumi ataupun manusia, sehingga isi otak mu akan dipenuhi oleh memori yang baik. Tujuanmu didunia ini masih jauh, tapi paling tidak, kau bisa bangga bahwa tidak hanya impianmu saja yang akan tercapai, berkat kerja kerasmu. Percayalah.</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Produktif Selama WFH</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/produktif-selama-wfh.html"/>
  <updated>2020-05-01T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/produktif-selama-wfh</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Work From Home, alias WFH. Sepertinya kita bakal kepenjara dirumah sendiri sementara waktu. Aku tahu, masa-masa seperti ini kek susah gitu cari kerjaan. Tapi! Paling tidak otak harus tetep disuplai selama dirumah, jangan sampai penggunaan otak menurun gara-gara tidak ngapa-ngapain. Tapi caranya?</p> <h2 id="hal-yang-paling-gampang">Hal Yang Paling Gampang</h2> <p>Hal yang paling mudah untuk dilakukan itu jelas: salurkan kreativitasmu. Kreativitas lo yah, bukan Hobi. Anime, film, novel, ngegame juga termasuk hobi, aku suka juga. tapi itu hobi pasif; buat entertainment saja, selingan kalo jenuh. Kalo kamu punya bakat yang menghasilkan kreasi, kamu salah satu anak yang beruntung banget. Lakukan saja, asah terus sampai berkembang, meski hanya sebatas mengasah skill dari rumah.</p> <p>Dan video fresh dari CGP Prey ini cocok buat mu lebih produktif lagi:</p> <iframe width="100%" height="360px" src="https://www.youtube.com/embed/snAhsXyO3Ck" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen=""></iframe> <h2 id="untuk-yang-mediocre">Untuk yang Mediocre</h2> <p>Kalau hidupmu sebelum masa COVID aman-aman aja, rasa kebutuhan buat berkreasimu mungkin rendah saat itu. Aku tahu, gadget sekarang lebih dominan daripada tatap muka. Tapi, aku sudah bilang di <a href="/menanggapi-covid">artikel sebelumnya</a>, sangat penting untuk memanfaat waktu luang banyak ini semaksimal mungkin. Kalau kamu masih merasa selama COVID ini kamu bakal aman-aman saja, okelah, lanjutkan saja yang biasa kamu lakukan. Toh kita semua juga sama-sama tetep berharap kalau pandemi ini bakal selesai.</p> <blockquote class="twitter-tweet"><p lang="da" dir="ltr">reminder 🌱 <a href="https://t.co/v9jjTMpwUL">pic.twitter.com/v9jjTMpwUL</a></p>&mdash; vivian🌷 (@vivsdraws) <a href="https://twitter.com/vivsdraws/status/1215310234765471744?ref_src=twsrc%5Etfw">January 9, 2020</a></blockquote> <script async="" src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script> <p>Namun, buat kalian yang kepikiran untuk mengasah skill baru, atau yang sudah kepikiran dari sejak 2020 Wish List: Ini adalah waktu yang tepat. Jika dipikir-pikir, ini juga termasuk salah satu jawaban dari orang-orang yang sebelumnya suka ngeluh tidak punya waktu buat hal hal semacam itu (hehehe, bercanda, teori konspirasi mungkin?).</p> <p>Tapi bagaimana kalo kamu memang butuh skill baru tapi tidak punya gambaran langkahnya bagaimana? atau mungkin kamu bahkan tidak tau hobi yang bermanfaat dan cocok untukmu? <em>Well</em>, ada banyak jalan menuju ke Roma. Namun jalan yang paling efektif (menurutku) ialah belajar otodidak atau dari teman. Lebih efektif lagi kalo kamu juga ngajarin hal itu atau praktek sendiri setelah itu.</p> <p>Jika kamu masih bingung memilih mana yang kamu ingin terjun, cobalah lihat hal apa yang kamu suka pas masih SD. Jika masih gak tau juga, <em>it’s okay</em> mencoba beberapa hal sekaligus, lalu lihat mana yang kamu suka. Ingat goal utama kita adalah tetap membuat otak berfungsi meski dihari yang paling monoton sekalipun.</p> <h2 id="untuk-yang-sedang-memikirkan-ekonomi">Untuk yang sedang memikirkan Ekonomi</h2> <p><em>Well</em>, tidak semua orang bisa survive dengan hanya diam saja di rumah. Ada yang harus tetap kerja dan menyambung nafkah disaat hal yang tidak mendukung seperti sekarang.</p> <p>Tapi aku tahu, Meski kamu bukan termasuk kategori yang butuh suntikan ekonomi, aku tahu beberapa orang bahkan tidak selera untuk berbuat apa-apa, kecuali jika manfaatnya benar-benar ada. Buat kalian yang bermindset demikian, cobalah mengasah skill baru itu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, yakni untuk keperluan ekonomi disekitar kamu.</p> <p>Tapi, Ingat, situasi seperti ini kau harus tetap jaga kesehatan. Itu yang penting. Dan bagaimanapun juga, untuk kebanyakan orang masalah ekonomi bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan juga.</p> <p>Dengan memperhatikan <em>disclaimer</em> diatas, satu tips buat kalian jika ingin tahu bagaimana sebuah bisnis bekerja, ialah bisnis itu tidak jauh seperti mengadu usaha dan tenaga untuk sebuah keberuntungan.</p> <p>Dan, <em>hey!</em> Ada pepatah bilang, keberuntungan itu hasil antara persiapan dikali dengan kesempatan.</p> <p><img src="https://i.kinja-img.com/gawker-media/image/upload/c_scale,f_auto,fl_progressive,q_80,w_800/18u784oxylrvtjpg.jpg" alt="" /></p> <p>Jadi, okelah kamu mencoba hal-hal baru terus menerus, tapi kelak kau pasti akan bertemu titik dimana kamu stuck, tidak tahu apa yang bisa diimprovisasi lagi. Itulah dimana kesiapan kamu sudah cukup luas, tinggal kesempatan yang mengikuti kamu untuk tetap terus produktif dan berkarya. Bagaimana caranya? Tentu dengan membagikan hasil karyamu, dan juga berbagi tips &amp; trik, atau lebih baik lagi, mengajarkan hal itu untuk orang lain atau bahkan menciptakan bisnis baru dari hasil karya itu.</p> <p>At the end, jika kau berani untuk berbagi atas karyamu yang dihasilkan dari skill baru itu, tentu ada feedback loop yang akhirnya bikin kamu produktif terus menerus meskipun dihari yang monoton. It’s okey apabila kau gagal, atau tidak ada yang mengapresiasi karya hasilmu, yang penting kau harus terus berusaha (agar otakmu terus produktif).</p> <h2 id="contoh-nyata">Contoh Nyata</h2> <p>Oke teori atas seperti menjajikan, tapi adakah contoh nyata atas teori itu?</p> <p>Sebenarnya banyak contohnya yang tidak kita sadari. Aku pun sama. Namun aku melihat beberapa orang yang berhasil beradaptasi di masa membosankan ini. Contoh saja pas bulan ramadhan ini, aku lihat beberapa rekan membuat camilan takjil dirumah untuk dijual online melalui WA, dan hey! Itu cukup laris ternyata. Jadi, itu adalah hasil dia belajar skill baru dan beradaptasi di tengah pandemi. Jadi, sekali lagi,</p> <blockquote> <p><strong>luck = preparation × opportunity</strong>.</p> </blockquote> <p>Oh, dan tentu buat kalian, hal seperti ini adalah gaya hidup baru, the <em>“new normal”</em>. Dan sebenarnya, ekonomi tidak hanya mempersoalkan uang, namun bagaimana tiap orang dapat bekerja untuk memenuhi kehidupan setiap orang, saling bahu-membahu. Jadi, <em>please</em>, buat kalian yang diam saja dirumah, waktunya kalian untuk berkreasi, ciptakan the <em>“new normal”</em> dan bagilah hasil karyamu agar semua orang bisa ikut produktif lagi minimal sampai pandemi ini selesai.</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Menanggapi COVID-19</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/menanggapi-covid.html"/>
  <updated>2020-03-29T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/menanggapi-covid</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>3 minggu Indonesia dalam situasi gawat COVID. Melihat situasi ini, aku jadi berpikiran kalau itu perlu penanganan yang genting.</p> <p>Dampak signifikan yang terjadi padaku ialah: Kuliah <em>ditiadakan</em> dan <em>lockdown</em> secara <em>bertahap</em> oleh pemerintah. <em>Yeah</em>, aku tahu memang tidak semuanya diterapkan 100%; yang harusnya ditiadakan berubah jadi kuliah online, yang seharusnya lockdown belum dilaksanakan sepenuhnya (karena daerah bersangkutan belum “merah” atau pemerintahnya masih setengah2 halu memilih tindakan).</p> <p>Melihat kondisi ini, apa yang harus aku lakukan? <em>Well</em>, aku sudah mengganggap ini hal yang genting. Tapi aku tidak pulang kampung. Banyak yang tanya kenapa aku nggak pulang kampung? Tapi yang jelas, di rumah aku tidak bisa ngapain2, karena kalau dirumah, aku tak bisa mengerjakan apapun (selalu diganggu saudara kecil). Jadi pelarianku biasanya ke warkop. Apa hari gini bisa ke warkop? Nggak kan.</p> <p>Disini, di pondok, aku cukup betah. Berkah kalo bisa aku bilang. Meski akses keluarnya dibatasi. Bagiku tidak masalah, karena kantin masih jalan, WiFi listrik air masih jalan lancar juga. Makanan di koordinir, bergiliran masak (dan sekarang lebih efektif karena tidak ada yang makan keluar). Kalo mau ke toko ingin beli sudah ada koordinirnya juga. Jamaah apalagi, tentu masih jalan. Apa yang kurang? Mungkin aku bisa berencana untuk mudik mendekati lebaran, tapi keknya tidak mungkin apalagi kalau suatu saat status daerah merah semua….</p> <p>Ganti topik ke masalah sebelah, <em>yeah</em> kuliah online. Entah, lama-lama topik itu menjadi-jadi. Mungkin oke beberapa dosen ada yang respect gak ngasih tugas berat. Tapi sampai kapan? Toh kuliah online tetep harus jalan mau tidak mau. Dan ini problemnya, dan aku sudah bulat bahwa selama wabah ini masih berlangsung, lebih baik aku vakum dari semua tugas dan kuliah online. Ini demi kesehatan mentalku, aku tidak mau dibebani tugas yang tidak penting dan tidak jelas. Meski konsenkuensinya ngulang setahun lagi tapi hey, ini pandemi global! Kenapa masih mikirin tugas kalau dunia dalam ambang kiamat!</p> <p>Dan masalah UKT, buat kalian kalo masih mengomel kenapa gak ada cashback. Iklashin aja lah. Aku gak keberatan juga kalaupun kuliah libur sampai sampai 2 tahun (SARS 2003 kemarin selama itu btw). Ingat saja ini menyangkut perekonomian negara juga. Kalau UKT berhenti nanti dosen digaji pakai apa? Inget dah dosen itu pekerjaan tetap dan itu belum nanggungin kebutuhan keluarga mereka. Jadi iklashin aja anggap itu sedekah kalian biar ekonomi negara ini gak anjlok lebih parah lagi.</p> <p>Oh ya, dan buat kalian yang gajinya hedon (lebih dari cukup buat jajan sendiri), please lah, suspend dulu itu tabungan impian, silahkan donasikan ke yang lebih membutuhkan: RSUD, Galangan Dana, Badan Zakat, atau apalah itu. Intinya meski kalian bukan dokter, gak bisa bantu di lapangan, minimal kasih suntikan buat ekonomi negara ini tetep jalan, agar dokter-dokter nggak kesulitan dana. Btw aku ngomong gini gak dengan omong kosong. Aku juga sudah donasi (gak perlu aku sebutin berapa, DM aja kalo gak percaya) dan akan lanjut demikian jika kondisi negara ini belum pulih juga.</p> <hr /> <p>Jadi selama vakum ini, apa yang aku lakukan? Kembali ke situasi dahulu kala saat aku vakum kuliah. Menghidupkan kembali <a href="https://assetstore.unity.com/publishers/11882">project lama</a> yang tertunda bertahun-tahun. Lagipula hey! dollar sedang naik drastis. Waktunya aku memancing kembali recehan dari paman Sam. Yah, memang termasuk beruntung sih industri gaming sekarang malah laris disituasi wabah gini (maka dari itu vakum kuliah masuk akal sekali bagiku).</p> <p>Bagaimana dengan kalian? <em>Yeah</em>, aku lihat netizen makin aktif saja upload story belakangan ini. Baguslah daripada kalian keluyuran. Tapi dengan berat hati, itu juga menyeretku menjadi tak produktif. <em>Hohohoho</em>, jadi menanggapi wabah ini juga, aku <em>uninstall</em> banyak social media, terutama WhatsApp dan Instagram. <em>Dont miss me!</em> Aku masih bisa dijangkau dengan <a href="https://t.me/wiiin0de">Telegram</a>. Dan orang tuaku masih bisa komunikasi pakai telepon biasa. Kalian tahu, bagiku perubahan ini membuat jati diriku terasa kembali. Tenang, produktif, tanpa tanggung jawab yang mengekang.</p> <p>Jika ada satu bait pesan untuk kalian menghadapi wabah ini, ialah selalu <em>positive thinking</em>. Kalian tahu dampak positif dari wabah ini, polusi berkurang dan semacamnya. Kalian harus percaya lebih pada itu, jangan sering-sering melirik ke berita negatif, karena itu membuatmu khawatir yang berlebihan. Jika kalian penasaran, kalian bisa lepas dari handphone, berhenti sejenak dari hingar bingar sosial media minimal 24 jam, kalian akan tahu betapa tidak pentingnya berita-berita itu.</p> <p>Karena yang yang terpenting itu, adalah dirimu. Saat aku vakum dulu, aku bukan siapa-siapa, dan tidak ada siapa-siapa mencari. Dan sekarang, terulang lagi. Kita semua punya banyak waktu luang sekarang. Okelah kita rebahan sejenak. Tapi mau sampai kapan? Akankah waktu luang yang bisa sampai berbulan-bulan ini kau buang sia-sia?</p> <blockquote> <p><em>When there’s no one left to care, what will you do?</em></p> </blockquote> <p>Kau punya banyak waktu untuk mencari lebih dalam, tentang siapa dirimu: Seniman? Perancang? Aktor? Kau tidak akan pernah menyukai apapun sebelum menyelam lebih dalam.</p> <p>Manfaatkan situasi seperti ini. <strong>Think positive and stay safe.</strong></p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>I'm Proud of 2019</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/im-proud-of-2019.html"/>
  <updated>2019-12-31T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/im-proud-of-2019</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<blockquote> <p>PDF Tersedia. <a href="https://drive.google.com/open?id=1lXAwmAaDv0ZW2mW6dVdb_qm3YI7by5F1">Download Disini</a></p> </blockquote> <p>Satu dekade akan berakhir. Milenial ketigaku akan dimulai. Namun sebelum dekade ini berakhir, aku ingin bercerita, perjalanan “singkat”-ku selama satu dekade ini, dan mengapa aku sangat bersyukur akan hal itu.</p> <h2 id="flashback">Flashback</h2> <p>Awalnya, aku bukan siapa-siapa, hanya anak kecil yang maniak game. Akan mau jadi apa aku? Aku tidak tau saat itu. Tapi keingintahuanku dan doronganku tuk berubah cukup besar, entah dari mana semangat itu membara, namun itu sangat mendidikku untuk menjadi apa yang aku inginkan hingga detik ini.</p> <p>Tahun 2010, aku ingat itu, pertama kali ikut olimpiade kemenag se-kabupaten langsung menang juara I. Siapa tahu itu bisa terjadi? Berjabat tangan dengan bupati Jombang kala itu, dan piala serta uang pertama kali bermodalkan latihan modul UN? Atau karena Pak Suliadi, pak Arif, bu Im, dan banyak guru MI ku lainnya yang sering membimbingku dengan belajar dan latihan rutin tiap minggu? Ataukah karena dukungan teman-teman seperti Yuyud, Fatih, Chusni dan banyak classmates lain yang tidak bisa aku sebut satu persatu?</p> <p>Aku mungkin belum tahu saat itu bahwa hal kecil waktu aku duduk di MI, merupakan hal yang cukup luar biasa bagi mereka. Saat itu aku mengganggap enteng panggilan <em>si anak kecil cabe rawit</em>. Padahal masa kali itu aku masih suka cengeng, emosial, pendiam, bahkan aku pernah dimintai foto bersama saat penyelenggara tryout datang ke sekolahku karena aku juara, padahal saat itu aku sedang nangis di kelas!</p> <p>Tahun 2012 berlanjut. Kelas Akselerasi MTsN Denanyar. Waktu itu aku dapat “tiket emas” hasil memenangkan lomba disana, dan kebetulan saat itu adalah angkatan pertama juga. Menurutku menariknya bukan bagian itu, disini, ketentuannya ialah wajib pondok, dan ternyata disitulah mentalku ditempa! Enam bulan pertama mungkin terasa seperti neraka. Awalnya pendiam dan suka cengeng, namun lambat laun aku dapat berbaur. Apa karena sahabatku seperti Rozan, Hakam, Obey, dan banyak lain yang sangat akrab membuatku bertahan? Atau kah pak Irwan, pak Sandi dan pengurus pondok lainnya, yang sering mendidikku dengan kajian kajian, yang selalu sabar menyimak setoran dari santri? Atau kah pak Arif, pak Rino, bu Rohmah dan guru-guru MTsN lain yang sering memberikan pelajaran serta motivasi di tiap pertemuan kelas? Atau kah karena doa dan barokah dari abah dan nyai pengasuh pesantren yang kami sowani?</p> <p>Ada banyak faktornya. Namun yang penting, kemandirianku semakin baik kala itu, semakin betah dan terbiasa. Apalagi dengan kehadiran WiFi on 24 jam, sahabatku bermain game, aku sering asik sendiri belajar ngoding. Hebat, Entah bagaimana inisiatifku sampai seperti itu. Saking asiknya guruku pernah bilang “Wildan dan laptop seperti satu hati, kalau diputus hilang nyawanya” dan memang aku selalu bawa laptop kemanapun aku membawa tas, sebuah kepribadian awal yang aku sukai dan gak pernah padam. Ditambah lagi, sahabatku yang suka jaim, mengarahkan mentalku yang serba polos, suka mencari kesempatan dikala kesempitan bahkan melanggar peraturan asal tidak ketahuan. Aku sangat masih bisa merasakan jasa sahabat dan teman yang berada disekitarku saat itu, bahkan untuk semua kegiatan pondok yang sangat membebani, meski sudah hilang semua ingatan ku bernadhom namun satu hal yang tidak pernah aku lupakan, ialah berkat mondok aku dapat membaca Al-qur’an tanpa patah-patah. Itu jasa yang tiada harganya bagiku.</p> <p>Tahun 2014 berlanjut. Kelas regular di yayasan yang sama. Awalnya kecewa memang karena tidak lagi masuk kelas “akselerasi” namun setelah mengerti aku benar-benar harus sujud syukur masuk kelas biasa dan bisa berkecimpung di ranah Prodistik. Prodistik ini unik, seperti tiap tahun ada perlombaan baru yang menguras pendanaan sekolah. Mulai dari poster hingga robotika semuanya harus diikuti. Aku dan Bu Idho, guruku yang sering menghandle prodistik sudah seperti rekan akrab, termasuk teman-teman prodistik lain, Mas Zaky, Mbak Nezya, Rikudo, Ubed dan banyak lain yang gak bisa aku sebutin satu-satu. Tidak cuman berpartisipasi, aku juga ikut andil buat belajar dan ngajarin banyak hal, baik itu Flash, Excel, Robotika maupun Android. Memang capek! Tapi sangat bermanfaat, melatih caraku bercakap agar bisa sharing ilmu tanpa sambat. Dan bagaimana aku bisa menyerap lebih cepat konsep baru daripada orang lain, aku tidak pernah tau mengapa, mungkin karena berbagi Ilmu? Anyway, itu merupakan senjata utamaku untuk berkecimpung di dunia IT lebih cepat.</p> <p>Dan kehidupanku yang lain dimasa itu? Mulai banyak. Aku belajar jadi orang sibuk (dan nakal) waktu itu. Antara masuk kelas yang selalu press, sering telat hingga sering kena sanksi karena atribut seragam gak lengkap. Belum lagi mensiasati situasi hingga lepas dari pengawas “BK killer” pak Muji dan Alm. Kyai Mukhlis. Di kelas pun, tak ada hari tanpa jam kosong, disaat teman kelasku rebahan aku sendiri seperti biasa ngoding. Yang hebat disekolah menurutku adalah OSIS nya, meski aku tidak berkecimpung disana tapi aku kenal banyak teman yang berperan disana. Aku sendiri lebih tertarik ke ekstra seperti Jurnalistik. disitu aku selalu jadi tukang layout, meski simpel tapi aku pernah sampai mengorbankan waktu seminggu liburan UN kakak kelas buat nyelesaikan layout yang deadline nya gak realistis itu.</p> <p>Jangan lupa keterlibatanku pada lomba. Disini, aku mungkin merupakan pioneer. Bukan berarti sombong atau apa, namun Bu Idho pun bersemangat membantuku untuk terjun ke lomba-lomba IT. Hal yang belum pernah aku dapatkan di bangku MTs sebelumnya. Di Procommit, lomba tahunan Prodistik itu, tiga tahun aku ikut andil. Awal tahun aku gagal, well bukan salahku karena poster memang hal baru, dan aku tidak tau selera juri seperti apa. Tahun kedua di media pembelajaran Flash, timku juara satu, Tahun Ketiga pemrograman Excel, juara dua. Aku perkenalkan singkat karena yang spesial bukan disitu, namun dua spin off lomba yang aku ikuti. Pertama, lomba di SMK-TI Tambakberas, meski juara I gamedev di tingkat kabupaten, disitu adalah perkenalan pertamaku dengan Mas Galih Kubat (aku tidak kenal banyak saat itu sampai masuk kuliah nanti), dan kedua, Lomba Mobile Edukasi Kemdikbud, meski cuman finalis, hal itu berkesan banyak karena lomba bergengsi Tingkat Nasional, dan tidak menyangka aku bisa menginap di hotel gratis saat itu.</p> <p>Anyway, selepas semua itu 2017 is masa the best. Lulus dengan membawa nama <em>“Tugas Akhir terbaik”</em> dan <em>“IP tertinggi”</em> satu angkatan, serta oleh-oleh kain batik hijau yang masih kupakai sampai sekarang. Sedikit Intermezzo, bahkan saat sidang tugas akhir untuk mendapatkan sertif D-1 ITS itu, guru2 IT disitu berspekulasi banyak <em>“Ya pastilah sidang e lancar pengujine anak e Idho’ dewe”</em> wkwkkw padahal itu aja tidak disengaja karena sobat karibku Obey tukar jadwal dengan aku. Tapi ya memang, banyak tugas akhir teman-teman yang aku bantu saat itu, dengan berbagai jenis aplikasi yang mereka gunakan, aku layani semua.</p> <p>Jadi, jika kamu anggap aku <em>“demi-god IT”</em>, jangan heran, karena pengetahuan IT ku start lebih dulu, dan ditambah terjun ke dunia Prodistik, bertemu dengan demand tinggi, pengetahuan IT ku meroket bersama soft skill belajar dan mengajarku. Ahhh kembali ke penyataanku diatas, aku harus sujud syukur atas “dilema” yang justru membawa kesuksesan.</p> <p>Apakah sesudah itu ada dilema kembali? Iya, kesalahanku sendiri melihat egoku terlalu tinggi, SNMPTN dan SBMPTN ku tidak lolos ditahun itu. Mandiri? Nggak kuambil, duit yang dibakar percuma. Aku memutuskan untuk nggak ambil ribet dan menunggu nasib ke SBMPTN tahun depan. Mengisi kekosongan? Ya, sesudah wisuda, aku tetap sesekali mampir ke sekolah membantu adik kelas persiapan untuk lomba <em>Procommit</em> berikutnya, keseharian seperti biasa. Selain itu, aku belajar website. Akhir tahun 2017 aku beli domain <a href="https://wellosoft/net">wellosoft.net</a> dan mempelajari cara kerja Domain Sampai ke SEO seolah olah aku merawatnya sendiri sejak bayi.</p> <p>April 2018 mendaftar SBMPTN, mengadu nasib dengan sepatu yang solnya bahkan jebol, voila! Aku diterima di pilihan pertama, UTM!</p> <h2 id="mahasiswa">Mahasiswa</h2> <p>Mereka berkata, jadi mahasiswa itu gak mudah. Yea, maksudku lihat saja dari ospek disini, kejam semua. Tahunku saja mungkin hampir setengah maba yang gak bisa mengikuti rentetan acara sepenuhnya. Aku tidak tau mereka yang bisa mengikuti sampai tuntas diisi makan apa mentalnya, tapi kalau aku, <em>“bodoamat yang penting aku gak mati!”</em>, sayang karena itu aku gak pernah jatuh pingsan sampai diurusin mbak-mbak sie Kesehatan wkkwk.</p> <p>Semester satu seperti Maba lainnya. Masih sangat bersemangat. Mungkin termasuk “keberuntungan” atau bukan, tapi kelasku kebagian dosen killer yang rumornya pernah tidak meluluskan setengah dari kelas kakak tingkat. Menurutku? Well, sebuah kesempatan. Jurusanku Teknik Informatika. Programming adalah makananku.</p> <p>Intermezzo untuk jurusan, aku dapat banyak saran dan pilihan. <em>Teknik Informatika</em>, <em>Teknik Komputer</em>, <em>Sistem Informasi</em>, <em>Pendidikan Informatika</em>, Teknik Informatika yang masuk Departemen Elektro. Heuh banyak jenisnya dan bikin pusing. Namun setelah dapat banyak informasi sampai ke silabusnya, aku paham kalau PIF untuk guru. TI masuk ke algoritma, TK masuk ke sistem dan SI masuk ke data. Setelah itu aku selalu target ke TI gak pernah ada niat banting stir ke jurusan lain.</p> <p>Lanjut ke dosen “killer” ini. Aku tak tau apa aku dimata temen-temenku, tapi tiap malam kamis aku sering begadang menduplikat tugas coding ku, lalu share langsung ke grup WhatsApp dan voila, aku tak peduli apa yang mereka lakukan, toh jawabanku sendiri sudah aku bumbui dan dijamin bebas plagiasi. Aku dapat A dikelas itu dan beberapa teman lain yang “aktif” lainnya. Anyway yang perlu kamu tahu, bahkan sebelum aku masuk kuliah aku niat mencari relasi. Nilai? Mungkin penting, tapi aku gak muluk muluk, jikalau aku menggapnya demikian aku sudah bungkam dari awal, “Buat apa susah-susah? kerjakan 10 menit lalu tinggal tidur saja” Namun aku tau 10 menit aku mengerjakan itu mungkin setara dengan satu dua jam mereka mencari jawaban yang sama. Lagian, hey! Aku dapat karma baik, seperti ujian ku di mata kuliah lain dibantu mereka tanpa aku minta. Aku mengerti dari sini teamwork (dalam curang) kadang lebih penting, tanpa demikian kau mungkin tak survive tanpa benjolan (pusing) di kepala dengan matkul segitu padatnya.</p> <p>Well, semua itu gak mungkin berjalan lancar tanpa sobat karibku di kelasku apalagi <em>Prafinda</em>, <em>Fuad</em>, <em>Iffa</em>, <em>Rio</em> dan classmates lainnya, mereka membantu banyak juga, atau paling tidak bikin aku peka terhadap temen. Memang menurut buku “panduan memilih teman”, beberapa orang termasuk orang yang mampir saat butuh doang, namun tidak ada yang bisa tau masa depan! menurutku teman adalah teman, asalkan aku bisa memfilter mana saat bagian baik dan buruknya mereka. Jalan mereka ya jalan mereka, tapi aku tetap tidak boleh lengah untuk apa yang aku butuhkan.</p> <p>Bagaimana dengan semester 2? semester 3? Tidak banyak berubah, motifnya mirip saja, hanya saja, yes lebih banyak jangkauan relasiku. Lama-lama sampai satu angkatan, atau kakak tingkat terkadang, karena di UTM kelas gak pernah dipaket. Dirana lain juga, karena organisasi atau bekas ospek, aku sering membantu jurusan sebelah seperti SI atau Industri.</p> <h2 id="organisasi">Organisasi</h2> <p>Keikutsertaanku pada organisasi agak kontroversial. Maksudku aku baru paham bagaimana organisasi bekerja dari masuk kuliah. Namun ditimbang dari kacamata orang, mendalami ranah organisasi lebih bermanfaat juga untuk relasi, secara jangka panjang. Dan benar saja, pengalaman pertamaku untuk acara IFAN, alias acara makrab sebagai tahap final ospek prodi, adalah jadi anggota sie PDD. Aku jadi paham proses penyusunan proker dan semacamnya. Lagipula, dari situ aku gak pernah melenceng dari sie itu wkwkwkw.</p> <p>Dari perspektifku, organisasi bisa menjadi tombak berbilah dua. Yang jelas, aku gak pernah ingin berpartisipasi di organisasi eksternal atau yang ketat, PMII, HMI, BEM, atau bahkan Organda sekalipun. “Too heated”, terlalu mengikat dan terlalu berpolitik. Ingat ini bukan mengritik, hanya selera pribadiku saja yang memang gak suka untuk diatur. Himatif? Warga Lab? Organisasi yang masuk kawasan “gray” menurutku, community yang “warming”, namun tuntutan komitmennya, namun aku memilih menghindar juga. bukan karena tidak ingin, namun usaha dan tujuan tidak seimbang. Sekali lagi aku susah buat diatur.</p> <p>Organisasi intra kampus, atau UKM yang aku pilih berkecimpung adalah UKMFT-ITC, yea karena diharuskan (syarat rentetan ospek) dan itu UKM yang paling populer di jurusan informatika. Kau tau mengapa Januari lalu aku mendaftar sebagai pengurus? alasan utama karena aku berhutang budi dengan Mas Bimo, alasan kedua, <em>curious</em>. Intermezzo, November 2018 saat dia masih menjabat sebagai Litbang aku dan tim bertiga ditemani juga dengan Mbak Sherly (juga Litbang) untuk lomba yang <em>tidak pernah aku seriusin</em> di Purbalingga Jateng. Kau tahu rencana <em>official</em> disana? Jalan-jalan. Kau tau apa yang direncanakan oleh Litbang? Hal-hal yang tak pernah aku terfikirkan sebelumnya, dari tiket kereta, makanan, motel hingga ojek. Berapa banyak uang kas dijebol? Paling parah lagi, pakai apa aku menggantinya kalau aku ternyata hanya balik dengan tangan kosong? Entah mas Bimo sadar atau tidak (aku sendiri tidak menyadari juga aku separah saat itu) tapi hal kecil inilah menurutku, sangat elemental, sesuatu yang harus aku pelajari. Saat Mas Bimo menjadi ketua umum 2019 aku positif ikut serta dalam periodenya untuk balas budi yang sepadan.</p> <p>Di periode ke-2 ini, mungkin aku mundur dari organisasi, dan beralih fokus ke hal yang baru dan lebih berdampak secara personal, seperti pengurus pondok yang aku tempati sekarang dan pengurus alumni (IKAPPMAM), aku merasa ada banyak demand dan kerjaan yang harus aku tuntaskan disana. Periode selanjutnya mungkin (mungkin loh) bakal vakum total dan lebih fokus ke projek, hal yang gak pernah luput dari keseharianku….</p> <h2 id="project">Project</h2> <p>Dikacamata kebanyakan teman, aku merupakan orang sangat sibuk dengan berbagai macam projek yang aku kerjakan. Sebenarnya itu tidak muncul saja dari kesibukan kuliah ini. Namun justru jauh kebekalang, masa masa MTs. tahun 2015, aku mulai tahu bahwa aku bisa profit dari project:</p> <p>Setelah setahun bergelut dengan game in-house ku sendiri, aku berpikir mau dipublish kemana? Awalnya aku bagi percuma ke website Wordpress ku, namun aku punya ide liar, mengupload file mentahnya ke Unity Asset Store, termotivasi oleh rasa penasaran. Pertama kali upload aku rasa agak ribet, harus menyesuaikan sama standar kualitas sana, tapi enaknya, bebas biaya pendaftaran gak seperti Play Store. Entah apa yang merasukiku, aset pack berisi 10 tekstur yang sebenarnya gak ada harganya aku jual 5$. Sat set sat set, April 2015 produk itu online, dan Lucky! Aku dapat 7 pembeli di bulan yang sama. High Quality, kata reviewnya. Jadi itu adalah dolar pertamaku, 35$ dipotong 30%, aku bilang kepada ayahku untuk dibuatkan akun Paypal. Tentu karena aku belum punya Rekening Bank jadi uangnya pasti mengalir ke rekening ke ayahku.</p> <p>Namun 35$ dipotong 30% itu kecil, dan bulan-bulan berikutnya mungkin satu atau tiga, atau bahkan gak ada, jadi gak banyak yang bisa diharapkan. Tahun berikutnya adalah pengecualian. Setelah selesai dengan lomba Kemdikbud aku ingin membuat media edukasi lagi namun tidak ada ekstensi (bahkan yang berbayar) yang membuat rumus matematika secara realtime, jadi aku buat sendiri dengan algo yang dijiplak dari projek lain aku cari diinternet. Januari 2016 meluncur dengan label <em>TEXDraw</em> dibadrol seharga 15$. Dan diluar dugaanku, cukup laris! Banyak orang asing mengirim email, aku jadi aktif di forum. Mereka menginginkan banyak sekali fitur tambahan. Sejak saat itu banyak waktu aku curahkan untuk TEXDraw, merangkak dari 15$ hingga 50$ harga sekarang.</p> <p>TEXDraw adalah <em>pioneer</em> bagiku. Meski bahkan aku meluncurkan produk tambahan seperti <em>Engine4</em> dan <em>Camera Projecter</em>, TEXDraw masih menyumbangkan lebih dari 50% profit dari total produk di Asset Store untuk keluargaku. Dan yap, dari maksud “keluargaku” adalah dana itu benar-benar tidak masuk ke dompetku. 100% dikelola oleh ayahku sendiri, dan dana itu cukup besar! Tiap bulan seminim-minimnya penghasilan adalah 100$, musim biasa biasa di angka 200$ atau 300$. Kalau saat musim promosi bisa sampai 400$ atau bahkan 700$ dalam satu bulan. Total kumulasi dari 2016 hingga sekarang? Tembus diatas 10K US$, alias diatas 100 juta, dan aku masih mengganggapnya “uang tambahan”, uang tambahan yang sangat membantu ekonomi. Beruntung sekali orang tuaku cukup bijak, meski uang itu tidak disimpan, cukup digunakan untuk bayar hutang dulu dan selebihnya diinvestasikan untuk sekolah PAUD yang orang tuaku rintis sendiri sejak aku kecil.</p> <p>Saat masa vakum, aku masih bebal. Kau tahu kenapa aku vakum? Bukan karena orang tuaku tidak mampu, apalagi dengan salary sebesar itu, sangat mampu sekali. Orangtuaku memberikan opsi, namun aku tak mengambilnya. UTM adalah Universitas Negeri dengan biaya mandiri termurah, tapi bisakah dengan kuliah saat itu juga, kembalikan uang 15 juta yang raup entah kemana? Tidak mungkin terjadi dalam satu tahun. Jadi lebih bijak kataku untuk menunggu satu tahun. It’s okey, lagipula aku sudah memperpendek satu tahun lewat kelas Akselerasi masa MTs!</p> <p>Saat aku vakum, aku sering main sama teman yang juga belum kuliah saat itu, Rifqi, Mas Zaki, dan beberapa lainnya. Mereka punya cara mereka sendiri mengisi waktu kosong. Aku? Lumayan banyak. Meski bebas dan mempunyai banyak waktu luang, aku tetap sibuk. Aku sibuk dengan domain baruku, sambil belajar website, karena bisnis lama masih berjalan. Aku ingin tampilan profesional saat itu. Diatas itu juga aku ingin tahu apa sih <em>next pioneer</em> asset yang bisa menandingi TEXDraw?</p> <p>To-do list ku saat itu cukup banyak, dan benar, bahkan sampai lanjutan SBM tiba aku masih bergelut dengan upgrade projek, dan belum ketemu sama ide next pioneer projek. It’s okey anyway karena saat perkuliahan melanda, ternyata tantanganku lebih besar..</p> <p>Apa yang disemester satu aku lakukan? Tidak lebih dari mengikuti lomba. Saat itu satu-satunya hal yang aku pikir profit dari kuliah. Namun lomba kali ini berbeda dengan yang biasa aku ikuti, seperti lomba adu ide, dan aku tau otakku paling buruk kalau bikin ide yang bagus (lihat saja tahun kemarin). Tiga kali ikut kompetisi programming? Tiga kali gagal juga. frustasi terkadang.</p> <p>Tapi hal seperti itu tidak sepenting dari pelajaran teamwork, yang justru mengarahku ke jenis karir yang baru. Aku, Mas Suluh dan Mas Ain. Kami bertiga bertemu untuk lomba yang sekali lagi, gagal meski mencapai final, itu perlombaan yang terakhir untuk pemulaan yang lebih besar: Januari 2019, selepas lomba kami bertiga “iseng” ambil project website (yeah, beruntung aku sempat vakum untuk belajar itu!) dari dosen yang tahu-tidak menahu kami kerjakan selama 4 bulan sampai kita perlu nambah bantuan dari Mas Faishol dan dibayar in cash 5 juta untuk tim. Benar-benar tidak mudah, tapi itu adalah gerbang pertamaku untuk bekerja secara professional. Anyway, project itu sangat worth-it untuk relasi dan cash baru.</p> <p>April 2019, sebentar setelah project itu selesai, project lain memanggil. Kali ini ada woro-woro dari LPPM UTM mencari mahasiswa yang pas untuk magang karena mereka butuh bantuan tangan. Yeah, beruntung lagi meski mereka cuman memilih satu, aku yang terpilih. Disini, aku dapat relasi baru dengan pak Alfian. Pak Alfian memberitahuku banyak hal tentang sistem yang bekerja di UTM, hal penting yang pastilah berguna suatu saat nanti. Meanwhile, kontrakku dengan LPPM berjalan sampai Desember ini, dan tidak lebih dari stay di kantor (sebebas aku), memperbaiki template jurnal dan jadi PDD di beberapa agenda. Yet, bayarannya sampai menutupi UKT 3 juta semester 3 ditambah Fasilitas LPPM yang nyaman sekali aku nikmati.</p> <p>Oktober 2019, aku merasa panggilan di LPPM telah usai secara tidak langsung. Just setelah itu, Mbak Rizka, rekan yang aku kenal hasil dari projek 5 juta itu, saat itu dia sedang mencari kandidat yang bisa dipercaya untuk magang di LP3MP, dan coba tebak, aku beruntung lagi, dia tidak kenal lain yang lebih cocok daripada aku, jadi yeah, relasi baru. pekerjaanku di LP3MP tidak jauh berbeda sih, namun dituntut sangat lebih disiplin. “mas buatkan desain… besok bisa jadi ya?” Gila, tapi seru. Aku belajar bahwa orang dibayar mahal untuk bisa dipercaya melakukan sesuatu yang impossible menurut orang lain. Dan tentu saja, LP3MP memang tidak membuat kontrak seperti LPPM kemarin, namun bayaranku selama itu cukup menutupi UKT ku.. lagi, bahkan lebih!</p> <p>Liburan ini, masih ada lagi baby project yang sedang mekar. Aku, Julius, Ivan, Denaya. Kita berempat merupakan tim tersakiti dengan tidak lolos di Gemastik padahal eksekusinya sudah sangat bagus (yeah, salahku juga memilih judul yang buruk). Namun justru karena itu, komitmen kami masih belum padam. Aku dan Julius sering debat untuk merintis bisnis startup apa yang cocok dieksekusi setelah tragedi itu, dan tidak lama kemudian, muncul ide <a href="https://trudigi.id">trudigi.id</a>. Ide yang cukup brilian dan sangat seru (aka. susah) untuk dieksekusi. Banyak hal yang perlu aku benahi disitu sebelum target launching datang, dan itu banyak merenggut waktu liburanku. But yeah, aku merasa sangat worth it. Trudigi adalah inisiatif yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.</p> <p>Di penghujung tahun, ada satu projek lagi yang ingin aku selesaikan, yakni menulis artikel ini.</p> <h2 id="filosofi">Filosofi</h2> <p>Dari cerita panjang itu, apakah ada intisari yang bisa kau tangkap? It’s okay juga bila tidak. Aku bahkan berharap kamu tak membaca seutuhnya, karena itu ceritaku. Aku tidak bilang kalau ceritaku unggul dibanding yang lain. Tidak berniat begitu sama sekali. Aku percaya bahwa ceritaku itu tidak sepenting ceritamu dan masih banyak sekali cerita orang-orang seumuranku yang jauh lebih hebat.</p> <p>Bertolak belakang dengan anggapan orang, Aku bukan sepenuhnya orang baik. Aku malas dan egois dengan caraku sendiri. Sikapku adalah identitasku. Aku tak peduli anggapan pribadi orang. Aku tak pernah berdebat masalah penampilan, hanya selalu khawatir dengan tanggung jawab. Itu juga mengapa aku selalu menghindar dari tanggung jawab yang gak penting di kehidupanku. My life is my identity, dan aku ingin kehidupanku gak ribet.</p> <h2 id="budget">Budget</h2> <p>Masalah dengan spending budget, aku gak pernah berpikir dua kali. Makanan pas kuliah selalu beli, juga peralatan lain, selalu kuusahakan lengkap beli sendiri. Kau bisa bilang aku boros, mungkin dihadapan orang lain gitu, namun aku hanya beli yang benar-benar aku butuhkan. Contoh, aku punya laptop yang berumur 2 tahun. Upgrade lagi? Tidak perlu, toh meski aku punya uang buat beli ROG dan kawan2, laptop lamaku masih bekerja dengan baik meski dengan kondisi keyboard rusak (aku pakai eksternal dan itu lebih nyaman). Sama dengan sepatu, sepatuku bahkan solnya sering lepas. Beli lagi? Buat apa, toh dilem pakai lem kuat masih bisa. HP? HP ku Blackview, karena anti pecah, walau kamera jelek aku gak butuh hp kedua. Aku ingat prinsip tu semua, juga dari dosenku. Beliau bilang, It’s okey beli barang mahal dan boros, asalkan awet dan menghemat waktu. Demikian justru dompetpun bakal awet dalam jangka waktu panjang.</p> <p>Aku begitu, karena sudah terbiasa dengan keadaan seadanya pas dulu. Laptop RAM 2 GB buat mainin Unity dan Visual Studio, kuat. Aku gila sama optimisasi laptop jaman itu. Aku bisa saja komplain namun sikapku dari kecil memang pendiam atau suka menerima keadaan, dan benefitnya well terasa sekali sekarang, aku gak pernah menyesal. Sekarang mungkin agak berubah, karenaku ingat dari buku Merry Riana, daripada berusaha untuk hemat, jauh lebih baik menambah omset alias pendapatan. Itu adalah goal dari apa yang aku lakukan sekarang, semakin banyak omset semakin bebas dan efisien aku dari belenggu tanggung jawab yang gak penting.</p> <p>Dan perihal omset, kau tahu yang James Altucher bilang? “Reinvent Yourself”, atau <em>selalu temukan versi lebih baik dari dirimu</em>. James bilang kita harus “reinvent” tiap 4-5 tahun sekali, dan benar saja, 2015 aku punya sumber budget dari penjualan Asset Store. 2019 aku punya sumber budget lagi dari projek-projek yang aku terima selama mengembangkan karir di UTM. Aku sempat berpikir, bagaimana untuk sumber ketiga? Aku belum tahu persis apa yang terjadi di 2024 (-ish), namun aku sedang belajar microcontroller, yang barangkali aku bisa buat untuk membangun industri Hardware di negeri ini. Mungkin saja!</p> <h2 id="konflik">Konflik</h2> <p>Bicara tentang menyesal, aku ingat pepatah, <em>kesalahan bukan milik siapapun</em>. Tidak peduli aku anggota atau ketua, satu keping kesalahan dari setiap proker atau agenda merupakan kesalahan semua pihak yang terlibat, bukan menyalahkan individu tertentu. Ini juga berarti, setiap orang pasti punya kesempatan yang sama untuk berbuat, tidak peduli ketua ataupun anggota. Bahkan dipandanganku, itu semua hanyalah sebutan formal. Kita semua tetaplah manusia dengan tugasnya sendiri-sendiri.</p> <p>Bagaimana dengan teamwork? Masalah itu, Aku belajar banyak sejak masuk kuliah. Awalnya aku mengira karena aku tahu, maka lebih cepat jika semuanya aku kerjakan sendiri. <em>Programming is complicated, I know.</em> Namun sekarang tidak. Untuk project yang fleksibel, aku lebih suka kerja teamwork, dan menginventasi waktu kecil untuk mengajari anggota tim bagian yang mereka kerjakan. Bagianku? Selalu bagian yang paling sulit. It’s okey karena aku suka bagian yang seru (sulit), untuk bagian lain yang mudah atau repetitif aku salurkan ke teammate. Dengan cara ini, aku puas, tidak terlalu berat, yang lain merasa berkontribusi, project yang besar pun bisa ditaklukkan dengan mudah dan efisien.</p> <p>Teknik seperti itu aku terapkan di banyak hal mulai dari tugas kelompok hingga project berbudget jutaan. Aku saat menjadi leader, memang selalu melihat pembagian job dari kemampuan seseorang. It’s okey jika apa yang mereka kerjakan tidak benar, sering kali aku kasih saran, atau aku koreksi sendiri tergantung mana yang efisien. Aku selalu buang jauh-jauh yang namanya kritik dan adu mulut, karena itu buang waktu. Kebanyakan dari kalian yang pernah berorganisasi pasti menerapkan hal yang sama jadi aku gak perlu menjelaskan panjang soal efek dan klausanya.</p> <p>Situasi ini berbalik arah, jika kamu berada disituasi dimana ada seseorang yang lebih berwenang atas suatu hal, dan kewenangan itu berefek padamu atau suatu kelompok yang kamu terlibat didalamnya. Itulah gunanya demokrasi, alias setiap orang punya hak untuk mempunyai pilihan. Dan untuk aku, pilihannya ialah: <em>terlibat atau mundur</em>.</p> <p>Ya, memang sesederhana itu aku. Tidak ada kata melawan dalam kamusku, karena bermusuhan itu ribet dan hanya bikin malapetaka. Dan akan aku kasih tau satu hal, bahwa konsep ini ternyata penting, dan aku pahami bahkan diluar pembahasan politik yang suka huru hara baik politik dikampus maupun diluar itu.</p> <p>Yea, aku camkan itu bahkan sejak peristiwa 2 tahun lalu, sangat menggelitik telingaku. Entah siapa yang mengoreksi file ku di SMN maupun SBM itu, mereka tak pernah paham gimana rasanya 2 kali juara lomba ITS dan menaruh harapan untuk masuk kampus itu dan ternyata semuanya hanya harapan palsu. Begitu pula, mendaftar banyak beasiswa luar yang ternyata tidak tembus sama sekali. Atau hey, lomba. Itu juga salah satu hal yang tak bisa aku kontrol seribet masalah perpolitikan.</p> <p>Masalah masalah seperti itu, jika aku berhadapan dengan situasi seperti, aku akan mundur saja, karena menggantungkan pada hal yang tak bisa kau kontrol, hanya akan melukai pikiran dan mentalmu.</p> <p>Tapi ingat, mundur bukan berarti pasrah dan putus asa. Ada banyak jalan lain yang bisa ditempuh tanpa menggantungkan hidup ke orang-orang yang tak peduli denganmu. Contoh, di perkuliahan aku justru lebih suka mencari pemasukan baru untuk bayar UKT langsung kerja dari keringat sendiri, gak mikir ribet dengan pengajuan beasiswa ini dan itu. Itu contoh kecil saja, aku masih punya banyak contoh lain yang terlalu panjang jika diceritakan.</p> <h2 id="mental">Mental</h2> <p>Bicara tentang kehidupan memang gak pernah bisa habis. Yea aku tahu itu, namun setelah mencerna ceritaku, filosofiku dan caraku mengurai konflik, kau tau mengapa aku suka terlibat di bagian itu semuanya?</p> <p>Seperti pepatah bilang, kita hidup untuk <em>membuat hidup kita berarti</em>. Dunia ini luas, ada banyak waktu untuk kita jelajahi. Jika nenek moyang kita nomaden, kenapa kita sangat nyaman untuk diam saja memandangi kehidupan?</p> <p>Hidup menurutku, tidak cuman sekolah, kuliah, lulus, kerja, punya rumah tangga lalu pensiun. Hidup aman seperti itu justru sangat merugikan menurutku. Buat apa hidup kalau cuman buat untuk mencukupi diri sendiri atau segelintir orang saja? Kita adalah makhluk sosial, dan berbagi adalah kunci dari kehidupan sosial. Dan, agar kita bisa berbagi kita harus punya sesuatu yang lebih dari kita miliki dan itu berguna untuk orang lain.</p> <p>Itulah mengapa, aku suka hal baru tiap hari. Karena itu pengetahuan, dan pengetahuan bisa dibagi tanpa mengurai yang aku punya. Jika pengetahuan tercukupi, kita tidak akan takut akan tantangan baru. Mengapa? Karena kita tahu cara menyelesaikannya.</p> <p>Aku kasih tau satu hal, mengapa aku tak pernah berhenti dengan project, karena disitulah aku belajar. Belajar menghadapi klien, deadline, dan tim secara bermasaan. Meski demikian, aku juga manusia, sok tahu meski sering khawatir juga dengan hasil. Saat aku takut dengan kualitas yang aku hasilkan dari usahaku jauh dari bagus, aku selalu ingat kata ayahku, <em>semuanya harus sesuai prosedur</em>. Apa maksudnya? Artinya meski menurut kita belum siap, minimal kita harus sesuai dengan apa yang orang harap. Ini menuntut kita agar disipin.</p> <p>Disiplin menurutku bukan masalah personal seperti jam bangun tidur, gak telat dan lain sebagainya, namun cara kita memenuhi ekpetasi orang terhadap itu, baik dari segi kualitas dan waktu. Dan itu penting, karena memperkuat kepercayaan orang terhadap kita. Nama kita adalah <em>brand</em> kita sendiri. Kualitas brand kita mempengaruhi kualitas relasi kita, dimanapun kita berada. Jika kita serius maka orang lain juga mengganggap kita serius, bertanggung jawab, atau hal lain semacamnya.</p> <p>Saat aku mencari relasi, aku selalu ingat, bahwa harus ada timbal balik yang kita siapkan. Kebanyakan ialah dalam bentuk pengetahuan, atau upah jika aku serius. Bagaimana kalau timbal balik terhadapku? Ini yang menarik. Kebanyakan aku tidak bilang, kenapa? Karena aku yakin karma bekerja disini. Ini adalah feedback loop, orang bilang mungkin aku suka ngebantu orang dan dapat diandalkan. Dan iya, lama-kelamaan hal itu menjadi kabar burung yang viral dan banyak orang yang akhirnya mencariku.</p> <p>Aku merasa… Jadi orang penting? Aku tahu dari sekian orang pasti ada orang lain juga <em>toxic</em>, memanfaatkan situasi melalui kabar burung, golongan orang-orang yang “mampir karena cuman butuh”. Aku tahu itu, namun aku tak suka berburuk sangka siapa dan siapa. Caraku ialah, aku membatasi diriku sendiri untuk “publik service” entah membatasi jam maupun tempat. Cara yang kuterapkan ini, bukan bermaksud buatku pelit, namun aku punya hak untuk waktuku sendiri, dan untuk orang yang mengejarku, juga perlu pemahaman, bahwa tidak perlu kita bekerja untuk orang lain, nilai, gelar atau apalah sampai diluar batas kewajaran. Takut untuk gagal adalah fenomena yang fatal namun sering sekali aku amati.</p> <h2 id="efisiensi">Efisiensi</h2> <p>Sering kali aku mengerjakan 3 atau 4 projek dalam bersamaan, <em>yet</em> secara penampilan, orang orang menganggap aku orang santuy. Ini hanyalah masalah proritas dan efisiensi. Jika ada banyak tugas menumpuk, biasanya aku hanya mengerjakan tugas yang penting dan mendadak. Tidak penting namun mendadak? Copas dari internet. Penting namun tidak mendadak? Lempar ke orang lain. Tidak penting dan tidak mendadak? Lupakan.</p> <p>Aku bukan orang rajin yang bisa mengerjakan semua hal yang penting dan tidak penting, karena waktu sangat terbatas. Maka dari itu aku bilang, aku suka malas dengan caraku sendiri. Dan juga, aku sering ingat rule 20-80, yakni hanya sekitar 20% persen pengerjaan itu penting, selebihnya hanya masalah aestetik dan perfeksionis, lupakan jika tidak diperlukan.</p> <p>Ingat, pembagian waktu adalah hakmu. Jangan dibutakan oleh banyaknya tugas dan tanggung jawab yang melanda. Takut akan kualitas itu boleh tapi jangan sampai mengorbankan kesehatan, seperti tidur. Aku jarang sekali mau bekerja shift malam sampai subuh, karena pasti hanya merusak ritme tidur dan merugikan jam produktifku.</p> <p>Bagaimana dengan istilah “mager”? Dalam kamusku, malas gerak aku artikan sebagai, tidak mau kemana-mana. Ini bukan berarti aku tidak mau ngapa-ngapain, hanya melakukan apa yang aku suka, didepan laptop atau hal lain yang aku sukai. Tidak kemana-mana juga menghemat waktu produktifku, memutuskan koneksi dari dunia luar dan melakukan apa yang aku anggap penting menurutku.</p> <h2 id="future">Future</h2> <p>Jika <em>state-of-present</em>-mu sudah tertata. Akankah kau ingin mengintip rahasia ilahi, dan mengatakan, bahwa masa depanmu akan aman?</p> <p>Aku sempat berpikir, apa rencana masa depan yang sesuai untukku? Villa mewah untuk keluarga, mungkin?</p> <p>Percaya atau tidak, harta dunia bukanlah tujuan akhirku. Iya, sekarang memang aku mencari relasi dan uang seperti mau hidup selama ribuan tahun, tapi tujuanku bukan untuk simpanan dana pensiun, justru aku ingin pensiunan yang sederhana saja. Rumah yang bercukupan di selubungi oleh keluarga yang bahagia, dan meninggalkan wasiat tanpa harta agar anak cucu tahu, harta bukan segampang anak sultan pamerkan, atau dengan kata lain, agar mereka juga bisa berkembang mandiri seperti aku.</p> <p>Lalu untuk apa jutaan (atau bahkan milyaran mungkin) uang yang aku kumpulkan? Tidak jauh seperti Bill Gates, atau Elon Musk. Aku rencanakan untuk mencari relasi yang lebih jauh lagi, membangun industri untuk negeri, berkenalan dengan profesional hebat, hingga membangun foundation untuk membantu ribuan atau jutaan umat yang kurang beruntung.</p> <p>Itu adalah to-do list yang sangat ingin aku coret, hanya saja jauh sekali dibawah. Mari kita fokus ke tantangan nomor 1 yang ada didepan mata: dengan siapa aku akan memberikan komitmen sehidup-semati (aka. jodoh) untuk berbagi hidup dikemudian hari nanti?</p> <p>Kau boleh saja tak percaya, namun aku tak pernah peduli dan tak akan berpikir dua kali akan hal itu hingga posisiku karirku benar-benar sudah cukup tinggi, atau lebih spesifik, setelah S3. Mengapa? Karena berbagi komitmen itu susah. Aku yakin meningkatkan karir dan berbagi kehidupan disaat sama itu sangat susah, atau bahkan mustahil.</p> <blockquote> <p><em>“Wildan, bagaimana kalau kamu cari saja partner hidup-matimu sekarang dan berkomitmen sejak itu agar kalian berdua terlatih dan tidak menyesal nantinya?”</em></p> </blockquote> <p>Ide yang sangat buruk. Pacar, teman rasa pacar, taarufan rasa teman rasa pacar, sama saja idenya. Buruk, karena cewek butuh pernyataan komitmen dalam bentuk bukti, bukan janji dalam bentuk status WA, sajak-sajak, atau bahkan artikel panjang seperti ini. Dan komitmen dalam arti bukti itu bukan bertahan selama bertahun-tahun, namun cukup dengan pamit ke orang tuanya untuk ke pergi ke KUA bersama. Udah sesimpel itu, dan guaranteed bebas ribet, tidak membuang waktu dan tenaga dalam mengejar jawaban atas dilema <em>“apakah dia untukku?”</em> yang sudah dilukiskan di ratusan lagu galau se-antero Indonesia. Percayalah. Lagipula aku lebih suka mengorbankan satu orang yang masih “mungkin” jadi partner daripada seluruh karirku guaraanted untuk <em>collapse</em> karena satu orang.</p> <blockquote> <p><em><small>NB: aku bukan bermaksud mendorong untuk memutus hubungan tidak resmi kalian yang dibina hubungan sudah lama (jika ada), ingat ini hanyalah apa yang ada pikiranku, yang MENURUTKU benar, jangan pernah ditelan mentah-mentah.</small></em></p> </blockquote> <h2 id="closing">Closing</h2> <p><em>Last but not least</em>. Inilah apa yang ada didalam pikirkanku, midsetku sendiri yang mencerminkan identitasku. Dari sekian panjangnya kata yang kurangkai, semua tidak lebih dari sebuah usaha yang, aku yang dipercayai di mata relasi profesional, aku yang menghibur dan memotivasi dimata teman dan rekan, aku yang melindungi dimata keluarga dan orang-orang yang aku cintai.</p> <p>Mungkin menarik untuk kalian jika aku sangat jarang menyertakan prinsip tuhan disetiap artikel ku. Aku bukan atheis atau apa, hanya ingin artikel ini menjadi netral dan bisa dikonsumsi oleh banyak orang dengan background spiritual yang berbeda-beda. Aku selalu bersyukur bahwa Tuhan masih memberikanku kesempatan berliterasi hingga detik ini. Dan semoga kalian juga, pembaca setia artikelku dapat mengambil intisari dari apa yang aku tulis sejak 2014.</p> <hr /> <p>Well, itulah aku, dan aku tak bisa bersyukur sampai detik ini tanpa banyak orang-orang yang andil dibelakangku. <em>Behind a great man there’s always another great man</em>. <strong>Semua orang yang aku sebutkan namanya diatas merupakan orang-orang yang tanpa aku sadari, sangat berjasa untuk kelanjutan karirku selama ini. Terima kasih banyak untuk satu dekade ini!</strong></p> <p>Dan untuk orang tuaku sendiri, meskipun aku yakin mereka tidak akan pernah tahu artikel ini dan sebelum-sebelumnya, mungkin juga tidak akan pernah tau bagaimana prosesnya hingga anak buahnya menjadi sekian rumit ini, aku tetap menghargai sampai detik ini menasehatiku tiap kali aku berbalik arah. Mereka berdua yang paling berjasa untukku selamanya. <strong>Atas perjuangan mereka aku ucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga!</strong></p> <p>Dan kamu, ya kamu, pembaca setia artikel ini. Terimakasih juga, telah membangkitkan semangat literasiku sejak 2014. Entah apa kamu bisa memetik intisari dari artikel ini dan sebelum-sebelumnya. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa, dalam satu dekade ini aku banyak berubah, dan secara perlahan, atau apa titik kesalahan dan kelemahanku, dan membagi hal itu semoga kalian yang membaca tidak akan jatuh ke perangkap yang sama. <strong>Aku ucapkan pada kalian, terimakasih banyak juga!</strong></p> <hr /> <p>Sekian dan aku tutup, seri artikel seri filosofi yang aku curahkan untuk satu dekade ini. Aku tahu, mungkin kalian akan bersedih atau rindu jika aku memutuskan untuk menyelesaikan bagian memo ini sampai artikel ini saja. Yea, memang demikian. Selebihnya aku tidak akan meneruskan memo ini, namun lebih ke <a href="https://devlog.wellosoft.net/">blog sebelah</a> yang lebih membahas tentang strategi dan ide. Aku demikian karena aku tak ingin selamanya jadi tape rusak yang selalu memutar film lama. Kamu bisa lihat <a href="/about/">arsip memo-ku</a> yang lebih lama jika kau masih belum merasa puas.</p> <p>Artikel ini, adalah persembahanku, feedback loop, ringkasan atas semua orang yang pernah terlibat dalam satu dekade ini. Aku juga terdorong motivasi untuk kalian yang sedang membutuhkan motivasi, atau termotivasi “bagaimana menjadi seseorang yang seberuntung Wildan?”. Padahal aku bukan Jedi, hanyalah manusia biasa dari segumpal darah sama seperti kalian. Aku tidak ingin kalian justru menjadi depresi karena bagaimana jauhnya pengalamanku sekarang, kau hanya perlu ingat, berbagi ialah kekuatannya, bahkan berbagi literasi seperti ini, sangat membantu mentalku tajam kembali. Aku ingin, saat kalian selesai membaca ini, memutar kembali otak, melihat kembali apa saja kenangan bagus di mata kalian di dekade ini.</p> <p>Tak perlu sungkan juga, jika kau ingin membuat hal yang sama seperti artikel ini dan meminta pendapatku apa tujuanmu selanjutnya, karena aku sangat suka membaca biografi seseorang yang pernah aku jumpai dengan mata kepalaku sendiri lebih dari aku membaca biografi Aristoteles.</p> <p><strong>Adios, Sampai Jumpa 2019.</strong></p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Procedural vs. Artistik</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/procedural-vs-artistik.html"/>
  <updated>2019-11-09T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/procedural-vs-artistik</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Selama.. Mungkin hampir 10 tahun aku melakukan semuanya secara procedural. Dan sekarang waktuku berubah…</p> <h2 id="thinking-in-procedural">Thinking in Procedural</h2> <p>Saat aku memikirkan situasi yang kompleks, aku selalu berpikir bagaimana caranya untuk memecahnya menjadi kecil-kecil, lalu melihat polanya sehingga aku bisa membuatnya jadi lebih sederhana dan elegan. Inilah yang aku sebut <em>thinking in procedural</em>. Dengan berpikir demikian, aku hampir selalu menemukan cara untuk mempersingkat waktu, membuat usahaku lebih efektif, atau meluaskan dampak atas keringat yang aku lakukan.</p> <p>Apa manfaatnya berpikir secara prosedural? Sangat besar, apalagi jika kamu suka pemrograman. Dalam bermain logika, aku suka sekali mempersingkat coding sehingga lebih <em>general purpose</em> atau <em>object oriented</em>. Contoh saja, code ini:</p> <div class="language-python highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="n">size</span> <span class="o">=</span> <span class="nb">int</span><span class="p">(</span><span class="nb">input</span><span class="p">())</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">i</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="n">size</span><span class="p">):</span>
	<span class="k">for</span> <span class="n">j</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="n">size</span><span class="o">-</span><span class="n">i</span><span class="p">):</span>
		<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="s">" "</span><span class="p">)</span>
	<span class="k">for</span> <span class="n">j</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="n">i</span><span class="p">):</span>
		<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="s">"*"</span><span class="p">)</span>
	<span class="k">for</span> <span class="n">j</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="n">i</span><span class="p">):</span>
		<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="s">"-"</span><span class="p">)</span>
	<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="s">"</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>bisa menjadi singkat seperti ini:</p> <div class="language-python highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">def</span> <span class="nf">f</span><span class="p">(</span><span class="n">l</span><span class="p">,</span> <span class="n">c</span><span class="p">):</span> <span class="k">for</span> <span class="n">j</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="n">l</span><span class="p">):</span> <span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="n">c</span><span class="p">)</span>
<span class="n">size</span> <span class="o">=</span> <span class="nb">int</span><span class="p">(</span><span class="nb">input</span><span class="p">())</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">i</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="n">size</span><span class="p">):</span>
	<span class="n">f</span><span class="p">(</span><span class="n">size</span><span class="o">-</span><span class="n">i</span><span class="p">,</span> <span class="s">" "</span><span class="p">)</span>
	<span class="n">f</span><span class="p">(</span><span class="n">i</span><span class="p">,</span> <span class="s">"*"</span><span class="p">)</span>
	<span class="n">f</span><span class="p">(</span><span class="n">i</span><span class="p">,</span> <span class="s">"-"</span><span class="p">)</span>
	<span class="n">f</span><span class="p">(</span><span class="n">i</span><span class="p">,</span> <span class="s">"</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>atau lebih baik, one liner:</p> <div class="language-python highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="n">size</span> <span class="o">=</span> <span class="nb">int</span><span class="p">(</span><span class="nb">input</span><span class="p">())</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">i</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="n">size</span><span class="p">):</span>
	<span class="n">args</span> <span class="o">=</span> <span class="p">[(</span><span class="n">size</span><span class="o">-</span><span class="n">i</span><span class="p">,</span> <span class="s">" "</span><span class="p">),</span> <span class="p">(</span><span class="n">i</span><span class="p">,</span> <span class="s">"*"</span><span class="p">),</span> <span class="p">(</span><span class="n">i</span><span class="p">,</span> <span class="s">"-"</span><span class="p">),</span> <span class="p">(</span><span class="mi">1</span><span class="p">,</span> <span class="s">"</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="p">)]</span>
	<span class="p">[[</span><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="n">c</span><span class="p">)</span> <span class="k">for</span> <span class="n">j</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="n">l</span><span class="p">)]</span> <span class="k">for</span> <span class="n">l</span><span class="p">,</span> <span class="n">c</span> <span class="ow">in</span> <span class="n">args</span><span class="p">]</span>
</code></pre></div></div> <p>Ada banyak karyaku yang merefleksikan ini: seperti ComCalc, artiscii, TexDraw, 4D Engine, Observatory, SIKAT, dan puluhan lainnya. Mereka semua adalah projek yang membantuku mengasah otakku yang tumpul ini menjadi lebih paham, kreatif dan efisien terhadap segala situasi.</p> <h2 id="thinking-in-artistic">Thinking in Artistic</h2> <p>Namun <em>thinking in procedural</em> pun bisa membuatku buta. Maksudku, mungkin aku terlalu perfeksionis sehingga aku selalu mengeneralisasi semua hal yang aku kerjakan. Ambil satu contoh game buatanku yang legendaris:</p> <p><img src="https://img.itch.zone/aW1hZ2UvMTY1ODA5Lzc2NTgwNi5wbmc=/original/NuHQ81.png" alt="TTHP" /></p> <p>Bandingkan game ini dengan state-of-the-art Ori and the Forest:</p> <p><img src="https://steamcdn-a.akamaihd.net/steam/apps/261570/ss_3ed9c721b5ee032f45bbc95d2c2ba0d8bd06269e.1920x1080.jpg?t=1569449401" alt="Ori" /></p> <p>100% kamu akan bilang kalau game ku lebih sampah dari Ori. Ya tentu saja karena dia lebih matang. Tapi aku ingin kau berpikir bagaimana kedua game itu dibuat. Ori dibuat dengan orientasi lebih ke story board dan artistik yang mendetail. Lalu gameku?</p> <p>Percaya atau tidak, Game ku sendiri lebih ke procedural. Mengapa? Karena aku berpikir itu lebih menyingkat waktu. Dan memang benar, aku mungkin bisa membuat puluhan level andaikata aku bisa membuat level design procedural juga saat itu. Namun setelah mencicip Ori, aku menyadari bahwa generalisasi tidak lah selalu baik. Game ku yang procedural itu, kalah hebat dalam gameplay nya karena dia monoton, yakni aku set bahwa kontrol nya sama semua. Ori? Bahkan saat prolog, tidak semua kontrol bisa digunakan. Itu kontrol yang unik dan tidak mungkin digeneralisasi. Belum lagi jeda antara story dan gameplay, kan?</p> <p>Mungkin artistik bisa disatu padu dengan prosedural namun secara realita, sangatlah susah untuk digenerasi. Generalisasi mengasumsikan dua atau lebih tahap bisa digabung menjadi satu, namun setelah digabung, sangat susah untuk membuat <em>specific-case</em> yang dibutuhkan oleh artisan.</p> <p>Aku berpikir bahwa, ini saatnya aku untuk berhenti mencari solusi dengan generalisasi, dan mulai membuat karya berdasarkan rasa artistik yang mudah dikonsumsi oleh publik, atau grup tertentu. Ya, mungkin dengan generalisasi satu produk bisa bercabang ke banyak produk dengan mudah, tapi untuk artistik, adalah soal kualitas, bukan kuantitas.</p> <blockquote class="twitter-tweet"><p lang="en" dir="ltr">A tool is useful if it&#39;s solving a specific problem in shorter time. Creating new tools really feels like it&#39;s counterintuitive.</p>&mdash; WillNode (@willnode) <a href="https://twitter.com/willnode/status/1192801506895859712?ref_src=twsrc%5Etfw">November 8, 2019</a></blockquote> <script async="" src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Perkakas Programmer</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/perkakas-programmer.html"/>
  <updated>2019-11-04T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/perkakas-programmer</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Ada banyak bahasa pemrograman didunia ini melebihi bahasa manusia yang kita kenali tiap hari. Tapi dari sekian banyak itu, apakah semuanya harus dikuasai? Apa bahasa pemrograman yang cocok untukmu?</p> <h2 id="python">Python</h2> <div class="language-python highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="n">x</span> <span class="o">=</span> <span class="s">"World"</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"Hello, "</span> <span class="o">+</span> <span class="n">x</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"!"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Python adalah bahasa pemrograman yang paling dasar, paling natural. kamu tulis <code class="language-plaintext highlighter-rouge">x = 2 + 2</code> dan x menjadi 4. Kamu tulis <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print(x)</code> 4 itu muncul ke layar. Tidak ada deklarasi variabel, tidak ada typechecking, tidak ada memory management. Python adalah bahasa yang paling simpel untuk memulai karena Python menghandle semua implementasi-spesifik itu dari syntax.</p> <p>Meski sangat sederhana, Python juga terkenal dengan fiturnya yang sangat terbatas. Contohnya, Python tidak mempunyai implementasi penuh untuk OOP, private-publik akses, dan juga tidak punya getter dan setter. Tapi hey! Untuk python, Siapa yang peduli dengan semua implementasi spesifik tersebut? Inilah mengapa Python sangat populer untuk mereka yang tidak murni background dari pemrograman, seperti para peneliti, data miners, pengembang IoT dan banyak lainnya.</p> <h2 id="javascript">Javascript</h2> <div class="language-javascript highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="kd">let</span> <span class="nx">x</span> <span class="o">=</span> <span class="dl">"</span><span class="s2">World</span><span class="dl">"</span><span class="p">;</span>
<span class="nx">console</span><span class="p">.</span><span class="nx">log</span><span class="p">(</span><span class="dl">"</span><span class="s2">Hello, </span><span class="dl">"</span> <span class="o">+</span> <span class="nx">x</span> <span class="o">+</span> <span class="dl">"</span><span class="s2">!</span><span class="dl">"</span><span class="p">);</span>
</code></pre></div></div> <p>Apa bedanya Javascript dengan Python? Syntax Javascript lebih mendekati dengan bahasa kebanyakan, menggunakan <code class="language-plaintext highlighter-rouge">{</code> dan <code class="language-plaintext highlighter-rouge">}</code> sebagai tanda bagian/region, dan control flow yang lebih lengkap seperti <code class="language-plaintext highlighter-rouge">for</code> dan <code class="language-plaintext highlighter-rouge">switch</code>. Apa spesialnya dengan javascript? Jika python terbatas, maka Kebanyakan fitur di javascript adalah <em>opsional</em>. Deklarasi dalam Javascript boleh dikasih boleh tidak. Titik koma di javascript? Boleh dikasih, boleh tidak. Meski demikian, javascript mempunyai <em>multi paradigma</em> yang berarti gaya orang menulis program bisa berbeda jauh satu sama lain.</p> <p>Apakah Javascript hanya berlaku untuk web? Tentu tidak, sekarang ada Node.JS, yang sangat populer dipakai oleh para senior back-end untuk meluncurkan microservices untuk memenuhi projek hobi dan hiburan mereka. Dan jangan lupa, evolusi Javascript yang sekarang ini gipempar-gemparkan oleh Framework terkemuka seperti Vue dan React.</p> <h2 id="java">Java</h2> <div class="language-java highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="kd">class</span> <span class="nc">Hello</span> <span class="o">{</span>
	<span class="kd">public</span> <span class="kd">static</span> <span class="kt">void</span> <span class="nf">main</span><span class="o">(</span><span class="nc">String</span> <span class="n">args</span><span class="o">[])</span> <span class="o">{</span>
		<span class="nc">String</span> <span class="n">x</span> <span class="o">=</span> <span class="s">"World"</span><span class="o">;</span>
		<span class="nc">System</span><span class="o">.</span><span class="na">out</span><span class="o">.</span><span class="na">println</span><span class="o">(</span><span class="s">"Hello, "</span> <span class="o">+</span> <span class="n">x</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"!"</span><span class="o">);</span>
	<span class="o">}</span>
<span class="o">}</span>
</code></pre></div></div> <p>Java (bukan Javascript) adalah program berbasis <em>Compiler</em>, yang berarti jika code Python dan Javascript bisa dieksekusi langsung, beda dengan Java, dia harus di <em>compile</em> dulu menjadi sebuah binary, atau <code class="language-plaintext highlighter-rouge">exe</code>. Java melakukan ini dengan cara mengkonversinya kedalam <em>Intermediary Language</em> dan mengeksekusinya secara <em>JIT</em> (Just-in-Time). Jika kamu tidak tau apa itu, anggap saja seperti tukang bakso, dia tidak mungkin membuat adonan/bahan mentah saat jualan, jadi dia pasti mempersiapkan dulu sebelum jualan. Itu sama seperti JIT, apa yang diketik di code tidak dieksekusi secara mentah, tapi pasti diolah menjadi ‘bahasa’ yang lebih mudah dicerna terlebih dahulu.</p> <p>Apa kelebihannya? <em>Speed</em>. Gak perlu dicerna 2 kali. Kekurangannya? Semuanya harus <em>jelas</em>, <em>explicit</em>. Kamu <em>harus</em> mendeklarasikan variabel agar jelas <em>scope</em> nya dimana, beserta tipe datanya. Tidak hanya itu, Java ini juga mempunyai mekanisme untuk memproteksi data melalui encapsulation, dan mempunyai opini yang kuat untuk mendeklarasikan tiap object dengan mekanisme getter setter. Kabar baiknya? Meski Java terlihat ribet, memori manajemennya otomatis, dia menggunakan <em>garbage collector</em> yang aktif melihat referensi apa saja yang tidak terpakai.</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Mengais Receh</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/mengais-receh.html"/>
  <updated>2019-11-04T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/mengais-receh</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Minggu lalu adalah hari-hari kritis, yah karena akhir bulan. Biasanya mahasiswa (seperti aku) mulai mencari recehan di sela sela saku berharap ada rezeki jatuh di tempat tak terduga hahaa.</p> <p>Tapi sebagai mahasiswa milenial, aku mulai berpikir bahwa, meskipun receh itu kecil, kehadiran mereka sebenarnya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Biaya sekecil apapun, dua ribu perak untuk hal-hal yang tidak sadari (seperti biaya transfer, dsb) harus nya tidak hilang begitu saja.</p> <p>Nah sekarang, Aku kasih tau cara menyelamatkan beberapa gopek uang didalam dunia digital kita.</p> <h3 id="dompet-digital">Dompet Digital</h3> <p><em>Ada Bank. Kenapa pakai dompet digital?</em></p> <p>Spekulasi simpel seperti itu membuat kita sendiri saja jarang memakai dompet digital produk negara sendiri (DANA, Ovo, LinkAja, GoPay). Padahal sebenarnya, adanya dompet digital membuat <em>demokrasi</em> dalam uang di antar bank. Contoh? Dalam kondisi akun terverifikasi, top up dan transfer bank tanpa biaya admin. Ini berarti aku bisa meloloskan biaya transfer antar bank dengan perantara dompet digital. Lalu, isi pulsa melalui dompet digital, tanpa ada biaya tambahan (20k adalah 20k, bahkan di DANA biasanya ada promo potongannya).</p> <p>Selain itu, masih banyak keuntungan lain, apalagi promo. Soal promo entah kenapa banyak sekali promo dalam mengkampanye dompet digital dalam era ini, sebut saja seperti Grab yang mempromosikasikan Ovo dan Bukalapak yang mempromosikan DANA. Mereka berdua pun mempunyai banyak promo lain seperti biaya ongkir dan sebagainya.. Hmmmm..</p> <h3 id="bunga-bank">Bunga Bank</h3> <p>Aku pernah mengalami punya simpanan 50k di ATM lalu, hanya melihat fakta bahwa uang itu tidak bisa diambil karena besoknya potongan admin bulanan bank dan saldoku tinggal 49k.</p> <p>Setiap bank memiliki produk tabungan tersendiri, dan tiap tabungan pasti memiliki biaya admin bulanan dan bunga yang berbeda. Meski kita semua punya rekening, pasti kita tidak pernah memperhatikan rasio biaya admin dan bunga bulanan bukan?</p> <p>Contoh sederhana saja, BTN Juara rekeningku, terdiri atas biaya admin 2k dan bunga 0.5%. Jika kamu hitung, berapa minimal tabungan agar bunganya melebihi biaya admin? 400k. Cara menghitung? Tinggal 2k dibagi dengan 0,5%. Sekarang tebak lagi, berapa tabungan minimal agar tiap bulan aku dapat satu nasi bungkus padang? 10k / 0,5% = 2 juta.</p> <p>Wkwk kamu pasti bilang aku bergurau, apa bisa mahasiswa misqueen sepertiku menabung sampai 2 juta dalam rekening. Tapi itulah <em>interest compound</em>, istilah yang biasa dipakek oleh Warren Buffet atau orang ekonomi lainnya. Banyak pakar ekonomi membahas itu tapi singkatnya saja, 0,5% per bulan jika dikali 10 tahun? bukan 60%, namun 181%. Nggak ada bedanya ini dengan investasi, tapi lebih stabil dan ada saldo minimumnya.</p> <p>Jadi apa kesimpulannya? Ya, minimal simpan berapa nominal di rekening minimal bunga setara atau melampaui biaya admin. Caranya? paling nggak kalau minta jatah jangan nunggu habis, mungkin sisihkan aja 50k dan jangan diapa-apakan kecuali darurat (lumayan kan kalau ada simpanan darurat? ), begitu terus tiap bulan.</p> <hr /> <p>So? Banyak? Tidak. Tidak ada sihir ajaib didunia ini daripada bekerja keras, tapi sesuai pepatah, <em>dikit-dikit lama-lama berbukit</em>, kalau ada kemudahan, kenapa tidak digunakan?</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Butuh dan Ingin</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/butuh-dan-ingin.html"/>
  <updated>2019-10-29T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/butuh-dan-ingin</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Ahh, topik yang bosan lagi. Butuh dan Ingin. Semua orang pasti tahu <em>principle</em> itu, kan?</p> <p>Butuh dan Ingin, <em>need vs want</em>, yang berarti, bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Misalnya, Jika kamu ingin membeli suatu barang, pastikan itu adalah kebutuhanmu, bukan karena hasratmu untuk ingin saja. Seperti itu kurang lebih, ya kan?</p> <p>Tapi aku mengamati, bahwa disekitarku, banyak sekali yang tidak menerapkan prinsip itu. Entah mungkin mereka sengaja lupa atau tidak, bukan urusanku sih. Namun, kepada reader yang baik, aku ingin mengingatkanmu lagi. Akan aku jabarkan, bahwa <em>need vs want</em> sebenarnya tidak hanya tertuju pada beli-atau-tidak. Justru lebih luas dari itu.</p> <h2 id="dilema-ngampus-dan-nugas-memahami-kebutuhan">Dilema Ngampus dan Nugas: Memahami <em>Kebutuhan</em></h2> <p>Oh, kampus, andaikata kau libur full minggu ini saja, aku, kamu, dan semua kolega kelas pasti akan bersuka cita, <em>Yeayy libur!</em>.</p> <p>Tapi tunggu, mengapa kita suka libur? Bukankah ini sebuah dilema, <em>jika kita suka libur, lalu mengapa kita kuliah</em>? Ini dia bedanya. Untuk mencari sebab dari dilema ini, kita butuh tahu, <em>mengapa kita kuliah?</em>.</p> <p>Yeah, kuliah memang kebutuhan. Aku tahu itu dan semua orang pasti mempunyai banyak alasan baik sendiri mengapa harus kuliah daripada tidak. Namun anggap saja salah satunya adalah mendapatkan ijazah sehingga bisa melamar kerja diberbagai tempat.</p> <p>Nah, problem nya disini. Apakah kita keberatan untuk Liburan satu-dua minggu? Tidak kan, karena sejatinya kita butuh kuliah karena ijazah, dan libur satu dua minggu bagi kita adalah surga, karena meski dapat jatah waktu banyak, kita tetap dapat ijazah, salah satu alasan utama kita butuh kuliah.</p> <p>Okey, mungkin masih banyak yang tidak sependapat denganku, kalau itu kamu, maka tidak apa-apa, aku tidak peduli, toh itu kan <em>menurutmu</em>, dan tiap orang pasti punya beda kebutuhan sehingga punya pendapat tentang itu.</p> <p>Tapi jangan sangka momok yang bikin kita malas sebagai mahasiswa, sebut saja tugas, praktikum, deadline, kuis, dan sebagainya. Jika kamu amati, kebanyakan mahasiswa pasti lebih memilih kuliah tanpa tugas. Kenapa? Karena kita pasti akan kembali pertanyaan awal, <em>buat apa kuliah?</em>. Dan yeah, kampus pastinya tidak akan memberikan ijazah kalau 144 SKS belum kamu selesaikan tuntas. Jadi kita tetap mengerjakannya, karena itu sebuah tanggung jawab, yang lahir karena kita <em>butuh</em> sebuah ijazah itu.</p> <p>Tapi jangan salahkan juga, kenapa masih banyak rekan kita juga suka ngecheat dalam prosesnya: sebut saja nyontek, titip-absen, plagiasi, dan lain sebagainya. Menurutku itu natural, melihat dari kebutuhan seseorang (dan motivasi) untuk kuliah, yakni untuk kebanyakan orang, ialah <em>kuliah untuk mendapatkan ijazah dan nilai cukup</em>. Bagaimana kalau <em>menyelesaikan kuliah secara benar dan jujur</em>? Apakah itu kebutuhan setiap mahasiswa? Pfft… Aku ragu, itu bukan kebutuhan kalian, apalagi aku, itu hanyalah bualan maba yang hanya menjadi keinginan belaka di siang bolong.</p> <p>Jadi, sekali lagi, aku tidak tahu kebutuhan spesifik kalian, mungkin saja kalian bersemangat kuliah karena ikut termotivasi oleh dosen tertentu (yang berarti, kebutuhan kalian adalah untuk termotivasi), atau kalian tidak tertarik dengan perkuliahan, namun tertarik untuk berperan dalam organisasi, atau bahkan sekedar kupu-kupu siang bolong, aku tidak peduli. Aku menghargainya seperti menghargai pendapat orang lain. Yang terpenting, jangan hiraukan ocehan burung dari orang lain, seperti merasa paling bodoh dalam kelas, atau paling anti-sosial karena non-aktif organisasi, lalu takut menjadi orang yang <em>insocial</em> karena itu, tidak. Cukup liat dan yakin dari dirimu sendiri, Apa kebutuhan mu disini?</p> <p>Last of reminder: <strong>Kuliah Sewajarnya</strong>.</p> <h2 id="dilema-orang-cerdik-memahami-keinginan">Dilema Orang Cerdik: Memahami <em>Keinginan</em></h2> <p>Keinginan itu normal. Manusia mempunyai nafsu, mempunyai hasrat untuk <em>aku ingin ini</em> dan <em>aku belum puas dengan itu</em>. Nafsu tidak sepenuhnya jahat, karena nafsu menimbulkan keinginan, keinginan menimbulkan motivasi, dan motivasi untuk menjadi lebih baik adalah tentu baik.</p> <p>Namun nafsu dan keinginan harus dibatasi, terlalu banyak juga tidak bagus, sebaik apapun itu.</p> <p>Ini adalah dilema paling besar sebagai orang pintar. Maksudku, liatlah semua orang ingin pandai dalam banyak hal, namun apakah mereka sadar akan konsekuensinya? <em>Great power comes with great responsibiliy</em>. Sebagai orang yang pernah tau banyak hal, kukasih tau faktanya: <strong>bahwa semakin pintar seseorang, maka semakin tidak santai hidupnya</strong>.</p> <p>Wkwkw jangan menyangkal, Aku tidak membual atas statement diatas. Contoh kecil saja, bagaimana drastisnya perubahan dirimu dari kecil sampai besar? Apakah masa kecilmu tidurmu selalu nyenyak? Bagaimana dengan sekarang? Semakin dewasa, kita semakin pintar untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun juga semakin kecil waktu kita bersenang-senang, bahkan untuk tidur nyeyak. kesibukan kita memenuhi kebutuhan bahkan sering membutakan kita atas kebutuhan simpel kita yang lain, seperti kebutuhan untuk tidur cukup contohnya.</p> <p>Bagiku, dilema orang pintar ini adalah krisis yang serius. Maksudku, lihatkah aku menulis artikel ini pada jam 2 pagi, padahal aku mempunyai kelas jam 7 pagi nanti. Itu adalah salah satu masalahku yang masih “kecil”, kurang mensyukuri nikmat tidur karena tanggung jawab. Meskipun aku mengganggap kuliah adalah hal yang kecil, namun tidak pada tanggung jawab lainnya. Sekali lagi, orang pintar pasti tidak santai hidupnya, dia pasti dijadikan “buronan” untuk orang-orang bodoh, baik dia sendiri suka atau tidak, dan penolakan adalah cara yang paling <em>irrespectible</em> karena itu dipandang sebagai sebuah ego. Itu adalah masalah “menengah”.</p> <p>Masalah terbesarnya? Ialah <em>power</em>. Semakin pintar seseorang, semakin dipuji, semakin disegani, semakin dipercayakan oleh banyak orang, mengundah sebuah tanggung jawab. Dan, pasti ada banyak tanggung jawab berikutnya setelah tanggung jawab sebelumnya selama mereka yakin “aku bisa” atau sisanya adalah soal martabat, kepercayaan, dan harga diri yang menjadi taruhannya. Kadang, orang pintar itu mempunyai tanggung jawab yang melampaui kemampuan seorang human sehingga mereka menghimpun kelompok yang hanya menjadi persoalan ialah, mengatur orang-orang tersebut dan lagi-lagi mempertarukan banyak hal bergantung motivasi dan seberapa bagusnya koordinasi orang itu sendiri.</p> <p>Ahhh, aku pusing. Aku benar-benar tidak membual. Lupakan tentang tanggung jawab, Orang pintar bahkan bisa bingung <em>mau kemana hidup ku dibawa</em>? Karena dia pintar, tau ini itu, sehingga dia punya banyak opsi bagaimana melanjutkan karir atau hidupnya kedepan. Orang-orang bilang, belajar, agar sukses kelak. Namun nyatanya itu tidak bisa dipetik semanis anggur, karena semakin kaya ilmu seseorang, semakin banyak “opsi” sukses mereka, dan takut jika “opsi” yang dipilih salah, menyesal, lalu mundur, dan bla-bla-bla begitu seterusnya. Itu hanya ancaman dari dalam, belum ancaman dari luar, seperti orang-orang yang akan datang menarik dan mempengaruhi anda karena “kekayaan ilmu” anda, hanya tinggal menghitung waktu apakah “bos” dan “rekan” anda bekerja dengan anda, atau menjadikan anda sebagai boneka atau bahkan menukik dari dalam, dengan ambal-ambal mengcover kebutuhan anda yang tidak sepadan dengan keinginan anda, kekayaan diatas keintelektuan, dan bla-bla-bla.</p> <hr /> <p>Jadi, Inti dari dilema sedemikian rumitnya, ialah <strong>keinginan</strong>. Seperti keinginan untuk pintar. Tidak ada bedanya seperti ingin kaya dan naik pangkat jabatan. Ilmu harus berputar (digunakan) layaknya bank mengatur ekonomi, mencegah inflasi dan deflasi. Ingat bahwa ini bukan berarti bodoh itu lebih baik, namun dalam mencari ilmu, kamu pun harus fokus, jangan coba mendalami semua hal hanya karena “banyak tahu makin bagus” atau “takut untuk bodoh dalam X”, kamu harus tahu kebutuhanmu sendiri, bidang apa yang ingin kamu dalami agar kamu bisa memenuhi kebutuhanmu sendiri tanpa bantuan orang lain, dan jangan pernah sekali-sekali untuk bertindak rakus dan ambisius, meskipun itu tujuannya ilmu.</p> <p>Aku? Iya, Aku suka pemrograman, dan awalnya aku mengincip hampir semua bahasa pemprograman dan konsepnya, namun setelah itu semua, aku mengerti, bahwa pasti tidak semuanya aku gunakan. Bahkan, aku mungkin hanya menggunakan beberapa saja untuk <em>professional capability</em> dalam bidang yang menarik bagiku: <strong>web</strong>. Aku tidak tergiur dengan rumor-rumor area job pemrograman lain seperti data mining, game, atau pun content creator yang job gajinya lebih tinggi, karena aku melihat web sebagai kebutuhan tinggi, dan ranah pengembangan yang cocok bagiku.</p> <h2 id="hakikat-kebutuhan-dan-keinginan">Hakikat Kebutuhan dan Keinginan</h2> <p>Kita hidup, lalu mati tanpa meninggalkan apapun. Jadi buat apa hasrat untuk ingin memiliki sesuatu? Seandainya kita selalu terjamin kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan – Mengapa kita masih sibuk bekerja?</p> <p>Jawabannya, karena kita ingin hidup kita berarti. Ya, memang sandang, pangan, papan adalah kebutuhan pokok, namun saat kita bekerja dan ketiga-tiganya tercukupi, apakah manusia akan berhenti? Tidak, karena itu sifat manusia. Sosial, Konsumtif, dan selalu ingin Dihargai. Kadang kita bekerja lebih giat agar bisa menghidupi orang lain yang kita sayangi, atau menghidupi komunitas yang kita peduli. Namun jangan lengah, jangan sampai dibutakan oleh tingginya ilmu, kekayaan atau status sosial hingga lupa pada diri sendiri, lupa pada kebutuhan haqiqi kita sesungguhnya, yakni kebutuhan fisik, sosial, dan spiritual.</p> <p>Bagiku? Itu berarti sebuah reminder bahwa, aku harus senantinya bersyukur terhadap apa yang aku dapatkan saat ini. Sebuah pengertian, makna hidup, bahwa aku disini bukanlah siapa-siapa. Aku hanya seorang geek yang bisa menikmati dan memanfaatkan banyak waktu luang untuk membuat sesuatu yang menurutku berguna, ditemani oleh musik yang memotivasi pikiran, atau menentramkan hati. Mungkin suatu saat salah satu programku akan melejit populer, namun aku akan berusaha keras untuk tidak dibutakan dengan uang, <em>for the greater good</em>. Diatas karir tinggi, aku ingin sebernarnya, mungkin di tahun 30 atau 40 untuk lepas dari kesibukan kosong ini dan beralih ke sesuatu yang lebih bermanfaat, foundation non-profit, mungkin? dan menikmati hari senja lebih dekat bersama keluarga dan sahabat.</p> <p>Menyadari semua ini, membuatku menyukai diriku sendiri. How about you?</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Cooperation vs. Competition</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/cooperation-vs-competition.html"/>
  <updated>2019-10-23T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/cooperation-vs-competition</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Sorry kalau judulnya kebarat-baratan namun itulah dilema yang aku pikirkan.. cukup lama.</p> <p>Saat berpikir tentang, cara paling ampuh untuk memotivasi diri untuk berkembang secara eksternal, aku memikirkan 2 hal yang menurutku erat satu sama lain: Kerjasama (Cooperation) dan Kompetisi (Competition).</p> <h2 id="cooperation">Cooperation</h2> <p>Pernahkah kamu ada pada situasi dimana kamu ujian lalu satu kelas tiba-tiba mempunyai satu insting untuk kerjasama? Heya, itulah salah satu cooperation, cooperation yang buruk.</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Hemat pangkal Miskin</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/hemat-pangkal-miskin.html"/>
  <updated>2019-10-04T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/hemat-pangkal-miskin</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Ya, aku tau itu tipo. Harusnya “Hemat pangkal kaya”. Tapi percayalah ada hal-hal tertentu yang membuat orang yang suka berhemat menjadi tambah miskin, bukan sebaliknya.</p> <p>Pada dasarnya, hemat itu boleh boleh aja. Yang bagus, adalah memilah antara “kebutuhan” dan “keinginan”. Kalau beli karena kebutuhan saja, maka itu bagus. Jangan seperti adek saya yang sukanya beli mainan hanya untuk dibuang.</p> <p>Yang gawat dari “hemat” ialah, saat kita mulai membatasi barang yang kita beli padahal itu juga suatu kebutuhan. Itu yang gawat, karena hemat itu beda tipis dengan pelit. Pelit untuk kebutuhan diri sendiri adalah suatu fenomena yang sangat sering aku jumpai pada rekan-rekanku baik itu mereka anak BM maupun anak sultan.</p> <p>Aku tahu, mereka yang suka hemat, mempunyai beragam alasan dan argumen yang kuat, seperti, mereka ingin tidak membebani orang tua, mereka menyesuaikan pengeluaran dengan budget income, dan lain sebagainya. Namun alasan-alasan itu menurutku bukan berarti kita pun pelit bahkan untuk kebutuhan diri-sendiri.</p> <p>Meski rezeki tidak turun datang langit saat kita membutuhkannya, jangan sampai kita pelit karena musim kemarau melanda.</p> <p>Contoh yang paling sederhana, ialah mengendalikan jatah makan. Aku tidak menyalahkan mereka yang suka masak nasi dan lauk mereka sendiri selama mereka nyaman dengan itu. Namun bagaimana dengan mereka yang cuma makan sehari satu kali? Atau mereka yang makan mie instan melebihi batas wajar (&gt;2x dalam seminggu)?</p> <p>Jika budget makan mu lebih dari 100 ribu per minggu, aku asumsikan boleh boleh saja beli makan tiap hari di luar (7000 * 2 makan * 7 hari = 98000). Anak BM yang jatah perbulannya sekitar 700 ribu jelas masih sanggup. Namun jika tetep bersikeras juga boleh masak nasi sendiri tinggal beli lauk. Tapi itu menghemat, paling mentok 20 ribu untuk satu minggu. Terus bagaimana jika jika jatah makanmu dibawah 80 ribu satu minggu? Tanya lagi pada dirimu, sebegitu pelitkah dirimu terhadap dirimu sendiri?</p> <h2 id="budget-vs-time">Budget vs Time</h2> <p>Jika anda mulai membatasi budget untuk kebutuhan, yang aku lihat, ialah dampaknya pasti berpengaruh terhadap waktu. Atau dengan kata lain, semakin anda pelit, semakin banyak waktu yang akan terbakar untuk menutupi kepelitan anda sendiri.</p> <p>Menurutku, waktu itu jauh lebih berharga daripada budget. Apalagi waktu muda seperti sekarang. Budget yang terbuang masih bisa dicari sedangkan waktu yang terbuang tentu tidak. Jika aku membeli barang X sehingga aku bisa meringkas waktu, maka aku anggap itu juga sebagai kebutuhan.</p> <p>Contoh sederhana, jika saat anda mulai merasa lapar pada jam siang bolong, anda mempunyai 2 pilihan: Makan sekarang atau nanti malam. Jika anda milih makan sekarang ada kemungkinan malam lapar lagi, kan? Jadi untuk mereka yang mindset orang hemat, pasti menunggu nanti malam. Masalahnya disini ialah dia tidak tahu resikonya, yakni mereka membuang 6 jam waktu karena kepikiran lapar sehingga tidak fokus selama mereka masih menunggu waktu jam mereka sendiri.</p> <p>Contoh lain yang lebih ekstrim yang aku perhatikan ialah, banyak rekan dari jurusanku yang mengeluh laptop tidak kuat speknya untuk mengerjakan tugas kuliah. Yang susah dari sini ialah, saat aku tanya kenapa mereka tidak upgrade, mereka bilang “tunggu liburan semester”, “tunggu cairan BM”, dan lain sebagainya. “Tunggu” ini ialah bahaya, karena apakah mereka sendiri sadar kalau mereka masih membuang waktu, sekitar 6 bulan… hanya untuk menunggu waktu upgrade laptop?</p> <p>Sekarang aku beri kamu sebuah perspektif. 6 bulan itu jika kamu konverskan ke dalam 6 bulan waktu freelance (400 ribu per minggu), maka ia akan berharga sekitar (6 bulan * 5 minggu * Rp 400000 = ) 12 juta. Sekarang anda pilih, manakah yang menurut anda rela untuk hangus? 6 bulan waktu anda yang bisa dihargai sekitar <em>12 juta</em> atau upgrade spek <strong>sekarang</strong> yang yah, paling mentok cuman <em>500 ribu</em> untuk upgrade SSD?</p> <p>Jika anda dalam situasi seperti itu, dan tetap menunggu hingga 6 bulan. Menurutku anda perlu instropeksi diri, seberapa berharga sih, waktu menurut anda? 50 ribu untuk satu bulan? Menurutku miskin kayanya nya seseorang bukan dilihat dari seberapa tebel kertas uang didalam dompet mereka, namun seberapa berharganya waktu di mata mereka sendiri. Jika dimata mereka waktu itu emas, setidaknya mereka benci dengan membuang waktu hanya untuk menunggu. Ini bukan berarti mereka tidak sabaran, tapi sabar tanpa berusaha juga termasuk omong kosong.</p> <h2 id="gain-for-everything-but-preserve-for-nothing">Gain for Everything, but Preserve for Nothing</h2> <p>Jika dia sendiri mementingkan waktu diatas apapun, aku yakin segala sesuatu mereka akan menjadi mudah. Aku pun demikian, aku sering mencoba memanfaatkan waktu tenggangku untuk membantu orang lain jika mereka membutuhkan, ini bukan berarti aku kelebihan waktu dan membuangnya untuk orang lain, aku hanya ingin menghargai waktuku sendiri, meski itu berarti tenaga, budget dan pikiran juga ikut terbuang untuk mereka, bagiku itu tidak penting. Toh lagian, berjam-berjam waktu mereka untuk ngoding bisa disingkat menjadi 5-15 menit jika aku ikut bantu ngoding (tanpa menjelaskan, hehe).</p> <p>Tapi inti dari semua ini adalah, “<em>in the name of your curiosity, gain for everything and preserve for nothing</em>”, Dunia akan terlihat sangat menarik jika kamu tetap menggali untuk apa yang kamu inginkan didunia ini. Maka dari itu, jika kalian mempunyai situasi pahit tentang ekonomi, aku sangat sarankan untuk mengubah perspektif anda dari <em>hemat</em> menjadi <em>haus</em>, atau dengan kata lain, jangan cuman berpikir <em>hemat, hemat, hemat</em> namun cari cara agar dapat pemasukan lain selain cairan BM atau orang tua. Jika itupun masih belum memungkinkan, intinya ialah buat dirimu senyaman mungkin dengan kondisi anda sekarang, dan tetap untuk berusaha memperbaiki lifestyle setiap hari.</p> <p>Itu adalah <em>Gain</em>, <em>The game theory</em> dimana jika PacMan mempunyai 256 level, mengapa anda sendiri berhenti di level 1? Dunia pun demikian, jangan kamu kira tugas kuliah sudah cukup bikin kepala pening, itu bukan apa-apa, suwer. Masih ada dunia kerja ataupun dunia entrepeneur dimana deadline, inovasi, dan trouble-solving adalah makanan sehari-hari. Jika kamu tidak siap dan selalu menolak untuk terjun bersaing dengan dunia, buat apa kemudian hidup? hanya menambah masalah tanpa pernah mencoba menyelesaikannya?</p> <p>Ada lagi <em>Preservation</em>, Jangan seperti Qarun yang hanya menyimpan anggur manis untuk dirinya sendiri. Ada tujuannya mengapa manusia mempunyai waktu yang sangat terbatas, yakni agar kita tidak menyimpan semuanya untuk diri sendiri, menganggap semua yang kita peroleh hanyalah titipan, masih ada keturunan dan sanak famili yang meneruskan perjuangan kita sendiri. Maka dari itu, tidak peduli kalau kalian anak mama ataupun anak sultan, <strong>jangan pelit</strong> bahkan untuk diri sendiri. Percayalah meski dompet kosong ditengah bulan pasti akal kita masih mempunyai banyak cara agar kita tidak mati kelaparan dikemudian hari.</p> <p>Lagipula, jika kalian percaya pada Tuhan, Karma, dan semacamnya. kalian pasti tahu bahwa perbuatan baik akan dibalas dengan perbuatan baik. Pelit hanya akan menambah buruk situasi, Tuhan masih mempunyai 1001 cara untuk memaksa anda mengeluarkan isi dompet secara darurat dan terpaksa jika isi dompet itu tidak pernah kamu keluarkan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, orang lain, amal jariyah, kotak amal, dan semacamnya. “<em>Preserve for nothing</em>”, selama kalian percaya Tuhan pasti menambah rejeki pada seseorang sebanding dengan meningkatnya kebutuhan orang itu (untuk keperluan yang baik-baik).</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>SOP untuk diri sendiri</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/sop.html"/>
  <updated>2019-10-02T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/sop</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Heyaa, sepertinya kebanyakan deadline membuatku tidak optimal dan berantakan, antara kesehatan, fisik maupun mental. Jadi sepertinya aku butuh SOP:</p> <ul> <li>Prosedur habis bangun tidur: Sholat, Deres (senin-kamis)</li> <li>Universal Bootstrap Time: 07.00</li> <li>Universal Break Time: 12.00, 15.00</li> <li>Balik ke pondok jika masih di kampus: 17.15, 21.40</li> <li>Universal Time to sleep: 23.00</li> <li>Pomorodo times (Hours for online WA): <ul> <li>Pagi-07.30</li> <li>09.00-09.30</li> <li>12.00-12.30</li> <li>15.00-15.30</li> <li>17.30-18.30</li> <li>21.30-22.30</li> </ul> </li> </ul> <p>Scheduling Rules untuk mengerjakan projek:</p> <ul> <li><strong>Hari Minggu vakum total untuk tugas kuliah</strong></li> <li>Sistem Round Robin untuk satu projek: 6 jam threshold.</li> </ul> <p>Teknis lain yang mungkin harus aku perhatikan:</p> <ul> <li>Keramas tiap tanggal genap (karena aku jarang keramas)</li> <li>7.30 langsung cari makan, ato menyesuaikan jika matkul</li> <li>Jumat malam cuci baju, ambil keringan minggu malam.</li> <li>5 sore keluar lab dan beli nasi bungkus</li> </ul> <p>Mungkin yaaa seperti kebanyakan rutinitas lama-lama hanya sebuah angan2 karena kebutuhan dan situasi yang bermacam-macam, namun aku akan mengingat-ingat bahwa berapapun aku menggantung sebuah waktu demi deadline maka hasilnya akan sama saja. Tidak ada deadline yang lebih penting dari kesehatan fisik dan mental.</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Andaikan Coding itu Lego</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/andaikan-coding-itu-lego.html"/>
  <updated>2019-08-10T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/andaikan-coding-itu-lego</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Okay. Semester Ganjil akan dimulai lagi dan drama “Algoritma Pemrograman” akan dimulai. Jadi artikel ini adalah khusus untuk kamu yang masih takut dengan “coding”. Aku ingin menendang jauh rasa takut itu dari dirimu.</p> <div class="language-c++ highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="cp">#pragma compile alay on
</span><span class="c1">// Hanya 18+ yang boleh baca artikel ini</span>
</code></pre></div></div> <p>Hampir semua orang pada umumnya mampet dalam mencerna “apa sih coding itu”, “buat apa sih coding itu”, “ini code maksudnya apa” hingga “aku gak tau apa yang aku tulis”. Semua orang <em>stuck</em> pada level-level nya sendiri jadi itulah mengapa mungkin hanya sekian dari seluruh mahasiswa yang bisa mengikuti kelas pemprograman. Jangan salah dosennya juga sih.</p> <p>Nggak usah basa-basi, mari kita mulai.</p> <h2 id="apa-itu-coding">Apa itu Coding?</h2> <p>7 tahun yang lalu, pemrograman menurutku adalah permainan otak yang sangat membantu kegabutanku dimasa puber, dan semakin lama aku semakin gila coding selevel orang-orang pada nge-bucin atau nge-wibu. Namun berbeda dengan nge-bucin, gila coding itu ternyata bermanfaat besar sekali, dan aku ingin kegabutan anda lebih berfaedah dengan gila coding (jika kamu mau sih).</p> <p>Aku tidak pernah tau mengapa orang sangat sulit membaca code. Padahal mereka tau kalo <code class="language-plaintext highlighter-rouge">1 + 1 = 2</code>. “Apa mereka berlagak bodoh atau pura-pura bodoh?” ingin ku menghujat meski nggak jadi. Tapi aku percaya mereka hanya pura-pura buta coding meski beberapa juga sampai nekat ngulang “Alpro”, Gentleman sekali.</p> <p>Aku ingin memberitahumu, bahwa coding itu sejatinya adalah permainan lego untuk orang dewasa. Tidak percaya? Liat code ini:</p> <div class="language-python highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"hello, bucin!"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p><code class="language-plaintext highlighter-rouge">"hello, bucin!"</code> adalah lego nya: Kata “hello, bucin!”. Kata ini kamu apain? Ada perintah <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print</code>, <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print</code> adalah perintah yang paling dasar. Itu perintah pertama anda dimanapun anda belajar coding. Perintah ini tidak lebih tidak kurang hanya mengucapkan kata selanjutnya, <code class="language-plaintext highlighter-rouge">"hello, bucin!"</code>. Sekarang mungkin kau bertanya, mengapa namanya <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print</code>? mengapa harus pakai kurung? mengapa pakai tanda petik? mengapa nggak cukup cuman <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print hello bucin</code>?</p> <p><img src="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/32/Lego_Color_Bricks.jpg/640px-Lego_Color_Bricks.jpg" alt="" /></p> <p style="text-align:center"><i>Lego</i></p> <p>Inilah fakta menyedihkannya. Komputer itu goblok. Serius. Lebih goblok dari anda, karena ciptaan tuhan itu sempurna. Komputer tidak akan paham perintah yang kamu ketik bahkan hanya satu tanda petik yang kurang. Jadi, bersikap lembutlah pada komputer, dan setiap kali mereka bilang <code class="language-plaintext highlighter-rouge">Syntax Error</code>, ingat bahwa komputer itu goblok, dan itu adalah tugasmu untuk membenarkan ejaan perintah anda anda ketik.</p> <p>Btw, meski komputer itu goblok, ketauhilah mereka penurut. Sangat penurut. Kamu adalah bos dari otakmu, Kamu adalah bos dari komputermu. Kamu suruh mereka untuk bootloop mereka nurut, kamu suruh mereka ngepet juga nurut kalo bisa. Inilah mengapa aku suka coding, karena aku suka jadi bos meski komputer hanyalah benda mati yang bisa ngeprint <code class="language-plaintext highlighter-rouge">Hello Bucin</code> 3000 kali:</p> <div class="language-python highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"hello, bucin! "</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">3000</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <blockquote class="twitter-tweet"><p lang="cy" dir="ltr">print(&quot;hello, bucin! &quot; * 3000) <a href="https://t.co/fvfXsVUuwz">pic.twitter.com/fvfXsVUuwz</a></p>&mdash; WillNode (@willnode) <a href="https://twitter.com/willnode/status/1160168856117137409?ref_src=twsrc%5Etfw">August 10, 2019</a></blockquote> <script async="" src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script> <p>Apa lagi yang komputer bisa lakukan selain print <code class="language-plaintext highlighter-rouge">hello, bucin!</code>?</p> <h2 id="buat-apa-sih-coding-itu">Buat Apa sih Coding itu?</h2> <p>Aku sudah bilang, andaikan coding itu lego, buat apa anak kecil suka main lego?</p> <p>Aku nggak tahu kamu, tapi aku dulu suka main lego karena, yaa… asik. Gitu aja. Aku suka bangun menara setinggi 3000 tahi lalat meski sore hari aku bongkar lagi karena ibukku nyuruh. Dan pemrograman itu nggak jauh beda, kamu bikin program untuk melupakannya. aku pun sama, pernah bikin program sampek nggak mandi 7 hari 7 malam hanya untuk dilupakan ketika udah jadi. Dan entah mengapa aku tidak merasa kesal, suka aja.</p> <p>Jika demikian, mengapa coding sangat <em>profitable</em>? Ingat bahwa <em>Sampah seseorang adalah harta karun bagi orang lain</em>, beberapa sampah hasil programku memang masih dipakai orang lain, dan <em>it’s profitable</em>, aku pasang harga untuk setiap kopi dan mereka masih menyukainya. Aku pikir, yeah itulah <em>Life of programming</em>, dibayar untuk <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print("hello, bucin! " * 3000)</code>, gimana gak enak jadi programmer, kan?</p> <p>Jika dalam “konteks serius” kamu ingin wirausaha dengan coding, sangatlah bisa kawan. Hal pertama yang harus kamu catat ialah, kamu ingin spesialis dalam hal apa? Ingat <em>pemrograman</em> bidangnya hampir seluas <em>kedokteran</em>. <em>Kedokteran</em> bisa jadi <em>Dokter hewan</em>, <em>Dokter kulit</em>, <em>Dokter gigi</em>, dsb. Begitu juga <em>Pemgrograman</em> yang bisa menjadi spesialis <em>Desktop/Mobile</em>, <em>Web Frontend/Backend</em>, <em>Data/AI</em>, <em>Security/hacker</em>, dan banyak lainnya. So, jika kamu serius maka <strong>Bagaimanapun caranya, kamu harus fokus salah satu bidang saja jika kamu mau dibilang spesialis dan bisa profit dari pemrograman</strong>.</p> <p>But, tetapi, untuk pemula macam saya dulu, tentu aku belum tau aku mau jadi <em>spesialis</em> apa, jadi aku dulu itu <strong>Hobbyist</strong> alias <em>belajar semuanya yang bisa dilahap yang penting hepi</em>, dan sekarang karena aku bisa profit dalam grafis dan web, aku ingin fokus ke dua hal itu saja, <strong>Graphics and Web Front-End Developer</strong>, itu title yang aku pajang di <a href="https://wellosoft.net/cv/">bio-ku</a>. Keren kan?</p> <p>Wkwkkwww, shut-up. Aku gak ingin kalian kepikiran jauh sampek <em>menjual hobi daripada hepi</em>. Sekarang lo and gue statusnya masih mahasiswa missqueen, so stay with me, dengan pikiran “pemrograman sebagai hobi”: <em>belajar semuanya yang bisa dilahap yang penting hepi</em></p> <h2 id="ini-code-maksudnya-apa">Ini Code Maksudnya Apa?</h2> <p>Namun realita tidak sesuai dengan ekspetasi. Jangankan wirausaha, menjelaskan coding didepan dosen killer aja kita merinding. Wkwkww fenomenal, tapi itulah kenyataan. Aku bahkan mikir <em>daripada diomelin terus ntar nasibnya ga jelas ngulang taun depan</em>, kenapa kalian yang suka pura-pura buta-coding gak sekalian ngamen di perempatan yang nasibnya lebih jelas dan <em>profitable</em>? Wkwww aneh.</p> <p>Tapi bagi kalian yang gak pura-pura, ini nih aku kasih tau kuncinya: <strong>Setiap baris dalam coding itu satu perintah</strong>.</p> <p>Kalo kamu gak ngerti baris itu ngapain, berarti kamu gak tau perintah yang itu dibuat untuk apa. Contoh simpel:</p> <div class="language-python highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">for</span> <span class="n">x</span> <span class="ow">in</span> <span class="s">"bucin"</span><span class="p">:</span>
    <span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="n">x</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Buat kamu yang gak pura-pura, aku kasih tau hasil print dari code itu:</p> <div class="language-plaintext highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code>b
u
c
i
n
</code></pre></div></div> <p>So? Mengapa bisa demikian? <code class="language-plaintext highlighter-rouge">for x in "bucin"</code>, liat lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">"bucin"</code>, <code class="language-plaintext highlighter-rouge">"bucin"</code> ini kita pisah jadi satu-satu oleh perintah <code class="language-plaintext highlighter-rouge">for x in ...</code> menjadi lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">'b'</code>, lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">'u'</code>, lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">'c'</code>, lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">'i'</code>, lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">'n'</code>; 5 lego itu diumpakan jadi lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">x</code> dan <code class="language-plaintext highlighter-rouge">x</code> ini kita masukin ke <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print</code> dari <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print(x)</code> maka hasilnya jadi <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print('b')</code>, trus <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print('u')</code>, dan begitu sampai <code class="language-plaintext highlighter-rouge">'n'</code>. Nah karena print ini terpisah makanya printnya dijadikan baris terpisah, <code class="language-plaintext highlighter-rouge">b</code> baris berikutnya <code class="language-plaintext highlighter-rouge">u</code> lalu baris <code class="language-plaintext highlighter-rouge">c</code> dan begitu sampai <code class="language-plaintext highlighter-rouge">n</code>.</p> <p>Simpel kan? Poin disini adalah kalo kamu tidak tahu perintah itu ngapain, kamu perlu buka google. Mbah gugel <em>knows everything</em>, selama kamu ngerti inggris wkwkwkw.</p> <p>Ada contoh lebih rumit lagi? Boleh:</p> <div class="language-py highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="kn">from</span> <span class="nn">datetime</span> <span class="kn">import</span> <span class="n">datetime</span>
<span class="k">if</span> <span class="p">(</span><span class="n">datetime</span><span class="p">.</span><span class="n">today</span><span class="p">().</span><span class="n">weekday</span><span class="p">()</span> <span class="o">&gt;</span> <span class="mi">4</span><span class="p">):</span>
	<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"rebahan"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">else</span><span class="p">:</span>
	<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"mageran"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Apa maksudnya? Baris pertama aku gak ingin terlalu detail tapi yang jelas itu ngasih satu set lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">datetime</code> biar bisa dipakek didalam bangunan lego kita, lalu baris kedua, <code class="language-plaintext highlighter-rouge">datetime.today().weekday()</code> dibaca <em>dari set lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">datetime</code> aku ingin lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">weekday</code> dari lego <code class="language-plaintext highlighter-rouge">today</code></em> yang artinya kita ingin hitungan <em>hari</em> dari hari ini (kalo anda gagal paham, <code class="language-plaintext highlighter-rouge">datetime.today().weekday()</code> bakal menjadi <code class="language-plaintext highlighter-rouge">0</code> kalo hari ini hari senin, <code class="language-plaintext highlighter-rouge">1</code> kalo selasa, dsb.), trus <code class="language-plaintext highlighter-rouge">datetime.today().weekday()</code> dibandingin (perintah <code class="language-plaintext highlighter-rouge">if</code>), kalo lego tersebut (<em>hari</em> dari hari ini) &gt; <code class="language-plaintext highlighter-rouge">4</code> (<code class="language-plaintext highlighter-rouge">4</code> itu jum’at, berarti <code class="language-plaintext highlighter-rouge">&gt; 4</code> itu <em>lebih dari</em> jum’at, atau sabtu dan minggu), maka <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print("rebahan")</code> (ngomong “rebahan”) atau kalo sebaliknya (perintah <code class="language-plaintext highlighter-rouge">else</code>), maka <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print("mageran")</code> (ngomong “mageran”).</p> <p>Sekali lagi ya, <strong>kalo kamu tidak tahu perintah itu ngapain, kamu perlu buka google</strong>, sesimpel itu.</p> <p>Nah, apa otak sudah panas atau masih dingin? Lanjut dong ke dilema paling hot kita….</p> <h2 id="aku-gak-tau-apa-yang-aku-tulis-">Aku Gak Tau Apa yang Aku Tulis :(</h2> <p>Yaps, momok paling menakutkan saat live coding. <em>I know your feeling</em>.</p> <p>Ingat tujuan anak kecil bikin menara dari lego? Misalkan mereka mau bikin miniatur rumah mereka sendiri dari lego, bagaimana caranya? Kebanyakan gini…. Mereka bikin ruang tamu dulu, trus ruang tengah, dapur, dsb. sampai semuanya selesai, baru naik ke lantai berikutnya, dsb. dsb. sampai atap.</p> <p>Yep, sesimpel itu kan? Nah ada yang lebih menarik, kalo mereka anak sultan, mereka bakal nambah detail² seperti jendela, pintu, kursi, meja, kasur, tv, gamebot, dsb. Apa itu berarti? <em>Liat bagaimana kreatifnya anak kecil</em>, atau paling nggak, flashback masa kecil mu sendiri, seberapa kreatif anda saat itu? Aku pernah bikin menara setinggi 3000 tahi lalat jadi aku bisa ngukur² kalo ngoding.</p> <p>Oke oke. The point is: <em>Perjelas apa yang kamu inginkan</em>, lalu <strong>Bikin dari gambaran buremnya sampai ke bagian paling detilnya</strong>. Mau contoh?</p> <p>Karena sebentar lagi Agustusan, mari kita menggambar Bendera Indonesia dari Python:</p> <div class="language-plaintext highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code>______________________________
|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|
|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|
|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|
|                            |
|                            |
|  __________________________|
| |
| |
| |
| |
| |
^^^
</code></pre></div></div> <p>Ouch! Trus bagaimana caranya? Ingat, <strong>Bikin dari gambaran buremnya sampai ke bagian paling detilnya</strong>.</p> <p>Apa code paling burem buat bikin bendera?</p> <div class="language-py highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"""
______________________________
|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|
|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|
|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|
|                            |
|                            |
|  __________________________|
| |
| |
| |
| |
| |
^^^
"""</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Udah sesimpel itu, tinggal copy &amp; paste ke satu lego dan diprint satu itu juga.</p> <p>Dan itu adalah code yang paling <em>burem</em>. Kalo dosen yang memberi soal, biasanya akan dinilai setengah atau nol, karena code seperti itu terkesan <em>cheating</em>. “Dimana Gregetnya?”. Oleh karena itu coba kita pisah lego itu menjadi beberapa baris lego:</p> <div class="language-py highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"______________________________"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|                            |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|                            |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|  __________________________|"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"| |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"| |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"| |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"| |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"| |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"^^^"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Dari kode itu kita bisa tahu beberapa perintah yang duplikat jadi mari kita ringkas jadi satu pakai perintah <code class="language-plaintext highlighter-rouge">for</code>:</p> <div class="language-py highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"______________________________"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">i</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="mi">3</span><span class="p">):</span>
	<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX|"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">i</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="mi">2</span><span class="p">):</span>
	<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|                            |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|  __________________________|"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">i</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="mi">5</span><span class="p">):</span>
	<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"| |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"^^^"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Ingat bahwa kita bisa meringkas beberapa karakter dengan perkalian kata? So….</p> <div class="language-py highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"_"</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">30</span><span class="p">)</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">i</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="mi">3</span><span class="p">):</span>
	<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|"</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"X"</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">28</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"|"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">i</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="mi">2</span><span class="p">):</span>
	<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|"</span> <span class="o">+</span> <span class="s">" "</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">28</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"|"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|  "</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"_"</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">26</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"|"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">i</span> <span class="ow">in</span> <span class="nb">range</span><span class="p">(</span><span class="mi">5</span><span class="p">):</span>
	<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"| |"</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"^^^"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Oke. Dari sini code kita mulai greget. Bisa dipendekin lagi?</p> <p>Bisa. Di python, kita bisa nulis <code class="language-plaintext highlighter-rouge">\n</code> sebagai karakter baris baru, dan <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print</code> punya tambahan <code class="language-plaintext highlighter-rouge">end</code> yang tambahan bagian terakhir print (yang <em>by default</em> diisi dengan <code class="language-plaintext highlighter-rouge">\n</code>). Dengan mengeluarkan baris baru <code class="language-plaintext highlighter-rouge">\n</code> ke lego teks and set atribut <code class="language-plaintext highlighter-rouge">end</code> menjadi kosong (<code class="language-plaintext highlighter-rouge">end=''</code>), maka kita bisa mengganti <code class="language-plaintext highlighter-rouge">for</code> loop dengan perkalian teks:</p> <div class="language-py highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"_"</span><span class="o">*</span><span class="mi">30</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">((</span><span class="s">"|"</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"X"</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">28</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"|</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="p">)</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">3</span><span class="p">,</span> <span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="s">''</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">((</span><span class="s">"|"</span> <span class="o">+</span> <span class="s">" "</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">28</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"|</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="p">)</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">2</span><span class="p">,</span> <span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="s">''</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"|  "</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"_"</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">26</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"|</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="p">,</span> <span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="s">''</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"| |</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">5</span><span class="p">,</span> <span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="s">''</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"^^^"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Ya masih bisa dipendekin lagi???</p> <p>Bisa, jika kamu paham perintah <em>spread operator</em>, kamu bisa liat bahwa baris 2-6 mempunyai pola diawali oleh <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print("|</code> dan diakhiri oleh <code class="language-plaintext highlighter-rouge">|\n", end='')</code> jadi kita bisa menyambungkannya menjadi satu loop kembali dengan spread operator:</p> <div class="language-py highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"_"</span><span class="o">*</span><span class="mi">30</span><span class="p">)</span>
<span class="k">for</span> <span class="n">s</span> <span class="ow">in</span> <span class="p">[</span><span class="o">*</span><span class="p">([</span><span class="s">"X"</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">28</span><span class="p">]</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">3</span><span class="p">),</span>
          <span class="o">*</span><span class="p">([</span><span class="s">" "</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">28</span><span class="p">]</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">2</span><span class="p">),</span>
            <span class="s">"  "</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"_"</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">26</span><span class="p">,</span>
               <span class="o">*</span><span class="p">([</span><span class="s">" "</span><span class="p">]</span> <span class="o">*</span> <span class="mi">5</span><span class="p">)]:</span>
    <span class="k">print</span><span class="p">((</span><span class="s">"|"</span> <span class="o">+</span> <span class="n">s</span> <span class="o">+</span> <span class="s">"|</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="p">),</span> <span class="n">end</span><span class="o">=</span><span class="s">''</span><span class="p">)</span>
<span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"^^^"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Jika kamu tahu <code class="language-plaintext highlighter-rouge">for</code> bisa dijadikan menjadi satu baris, dan perintah <code class="language-plaintext highlighter-rouge">join</code>, kamu bisa menggabungkan tiga print tersebut menjadi satu:</p> <div class="language-py highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"_"</span><span class="o">*</span><span class="mi">30</span><span class="o">+</span><span class="s">"</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="o">+</span><span class="s">''</span><span class="p">.</span><span class="n">join</span><span class="p">(</span><span class="s">"|"</span><span class="o">+</span><span class="n">s</span><span class="o">+</span><span class="s">"|</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="k">for</span><span class="p">(</span><span class="n">s</span><span class="p">)</span><span class="ow">in</span><span class="p">[</span><span class="o">*</span><span class="p">([</span><span class="s">"X"</span><span class="o">*</span><span class="mi">28</span><span class="p">]</span><span class="o">*</span><span class="mi">3</span><span class="p">),</span><span class="o">*</span><span class="p">([</span><span class="s">" "</span><span class="o">*</span><span class="mi">28</span><span class="p">]</span><span class="o">*</span><span class="mi">2</span><span class="p">),</span><span class="s">"  "</span><span class="o">+</span><span class="s">"_"</span><span class="o">*</span><span class="mi">26</span><span class="p">,</span><span class="o">*</span><span class="p">([</span><span class="s">" "</span><span class="p">]</span><span class="o">*</span><span class="mi">5</span><span class="p">)])</span><span class="o">+</span><span class="s">"^^^"</span><span class="p">)</span>
</code></pre></div></div> <p>Weuh, panjang dan rivet, tapi itu adalah <em>state-of-the-art</em> dari programming. Tergantung sampai mana otak anda nyampek sih.</p> <p>Mungkin kamu mau programmu lebih pintar dengan menyertakan input, biar bisa mengatur panjang karakter bendera, misalnya. Bagaimana caranya? Ingat perkalian kata kan? kita bisa mengaturnya kok:</p> <div class="language-py highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="n">w</span> <span class="o">=</span> <span class="nb">input</span><span class="p">(</span><span class="s">"Berapa panjang bendera? (Biasanya 30): "</span><span class="p">)</span> <span class="c1"># w adalah lego untuk 'panjang bendera'
</span><span class="k">print</span><span class="p">(</span><span class="s">"_"</span><span class="o">*</span><span class="n">w</span><span class="o">+</span><span class="s">"</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="o">+</span><span class="s">''</span><span class="p">.</span><span class="n">join</span><span class="p">(</span><span class="s">"|"</span><span class="o">+</span><span class="n">s</span><span class="o">+</span><span class="s">"|</span><span class="se">\n</span><span class="s">"</span><span class="k">for</span><span class="p">(</span><span class="n">s</span><span class="p">)</span><span class="ow">in</span><span class="p">[</span><span class="o">*</span><span class="p">([</span><span class="s">"X"</span><span class="o">*</span><span class="p">(</span><span class="n">w</span><span class="o">-</span><span class="mi">2</span><span class="p">)]</span><span class="o">*</span><span class="mi">3</span><span class="p">),</span><span class="o">*</span><span class="p">([</span><span class="s">" "</span><span class="o">*</span><span class="p">(</span><span class="n">w</span><span class="o">-</span><span class="mi">2</span><span class="p">)]</span><span class="o">*</span><span class="mi">2</span><span class="p">),</span><span class="s">"  "</span><span class="o">+</span><span class="s">"_"</span><span class="o">*</span><span class="p">(</span><span class="n">w</span><span class="o">-</span><span class="mi">4</span><span class="p">),</span><span class="o">*</span><span class="p">([</span><span class="s">" "</span><span class="p">]</span><span class="o">*</span><span class="mi">5</span><span class="p">)])</span><span class="o">+</span><span class="s">"^^^"</span><span class="p">)</span>
<span class="c1"># perubahan panjang bendera dibuat logis aja, kalo 30 jadi w, maka 28 jadi (w-2), dan 26 jadi (w-4)
</span></code></pre></div></div> <p>Bagaimana dengan tinggi bendera? Itu PR kamu!</p> <h2 id="kesimpulan">Kesimpulan</h2> <p>Dari semua teks ini, aku cuma beri kamu 2 konsep: <code class="language-plaintext highlighter-rouge">lego</code> dan <code class="language-plaintext highlighter-rouge">perintah</code>. <code class="language-plaintext highlighter-rouge">lego</code> yang aku maksud kalo kamu merhatiin dikelas programming, itu <code class="language-plaintext highlighter-rouge">variabel</code>: Variabel <code class="language-plaintext highlighter-rouge">a</code>, variabel <code class="language-plaintext highlighter-rouge">b</code>, dsb. Variabel itu penyimpanan data. Tapi kamu gak tau data itu apa jadi aku umpakan lego saja. Trus ada <code class="language-plaintext highlighter-rouge">perintah</code>, kalo kamu merhatiin dikelas programming, itu namanya <code class="language-plaintext highlighter-rouge">fungsi</code>: Fungsi <code class="language-plaintext highlighter-rouge">print</code>, fungsi <code class="language-plaintext highlighter-rouge">input</code>, dsb. Adalagi fungsi-fungsi lain yang syntaxnya beda seperti <code class="language-plaintext highlighter-rouge">if</code>, <code class="language-plaintext highlighter-rouge">for</code>, <code class="language-plaintext highlighter-rouge">while</code>. Fungsi itu tidak lain tidak bukan hanyalah penyingkat dari <em>Mau kamu apakan variabel itu?</em>.</p> <p>So tutorial singkat ini adalah <em>kickstart</em> untuk memahami pemprograman, khususnya yang mau belajar pakai python.</p> <div class="language-c++ highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code><span class="cp">#pragma compile alay off
</span></code></pre></div></div> <p>Kesimpulannya? <em>Everything is about you</em>, dan jika kamu mau serius di ranah koding, ya inilah coding. Jika menurutmu coding itu susah, jangan salahkan otakmu yang susah mencerna, salahkan kenapa kamu sendiri <em>mengganggap koding itu susah</em>. Koding itu mudah, dan aku sudah memantik kamu untuk buang jauh-jauh mindset lama. <strong>So, jadilah pemuda yang kreatif mulai dari sekarang</strong>.</p> <p>Keypoints:</p> <ul> <li>Programming adalah permainan yang cocok buat pengisi kegabutan</li> <li>Komitmen programming untuk <em>hobi</em> bukan *profit</li> <li>Fokus salah satu bidang programming jika kamu sudah mulai pro</li> <li>Setiap baris dalam coding itu satu perintah</li> <li>Kalo kamu tidak tahu perintah/variabel itu ngapain, kamu perlu buka Google</li> <li>Kalo mau ngoding, bikin dari gambaran buremnya sampai ke bagian paling detilnya</li> </ul>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Satu per Satu</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/satu-per-satu.html"/>
  <updated>2019-07-31T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/satu-per-satu</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>30 Juli dan sekarang adalah waktuku untuk <em>Context switching ke project lain</em>.</p> <h2 id="multitasking-itu-buruk">Multitasking itu Buruk</h2> <p>Aku selalu mempunyai banyak Project dalam hal bersamaan. Menurutku dulu itu baik, karena saat kamu bosan terhadap satu project kamu bisa mengerjakan satunya sehingga kamu bisa produktif lagi.</p> <p>Setelah sekian lama, aku rasa itu salah. Karena, seperti komputer, manusia tidak didesain untuk <em>multitasking</em>. Context switching membuang waktu dan fokus yang cukup lama. Aku harus menyelesaikan semuanya satu per satu.</p> <h2 id="deadline-berdasarkan-waktu-bukan-pencapaian">Deadline berdasarkan Waktu, bukan Pencapaian</h2> <p>Jika aku membatasi diriku untuk satu project saja, berarti aku harus membatasi waktu <em>deadline</em> menjadi sangat pendek, menjaga <em>the power of kepepet</em> selalu memburuku tiap hari.</p> <p>Dan memang, saat aku fokus dalam satu hal saja, produktivitasku ternyata meningkat drastis. Contoh nih, 10 hari yang lalu, aku memutuskan untuk merombak ulang TEXDraw sambil belajar syntax TeX dan mengaplikasikannya kedalam prototipe TEXDraw terbaru.</p> <p>Hasilnya? 19 commit yang jika diakumulasikan menjadi setengah juta baris koding!</p> <p><img src="https://res.cloudinary.com/wellosoft/image/upload/v1564506989/blog/AWeekWithPlainTEX.png" alt="" /></p> <p><em>Yuuhhuuu, rekor baru dalam 10 hari!</em></p> <p>Aku awalnya tidak percaya. Tapi ya itulah kenyataannya. Satu hari hanya ada 24 Jam – cukup sedikit – namun jika kamu bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, maka satu jam dapat berarti banyak hal. Menurutku waktu itu seperti E=mc², sehingga bagi kita waktu terasa sedikit, merasa selalu kurang – namun jika kita memanfaatkannya untuk sesuatu yang berarti, maka waktu akan berubah menjadi sebuah hasil, dan bagian kecil waktu itu adalah hasil yang sangat besar.</p> <p>Oh, dan resep cabe rawit: Komitmen ku tidak hanya satu project saja, namun juga memprioritaskannya dalam setiap saat. Jadi, selama 10 hari tersebut mulai jam 6 pagi sampai 9 malam aku terus fokus mengerjakannya. Dan, aku juga memotong waktu di perjalanan – jadi saat itu aku dalam di komplek kampus, jadi urutannya aku mengerjakannya di pagi, jam 9 bergerak sarapan dan ke tempat magang (rektorat), sore beralih ke lab, sampai jam 9 malam baru beli makan malam dan pulang. Sederhana, <em>but it’s amazing</em>, Mungkin keseharian ini akan aku terus pertahankan agar aku tetap efisien seperti ini.</p> <p>So yeah, Takeaway: Jika kamu mengalami kesusahan mengatur waktu, cobalah saranku ini:</p> <ul> <li><strong>Fokus</strong> pada satu hal yang menurutmu paling urgent untuk diselesaikan terlebih dahulu.</li> <li><strong>Buang</strong> semua hal yang dapat mengganggu konsentrasimu, baik itu HP hingga jadwal lain yang tidak penting.</li> <li><strong>Singkatkan</strong> waktu tempuh target yang kamu capai hingga mulai tidak bisa diterima akal sehatmu.</li> <li><strong>Jangan Menunggu</strong>, lakukan semua hal secara mandiri bila perlu, dan hindari menunda pekerjaan karena menunggu suatu hal.</li> <li><strong>Pray</strong>, <strong>Hardwork</strong> dan <strong>Profit</strong>.</li> </ul> <p>Good Luck!</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Selamat Lebaran</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/selamat-lebaran.html"/>
  <updated>2019-06-04T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/selamat-lebaran</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>4 Juni 2019. Malam lebaran.</p> <p>Ramadhan tahun ini telah usai. Apakah kamu merasa kehilangan? Entah mengapa, Ramadhan kali ini aku baru menyadari.. sesuatu telah hilang dariku.</p> <h2 id="semester-lalu-dan-akan-datang">Semester lalu dan akan datang</h2> <p>Aku meninjau kembali diriku yang lalu, dan aku temui diriku yang terpontang panting – performaku lebih buruk bahkan dari semester lalu. <em>Dari semester 2 itu, pencapaian apa yang berhasil ku jalankan?</em> Tidak ada. Nihil.</p> <p>Bahkan dibandingkan saat aku libur seminggu yang lalu, performaku menakjubkan: 10000+ baris koding dalam seminggu. Aku ulangi – dalam satu minggu. Terus apa saja yang aku lakukan dalam satu semester yang lalu? Sungguh, sepertinya aku telah merugikan waktuku sendiri.</p> <h2 id="hilangnya-ramadhan-ialah-hilangnya-himmahku">Hilangnya Ramadhan ialah hilangnya himmahku</h2> <p>Sedih rasanya aku membiarkan ramadhan kali ini lewat karena ambisiku mencari duniawi. Namun sepertinya disitulah hikmahnya – aku pun melihat sendiri bahwa ibadahku pun terpontang panting – yang pula mencerminkan bahwa keseharianku saat masa perkuliahan selalu berubah2 tiada aturan.</p> <p>Aduhai. Malangnya diriku. Buat apa berambisi duniawi jika destinasi akhirat terlupakan? Aku harus bersumpah pada diriku sendiri aku tidak boleh telat dari jadwal shalatku mesti hanya 30 menit!!! Kemunduranku merupakan kerugian bagiku.</p> <p>Dan, jika besok adalah waktunya bermaaf-maaf an, maka tujuan pertamaku ialah pada Tuhan. “Ya allah, maafkanlah hamba yang selalu lupa kehadiranmu”.</p> <p>Mulai malam ini. Mulai detik ini. Aku ingin berkaca kepada Tuhan, kepada diriku yang lampau, kini, dan akan datang. Mungkin aku tidak akan menyentuh ambisiku terlebih dahulu selama seminggu ini. Untuk momenku terhadap refleksiku.</p> <p>Dan, bukanlah sebuah memo jika tidak ada pepatah yang dapat menggetarkan pikiranku…</p> <hr /> <p>Illaliqo’ Ramadhan. Marhaban ya Iidil Fitri.</p> <p>Kepada semua pembaca setia saya, saya ucapkan terima kasih banyak dan selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin.</p> <p>Wildan M – memo.wellosoft.net</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Alkisah Kancil dan Kura-Kura</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/alkisah-kancil-dan-kura-kura.html"/>
  <updated>2019-04-03T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/alkisah-kancil-dan-kura-kura</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Alkisah ada seekor kancil dan kura-kura. Suatu hari kura-kura tidak terima ketika diejek “lamban” oleh kancil. Maka, dengan berani kura-kura mengajak duel lari dengan kancil. Kancil tertawa lebar, “mana mungkin kamu bisa menang?” ujarnya. Namun keputusan kura-kura telah bulat, sehingga kancil menerima tantangan tersebut.</p> <p>Dihari esoknya, mereka berlomba. Lomba itu disaksikan oleh banyak penghuni hutan. Wasit meneriaki, tanda untuk memulai pertandingan. “Prit”, dan mereka melaju. Kancil berlari sangat cepat menjauhi kura-kura yang lambat. Saat kancil sudah sangat jauh dari kura2, dia bersantai sejenak di pohon rindang “ah, lagipula si kura2 masih sangat lama”, namun malang, dia tertidur. Dia baru bangun saat si kura-kura sudah mencapai garis finish. Bahagianya kura-kura, kancil hanya bisa menyesali perbuatannya.</p> <p>Apakah kisah ini sudah familiar dimata anda? Tentu iya, namun kisah ini masih berlanjut…..</p> <p>Kancil tidak terima dengan kekalahannya, maka dia minta berduel lari lagi untuk hari esoknya. Kura-kura tentu was was, menyadari kemenangannya ialah karena ia beruntung, namun demi menjaga harga diri, dia menerima tantangannya.</p> <p>Keesokan harinya, mereka berduel lagi. Kali ini kancil tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada kura-kura. Dia fokus untuk melesat cepat sampai di garis finis. Akhirnya? Tentu kancil menang. Kura-kura bersedih, kembali menyadari kemampuan terbatas dia yang tak pernah bisa menandingi kecepatan lagi kancil.</p> <p>Lalu apakah kura-kura menyerah? Tidak, dia berpikir keras bagaimana untuk mengalahkan kancil. Lantas lalu mengajak kancil bertanding lagi. “Tapi aku yang menentukan tempatnya besok”, ujarnya. Kancil pun mengangguk setuju, toh itu tidak menutup kemungkinan dia yang tetap menang karena kecepatan larinya.</p> <p>Keesokan harinya ditempat lari yang ditentukan si kura-kura, mereka bertanding kembali. Kancil dengan semangat berlari meninggalkan kura-kura yang berlari santai hingga jauh. “Tumben kura-kura terlihat lebih santai berlari?” ujarnya dihati. Namun itu tak akan mengendorkan semangatnya untuk tetap berlari hingga…. Tunggu! Kancil sudah berada dekat dengan garis finis. Namun alangkah kagetnya, diantara dia dan garis finish, terdapat sungai yang lebar. Bagaimana ia akan melewatinya? Ia menilik kiri dan kanan, tak ada jembatan yang terlihat. Dia bingung berputar. Namun lihat, saat kura-kura sudah di dekat sungai, dengan santai dia berenang mendekati garis finish, dan berhasil melewatinya. Alhasil, Kura-kura menang.</p> <p>Kejadian ini kembali berputar. Kura-kura kembali bangga dengan kemenangannya. Kancil tidak percaya, ternyata kali ini dia masih bisa dikalahkan. Dia merasa takjub sekaligus heran. “Tidak apalah kura-kura menang hari ini, tapi lihat, siapa yang menjadi juara besok”. Dia menantang kura-kura bertanding lagi besok, di tempat yang sama. “Hei, bukankah dia jelas-jelas tidak bisa menyeberang sungai? Lantas apa rencana dia besok?”, ujar kura-kura dalam hati. Namun tentu kura-kura tetap menyetujuinya.</p> <p>Keesokan harinya, mereka bertanding lagi. “Prit” bunyi peluit wasit, tanda mulai berlari. Namun sekarang ada yang berbeda, kancil tidak lari menjauhi kura-kura, namun lari sambil membawanya. “Apa yang kau lakukan, kancil?”, kancil menjawab “Kita unik, aku bisa berlari, kau bisa berenang. Mari kita lihat seberapa cepat kita bisa melewati garis finish bersama”. Kura-kura terpesona, ia paham, ini adalah pertandingan damai. Saat mereka sampai ditepi sungai, bergantian kura-kura berenang, dan kancil naik ke atasnya. Lantas mereka bersama-sama lari melewati garis finis.</p> <p>Hasilnya? Mereka seri, namun mereka dua tetap sangat gembira. Mereka menyadari kalah menang itu bukan persoalannya. Namun, jika mereka bekerja sama, mereka mampu memecahkan rekor lari yang tak pernah terbayang sebelumnya, bahkan untuk seluruh penghuni hutan sekalipun. Setelah kejadian ini, kancil dan kura-kura bersahabat akrab, untuk selamanya.</p> <p><em>Tamat</em></p> <hr /> <p>Dari sini, apa hikmah yang bisa kau petik dari cerita yang singkat ini?</p> <p>Di hari pertama. Kita harus meneladani kegigihan kura-kura. Dia tahu, dia sangat lamban, mudah sekali untuk dikalahkan, Namun, dia tak membiarkan mentalnya down, justru lebih tertantang karena itu. Alhasil berkat kelalaian kancil, celah kura-kura untuk menang terbuka lebar. Dia tidak mengira akan bisa menang dengan cara demikian.</p> <p>Didunia ini kadangkala unsur keberuntungan memang ada, namun tahukah kamu? Peluang itu hanya terbuka jika kita mengambil pantangannya. Andaikan kura-kura tidak berani mengambil resiko bertanding, peluang dia untuk menang drastis turun ke nol, karena dia kalah sebelum bertanding. Tidak boleh kita seperti demikian, melewatkan banyak kesempatan yang berlalu lalang. Jangan biarkan pikiran negatif menutupi peluang emas yang kita dapatkan.</p> <p>Di hari kedua, kita patut meneladani kancil. Saat kita sudah berada diatas awan, diatas puncak, kita harus senantiasa giat, belajar untuk lebih baik. Tidak boleh lengah seperti kancil dihari pertamanya. Jangan berpikir jika kita sudah mencapai mimpi kita, setelah itu selesai, santai bermalas-malasan. Hidup tak bekerja seperti demikian, kita hendaknya tetap melanjutkan perjuangan ke visi sukses yang lebih besar, atau kesempatan kita akan raib oleh orang lain yang lebih giat dan ambisius.</p> <p>Di hari ketiga, apa yang dilakukan kura-kura? Dia tidak menyerah. Dia mencari cara lain, dan ternyata dia berhasil dengan cara itu. Untuk menggapai sukses, selain bersungguh-sungguh, ialah harus mengetahui sifat, keunikan, kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Kita berkompetisi di ranah yang kita minati. Ini pula berarti kita tidak boleh meremehkan kemampuan orang lain, karena boleh jadi bakat terpendam mereka lebih hebat dari yang kita punya.</p> <p>Di hari keempat, kancil menyelesaikan persoalan dengan sebuah kerjasama. Di dunia bisnis, kita boleh berkompetisi satu sama lain, namun mereka yang unggul, ialah yang rajin berkoordinasi, menerapkan win-win solution kepada yang lain, bahkan musuh sekalipun. Seperti kancil dan kura-kura, kerjasama mereka terbayarkan oleh rekor lari tercepat yang sangat menakjubkan. Mereka pun membuktikan, bahwa individual yang hebat dapat dikalahkan dengan mudah oleh tim dengan koordinasi yang hebat.</p> <p>Satu lagi, hal terakhir yang patut diteladani dari mereka ialah, mereka tidak menyerah. Kegigihan mereka dalam empat hari untuk berupaya menjadi yang terbaik itu patut diteladani. Kamu pun sepatutnya demikian, karena ada banyak jalan sukses yang bisa kamu tapaki. Hanya saja kita tidak pernah tahu apa jalan yang kita lewati itu berliku-liku, curam, atau susah untuk dilewati. Kegagalan bukan pertanda masa depan yang curam. Jangan takut untuk berubah hari demi hari.</p> <hr /> <p>Lalu apa kaitan cerita ini denganku?</p> <p>Pertama, aku mendapatkan cerita ini dari buku Miss Merry “<a href="https://naeliltheclimber.wordpress.com/2016/08/24/resensi-buku-merry-riana-langkah-sejuta-suluh/">Langkah Sejuta Suluh</a>”. Yang mebuatku terkesan ialah, analoginya yang sederhana namun mengena, dan itu terbungkus dengan cerita fabel yang klasik. Dan, apa yang bisa dipetik dari cerita tersebut ialah selaras dengan apa yang aku alami: Mulai dari hari pertama hingga keempat. Dan kata untuk “tidak menyerah” di endingnya itu semakin membuatku terpanggil untuk meraih butir sukses kesekian kalinya.</p> <p>Pernah kali dulu aku iri dengan yang lain. Mengapa aku unik? yang lain asik bermain aku sendiri mengutak-atik coding dengan algoritma tidak jelas. Itu merefleksikan hikmah dari hari pertama: aku tidak ragu pada diriku sendiri. Lalu, yang kedua, setelah aku sukses mengulur hobi menjadi bisnis, aku anggap itu “sukses kecil”, dan ternyata aku masih belajar, aku tetap lanjut kuliah. Itu hikmah dari hari yang kedua. Yang ketiga, aku mendeklarasikan minat diriku “web &amp; game desain melalui algorithma” pada websiteku. Itu yang aku ingin dalami dan fokus setelah menilik apa saja yang aku kerjakan, apa yang aku sukai dan apa yang aku bakati. Itu hikmah dihari ketiga. Dan hikmah di yang hari terakhir ialah, aku berinvest untuk mendidik dan memotivasi semua rekan dan sahabat di kampus yang aku pernah singgahi, yang sekiranya mudah untuk diarahkan dan bisa bekerjasama denganku, karena aku yakin, kelak mereka pun akan menjadi partner tim bisnis yang handal kelak nantinya, saat mereka sukses jauh seperti diriku.</p> <p>Untukku, aku tidak akan berhenti sampai aku meraih sukses yang setara dengan orang tuaku gapai dulu. Untukmu, bergeraklah untuk mengukir semangat seperti yang ditunjukkan si kura-kura dan kancil seperti yang diceritakan artikel ini.</p> <p>Dan, tidak luput aku ucapkan, terima kasih buat motivasinya Miss Merry, melalui buku tersebut, untuk kesekian kalinya.</p> <p><strong>Takeaway</strong>:</p> <ul> <li>Jangan bandingkan kemampuanmu dengan yang lain. <em>Be yourself</em>.</li> <li>Tetaplah melangkah ke sukses yang lebih besar jika visi mu sudah tercepai.</li> <li>Tetaplah fokus dengan apa yang kau sukai dan minati.</li> <li>Bangunlah sebuah tim dan komunitas hebat.</li> </ul>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Efisiensi dan Efisiensi</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/efisiensi-dan-efisiensi.html"/>
  <updated>2019-03-19T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/efisiensi-dan-efisiensi</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Jujur, aku belum pernah merasa sebebas dan seberuntung ini, mulai dari sekarang.</p> <p>Pertama-tama, aku harus berterima kasih kepada kalian semua – pembaca setia saya, keluarga, teman dan sahabatku semua, meski jika aku kenal hanya sebatas pandangan saja. Dari memahami seluk beluk kalian, masalah kalian satu-persatu. Aku paham, dan mengambil kesimpulan – bahwa aku harus banyak bersyukur kepada Tuhan.</p> <p>Bersyukur atas masa laluku yang begitu kelam. Bersyukur atas masalah unik yang sedang kuhadapi. Bersyukur atas visi besar yang akan aku wujudkan di masa depan.</p> <p>Percayalah, meski aku rasa aku tak perlu memikirkan nilai atau sesi dan tugas perkuliahan – tugas ku jauh lebih banyak diluar itu, dan takaran masalahnya sama, hanya berbeda level. Termasuk membantu kalian untuk memahami setiap masalah coding dalam tugas yang diberikan, itu tetap menjadi PR terberatku hingga saat ini.</p> <p>Kau mungkin sudah tahu tipe-ku: Introvert dan pemalas. Namun jangan salah paham, meski aku Introvert, aku menyimpan lebih dari 300 kontak sekarang, dan story WhatsApp ku terkirim ke lebih dari sepertiganya. Dan aku pemalas, namun itu bukan berarti lari dari tanggung jawab. Aku sangat suka meng-automasi semua hal, tidak cuman sebatas coding, namun pula memanajemen lifestyle. Perlu ada suatu aturan yang membatasiku agar automasi itu berjalan lancar. Dan aku sedang menggalakkan itu besar-besaran sebagai bagian dari revolusi tahun ini.</p> <p>Beberapa hari terakhir aku mengukur keseharianku sendiri, dan ada beberapa hal yang ingin aku luruskan, alias meningkatkan efisiensinya. Aku berusaha untuk tidak menentang pola yang akan aku terapkan. Simak baik-baik.</p> <h2 id="automasi-1-finansial">Automasi #1: Finansial</h2> <p>Beberapa hari yang lalu. Uang 500 ribu ludes entah kemana. Memang kebutuhanku banyak, tapi aku tak menyangka bakal secepat itu habisnya. Dari situ aku juga ingat beberapa kejadian yang lalu saat aku menarik uang dari ATM 3 kali hanya dalam hitungan hari.</p> <p>Karena tidak ada yang membatasinya, aku mereview kembali pengeluaranku. Alhasil, aku mengeluarkan fatwa tuk diriku sendiri:</p> <blockquote> <p>Bagaimanapun caranya, batas pengeluaranku harus tak lebih dari <strong>satu juta per bulan</strong>.</p> </blockquote> <p>Jika dihitung-hitung, tiap hari bisa dijatah, 30 ribu per hari. Di breakdown menjadi 20 ribu untuk makan + kopi, dan sisa 10 ribu untuk keperluan lain. Jika total ada 30 hari, berarti ada sisa (1.000.000 - (30 * 30.000)) = 100.000 (seratus ribu), akan aku jadikan itu sebagai bonus per-minggu 20 ribu untuk keperluan lain.</p> <p>Mungkin pertanyaan mu sekarang, hei! bagaimana aku bisa bertahan dengan makan hanya 20 ribu per hari? Mudah. Disini satu porsi + lauk rata-rata 8 ribu. Minum? Aku isi sendiri dari air galon. Ada sisa 4 ribu untuk memesan kopi di malam hari. Kalau aku tidak ngopi, mungkin menu makanku lebih mewah. Aku ingat soto ayam + es teh itu seharga 10 ribu disini. Dan jangan heran, lifestyle makan 2 kali sehari memang sudah aku biasakan sejak berminggu-minggu lalu.</p> <p>Bagaimana dengan keperluan lain? Jika dihitung, ada ekstra (30 * 10.000 + 5 * 20.000) = 400 ribu. Motorku perlu diisi Pertalite 20 ribu setiap 80 kilo, atau paling parah, memakan jatah 3 hari tiap minggu. Ada sisa 40 ribu + 20 ribu bonus. Bonus itu bisa aku buat amunisi snack, atau beli buku baru. jadi sisa 40 bisa aku pakai untuk iuran atau kebutuhan lain.</p> <p>Sisa 10 hari di bulan Maret ini akan aku jadikan latihan, dan protokol itu akan efektif mulai April mendatang.</p> <h2 id="automasi-2-jadwal-tidur">Automasi #2: Jadwal Tidur</h2> <p>Sungguh, mengakali keterbatasan fisik untuk mengurangi jam tidur itu sulit, namun masih sangat mungkin. Hanya perlu pembiasaan yang teratur dan matang.</p> <p>Dari beberapa sumber yang aku baca. Tidur manusia itu tidak didesain untuk langsung dilahap satu stop saat malam hari. Jam tidur yang paling efektif ialah membaginya dengan stop-stop kecil, seperti tidur siang. 2 jam tidur jam 1-3 siang dan 5 jam tidur 12-5 pagi adalah porsi yang sangat pas untuk mahasiswa dengan jadwal sibuk.</p> <p>Tapi percayalah, itupun masih kurang untukku. Aku mengakalinya dengan segala cara, dan aku tahu pola terbaik untukku:</p> <p>Pertama, aku sering tidak sempat tidur siang, jadi aku menggantinya dengan tidur selepas subuh, dan selepas magrib. Tepatnya setelah sholat berjamaah, dzikir dan tahlil dilakukan dipondok setiap hari selama minimal setengah jam, aku bisa manfaatkan itu, lagipula aku dulu dipondok juga sering demikian. Lalu, malamnya aku bisa tidur biasa, jam 11-4 pagi (5 jam), atau jika aku begadang, 4 jam tidur bisa aku kantongkan untuk siangnya. Tidak mudah awalnya, namun tubuh kita mempunyai sistem adaptasi yang luar biasa.</p> <p>Dan mengapa malam begadang? Karena itu jam terbaik untuk fokus. Tidak ada kesibukan lain yang bisa mengganggu ketenangan ku dimalam hari.</p> <h2 id="automasi-3-manajemen-waktu">Automasi #3: Manajemen Waktu</h2> <p>Hmm. Ini yang paling susah. Jadwalku tak ada yang menentu selama pagi hingga sore hari.</p> <p>Beberapa waktu aku mengerjakan tugas kuliah (tidak mengganggu sih kalo ini, kebanyakan selesai dalam 30 menit), terkadang bantu temen ngoding, terkadang ngerjakan sesuatu di lab, terkadang kalau lebih tenang, menyicil projek ataupun menghabiskan buku.</p> <p>Namun yang jelas, beberapa minggu terakhir aku mencoba untuk tidak multitask. Chat auto off jika aku mengerjakan sesuatu. Namun terlalu fokus juga tidak baik, maka dari itu aku pula mencoba metode <em>Pomorodo</em>: 5 menit break setiap setengah jam. Aku tidak menyalakan timer, namun aku akan tahu sendiri saat ide mentok atau aku sedang berputar-putar tidak jelas. Itu waktu singkat namun berharga.</p> <p>Aku tahu, sebenarnya banyak dari kalian ingin sekali meminjam waktuku untuk membantu mengerjakan tugas, atau belajar yang lain. Namun aku mengamati pola yang mengganjal: Kebanyakan mereka request saat detik deadline singkat sudah dimulai. Pernah suatu kejadian aku diperebutkan di tiga warkop berbeda di waktu yang sama. Mungkin mereka bisa mengganggapku orang PHP – banyak sekali jadwal janjian yang gagal, kadang pula buatku kesal juga. Tapi buat apa? Toh aku sekarang memperketat jadwal begadangku, namun nihil pula yang ngajak begadang pula. Hmm.</p> <p>Dan, banyak pula sebenarnya yang mengambil jalan tengah – minta bantuan online – Via WhatsApp. Untuk menjelaskan singkat, boleh-boleh saja. Tapi kebanyakan juga yang error, atau minta jalan pada coding yang setengah jadi, itu yang sangat parah. Dulu aku bisa meladeni mereka, sekarang tidak, karena kau tahu, bertemu langsung itu 10 kali lebih menghemat waktu daripada via online. Btw, kalau mereka tak respect waktuku, kenapa aku masih meladeni mereka?</p> <p>Lagipula, kau bisa menebakku dimana aku standby mengerjakan tugas – Siang antara aku di Lab, atau warkop Suka-suka. Kalau malam, diantara aku di warkop DNA atau Wisti. Nyaris aku tidak mengerjakan ditempat lain, seperti pondok atau kos, jika tidak ada yang mengajak. Chat dimana aku sekarang, pasti aku kasih kau tempatku dimana, dan pintuku pasti terbuka lebar.</p> <h2 id="automasi-4-dimana-mimpiku-akan-berpijak">Automasi #4: Dimana Mimpiku akan Berpijak?</h2> <p>Saat aku mendaftarkan diriku masuk ke universitas ini, aku sudah bulat tidak sedang mengejar nilai atau unsur akademik – Kalau aku demikian pastilah aku sudah mendaftar jalur mandiri ITS atau univ unggulan lainnya sejak dua tahun yang lalu.</p> <p>Selain mengulur waktu, aku disini untuk mencari relasi sebanyak-banyaknya. Memperkaya CV juga salah satunya, maka dari itu berbagai event aku ikutkan, jadi pengurus UKM? jadi Warga Lab? Ok ok saja. Aku juga mengusahakan untuk mendaftar beasiswa dan berbagai workshop/pelatihan kedepannya.</p> <p>Oh, dan jangan lupa kenapa aku sangat ingin sekali melanjutkan studi lanjut keluar negeri, karena itu adalah gerbang untuk mempunyai relasi ke manca negara. Akademik adalah jalur masuk akal yang bisa aku pikirkan sekarang, namun bukan tujuan utama. Relasi bisnis itulah yang sangat aku incar, sebagai tantangan terbesar untuk seorang wirausaha/entrepreneur. Jadi investasi melewati jalur akademik pun, tidak ada salahnya bukan?</p> <p>Dan hei! Kenapa aku bisa sampai memikirkan masalah dari segi bisnis? Itu karena akupun sudah mencicipi dunia bisnis digital sejak lama. Sudah lama sejak itu tekadku bulat, aku tak akan mencari pekerjaan tetap atau jadi pegawai, meski di rekrut oleh Google sekalipun. Aku lebih memilih mempunyai bisnis jual beli sendiri, atau menurut Tony Robbins, <em>an automated money vending machine</em> (<em>mesin penghasil uang otomatis</em>).</p> <p>Sudah 3 tahun lebih, aku mendaftar sebagai <a href="https://wellosoft.net/asset-store/">publisher</a> aset digital di Unity Asset Store. Dan Alhamdulilah, sampai kini omset minimal beberapa juta cair setiap bulannya. Apa yang harus lakukan? Aku hanya perlu menjaga aset-aset itu untuk tetap berfungsi dari waktu ke waktu, <em>maintenance release</em>, kadang pula memenuhi permintaan konsumer. Itu lah mesin uang yang Tony Robbins maksudkan, mampu mencetak uang bahkan disaat ku tertidur lelap – Salah satu pilar terpenting untuk mencapai <em>Financial Freedom</em>.</p> <p>Meski demikian, aku tak akan terlena. Ingin sekali aku membangun mesin kedua, mengelolanya secara mandiri, dan menghadiahkan 100% mesin pertama pada orang tuaku sehingga mimpi mereka lebih cepat terwujud. Maka dari itu, salah satu upayaku, ialah meminimalisir pengeluaran, dan mencari celah untuk mesin kedua. Target ku di penghujung tahun ini, ialah bagaimana aku harus <em>lepas</em> dari meminta transfer dari orang tua, <em>for once and for all</em>.</p> <h2 id="addendum-automasikan-dirimu">Addendum: Automasikan Dirimu!</h2> <blockquote> <p>Tidak ada yang sulit didunia ini, justru yang sulit ialah mengubah pikiran kita yang serba sulit.</p> </blockquote> <p>Yang aku pesan dari kalian semua ialah, jangan pernah terlena membiarkan waktu terkuras, sementara anda sendiri belum berkontribusi pada orang tua, pada orang lain, pada negeri ini. Jika kamu masih merasa tidak punya bakat apapun untuk memulai petualangan ekstrim-mu sendiri, cobalah reka ulang masa lalumu, dan utarakan, mimpimu tuk kedepan. Jalan hidup seperti itu akan pahit, pada awalnya. Namun orang-orang yang beruntung, pasti melihat itu sebagai tantangan, bukan sebagai rintangan.</p> <p>Saat kau memulai tuk meniti tapak kesukseskan, kau akan bergerak sangat lambat, namun semakin lama, akan semakin terbiasa, semakin efisien. Kau akan tahu sendiri apa kelebihan dan kekuranganmu. Selalu eksplorasi kelebihanmu, dan ekspoitasi kekuranganmu. Dan jangan lupa pesanku terakhir: <strong>berdoalah</strong>.</p> <p><strong>Takeaway</strong>:</p> <ul> <li>Cobalah berhemat seperti metode diatas jika anda mempunyai masalah dengan pengeluaran</li> <li>Usahakan untuk membagi waktu tidur agar lebih efisien</li> <li>Pintar-pintarlah membagi waktu untuk orang lain</li> </ul>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Bagaimana Aku bisa Secepat Ini?</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/bagaimana-aku-bisa-secepat-ini.html"/>
  <updated>2019-02-22T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/bagaimana-aku-bisa-secepat-ini</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Semester kedua baru saja dimulai. Ini minggu keduaku. Dan aku yakin, ini lebih gila dari semester sebelumnya.</p> <p>Meski masih tidak berefek padaku, maksudku, tentu tidak terlalu sulit untuk memahami pelajaran di Informatika ini – karena itu hobiku. Bahkan jika memang aku tidak tahu konsep yang diajarkan, maka tinggal beberapa googling dan referensi dari internet, aku bisa mengerti materi itu dalam hitungan menit.</p> <p>Sejujurnya. Hanyalah itu kelebihanku. 10000+ Hours of coding, sepenuhnya otodidak, dan hingga saat ini aku masih suka belajar hal baru secara mandiri. Dan aku berada disini, ditengah bangku-bangku perkuliahan, duduk manis, menatapi dosen killer mengajar di kelas. Bukannya takut atau pusing, aku malah tertawa kecil dan memasang wajah nyengir dihati, karena terkadang materi itu mengingatkanku bagaimana gregetnya memahami konsep itu, dua atau tiga tahun yang lalu sewaktu aku membutuhkannya untuk melanjutkan proyek ku yang penuh ambisi dan keingintahuan.</p> <p>Namun saat ini, bukan itu aku pikirkan, bukan itu yang aku khawatirkan. Karena disebelah kanan dan kiriku, terdapat orang – temanku sendiri, mungkin tidak bisa mencerna materi itu dengan cepat. Aku heran, namun mengangguk takzim, mungkin aku bisa membantu mereka – Maksudku, aku tahu dalam hal ini, aku lebih berpengalaman. Tidak ada salahnya pula untuk <em>menginvest</em> untuk orang lain, membantu dan menjalin relasi yang lebih banyak, karena aku yakin akan membutuhkan mereka pula nantinya, sekeras aku percaya pada <em>karma baik dibalas oleh karma baik</em>.</p> <p>Namun, menitik dari masa lalu, semester lalu, dan pengalaman yang lalu. Jelas-jelas masalah ini menjadi lebih serius dari yang aku kira.</p> <h2 id="shenaningas-tekad-berguncang-tiada-henti">Shenaningas, Tekad Berguncang tiada henti.</h2> <p>Orang-orang mungkin mengganggapku sebagai master, guru atau apalah, menilik dari… bahwa aku tahu banyak tentang masalah IT, mampu menyelesaikan masalah mereka dengan langkah 1..2..3, dan aku pun mampu belajar tentang IT dalam waktu singkat. Namun percayalah, aku hanya manusia biasa, dan aku tak mempunyai rahasia atau apalah yang membuatku unik.</p> <p>Sungguh, tak ada teknik khusus belajar dariku daripada aku memang sudah tau konsep-konsep tersebut itu dari awal, seberapa ambisius aku mempelajarinya, dan membayangkan seberapa penting mempelajarinya untuk keberhasilan projek IT ku yang sedang aku kerjakan – Begitu siklus itu berjalan hingga puluhan, mungkin ratusan projek kecil hingga ratusan ribu baris koding sudah aku luapkan dalam 10000+ jam praktik – jangka waktu takaran yang cukup untuk seseorang menjadi ‘master’ dalam mendalami skill apapun.</p> <p>Menurutku, jika aku saat sekecil itu, umur 12 tahun, mengganggap <em>programming</em> menjadi <em>mainan pengasah otak yang seru</em>, mengapa yang lain, mereka yang duduk disebelahku tidak? Aku akui memang, dipaksa untuk belajar adalah metode terburuk untuk sistem edukasi yang sudah berjalan ratusan tahun, apalagi ditakuti oleh dosen-dosen killer yang menuntut untuk bisa secara eksak, apakah mereka akan sanggup melakukannya?</p> <p>Lagipula masalah ini tentu bisa lebih parah. Aduhai, maksudku lihatlah mereka yang mengira salah jurusan – pikiran mereka penuh akan penyesalan masuk mendalami IT. Begitu mereka selesai dengan penyesalan mereka, tentu beberapa tahun kemudian mereka dipontang-panting oleh <em>mau jadi apa aku nanti?</em>. Namun sayang, pukulan itu masih belum cukup, karena aku lihat ada pula dari mereka, yang mempunyai keterbatasan pemahaman, keterbatasan ekonomi, atau bahkan keterbatasan mental – mereka yang sulit menerima istilah dan konsep baru, mereka yang kapasitas laptop yang cukup mengenaskan, mereka yang pupus, buntu, pasrah terhadap detik-detik jatuh tempo tugas yang diberikan. Dan… Aduhai, aku tak tega membahasnya lebih jauh.</p> <p>Ini adalah fakta yang nyata namun mengenaskan – manusia pada umumnya terlalu sibuk pada bahkan satu persen kegagalan, mengabaikan 99% perjalanan yang membawa mereka kemari. Mereka lupa perjuangan mereka disini, telah melumpuhkan 90% lebih calon pendaftar demi mereka yang lolos. Dan hey, ini adalah dunia perkuliahan, dunia pendidikan – Dunia yang bebas masalah politik, ekonomi, dan pekerjaan – Agar diri kalian siap menghadapi dunia luar yang kejam. Sayang sekali beberapa orang memang tak bisa memisahkan masalah pribadi mereka murni untuk pendidikan, namun apalah daya. Tidak semua orang mempunyai kesempatan yang setara. Maklum, aku paham akan soal itu.</p> <p>Dan sepatutnya, mereka yang tidak mempunyai masalah-masalah diatas – haruslah turun tangan membantu. Aku termasuk salah satunya, namun pertanyaannya, apakah aku bisa?</p> <h2 id="aku-atau-kamu">Aku atau Kamu</h2> <p>Sejak hari pertama aku melayani mereka yang ingin belajar denganku. Maksudku, aku bukan dosen, namun bisa menjadi selingan teman belajar yang baik. Deskop, Web, Mobile, aku pernah menjejahi dunia tersebut dengan berbagai macam bahasa, mereka bisa menanyakan kapanpun mereka mau. Namun aku mengerti, mereka tak akan bertanya sejauh itu. Desakan tugas kuliah membatasi gerak geriknya secara bebas. Pikiran mereka sudah cukup penuh akan hal itu.</p> <p>Lagipula, mereka mempunyai masalah serius, yakni <strong>Kendala Bahasa</strong>. Ribuan kali aku telah Google sana sini, mengerti istilah ini dan itu, terimakasih berkat skill bahasa inggris ku yang kuat, aku bisa leluasa mencari referensi IT langsung ke sumbernya. Sayangnya ini tidak berguna bagi mereka yang tutup mata untuk materi berbahasa inggris, mengganggap mereka adalah bahasa Alien yang susah dipahami. Kau tahu, 99% pertanyaan mereka lontarkan padaku, semuanya bisa dijangkau di Google, dengan satu query yang simpel, yang hanya membutuhkan beberapa detik untuk mencarinya. Namun karena bahasa, beberapa detik itu omong-kosong, aku bersusah payah menjelaskan masalah-masalah sederhana mereka. Beberapa detik dibayar dengan beberapa jam hanya karena mereka <em>buta</em> bacaan inggris. Miris dan menggelikan.</p> <p>Yang kedua, ialah <strong>Kendala Minat</strong>. Mereka tidak seperti aku dengan segala kesibukan proyek kecilku sendiri. Mereka <em>blank</em>, pasif. Apa yang tidak diperintahkan oleh dosen, maka mereka tidak akan mengerjakannya. <em>Aku mau belajar web</em>, tapi mereka tidak tau web seperti apa yang mereka buat. Haruskah aku menuntun mereka setiap langkah? Menuntun mereka seperti orang tua renta yang tersesat dijalan? Tidak seru rasanya kalau menatap tatakan yang sama, karena IT membutuhkan kreativitas dan logika yang matang. Lagipula kreasi mereka pun pudar jika demikian, tapi apalah daya jika mereka tak punya gambaran, karena itu bukan kehendak <em>murni</em> dari mereka sendiri?</p> <p>Yang ketiga dan yang paling mengenaskan, <strong>Kendala Sumberdaya</strong>. Aku sudah bilang, ini adalah dunia pendidikan. Idealnya kita harus menyingkirkan segala unsur pelik didunia ini, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Aku tahu banyak temanku yang spek nya mengenaskan disini, atau bahkan tidak mempunyai laptop – Sebagai contoh, lihat, berapa waktu yang terbuang demi menunggu spek laptop mereka yang <em>lemot</em>. Aku menyarankan mereka untuk memasang RAM, satu-satunya cara jitu mengatasi masalah tersebut. Namun terkendala masalah ekonomi? Menabung? Ahh aku pengen menjitak kepalanya. <strong>Jangan pernah mengurungkan niat belajar hanya karena terbataskan oleh ekonomi</strong>, itu slogan yang selalu aku pegang. Tidak ada uang? Kenapa tidak pinjam?. Tidak ada laptop? Kenapa tidak sering-sering ke lab?. Tidak ada software di komputer itu? Kenapa tidak sediakan FD portabel untuk itu?…. Dan bla bla bla. Sungguh aku dulu lebih mengenaskan daripada kalian. Dan itu nyata, tidak ada yang bisa menutup rasa keingintahuan sepertiku dulu. Sabar adalah mahakunci dari segalanya.</p> <h2 id="mencari-jati-diri">Mencari. Jati. Diri.</h2> <p>Dan PR seumur hidupku, aku ingin tahu, lebih dari yang lain, bahwa… Bagaimana aku bisa sampai secepat ini?</p> <p>Diriku, aku mengganggap diriku sebagai unik, maka aku tak boleh menyianyiakan kesempatan ini. Pujian, maksudku rasa terimakasih mereka yang setelah aku membantu mereka – Itu adalah sarapan untuk emosinalku – Aku sejujurnya sangat menghargai itu, meskipun harus dibayar mahal, karena aku membutuhkannya. Sebagai indikator bahwa aku adalah unik, bermanfaat, dan tak boleh menyianyiakan kesempatan ini untuk mengejar sesuatu yang lebih gemilang.</p> <p>Namun miris pula, aku tahu, disaat aku sibuk memikirkan berbagai puluhan cara, menerapkan berbagai bermacam metode pembelajaran. Mereka sendiri yang tidak kunjung berubah. Maksudku, bagaimana mereka akan belajar jika mereka malas mencari referensi sendiri, mencari proyek sendiri, mencari dimana keterbatasan mereka sendiri. OK mungkin mereka lebih terlihat <em>buntu</em> daripada malas, namun bukankah itu sama saja?. Mereka masih mempunyai waktu luang banyak, namun tetap menggantungku sebagai <em>parasit</em> akibat kepasifan mereka, menunggu jawaban “<em>kapan aku free</em>”. Terkadang meminta bantuan yang mendesak saat mereka membutuhkan. Inilah yang aku maksud dengan “bayaran” mahal itu. Terkadang aku tak tidur karenanya.</p> <p>Sampai sekarang, aku masih menerka petunjuk yang ada, buku, novel, literasi. Aku sadar, ini adalah anugrah – sekaligus kutukan. Maksudku, membantu orang lain justru buatku puas. Namun aku mungkin terlalu terbuka, terlalu menghandle banyak orang, yang akhirnya aku nyaris tak punya waktu memikirkan diriku sendiri, meskipun aku masih mempunyai ambisi untuk diriku sendiri.</p> <p>Entahlah, semakin membaca buku, novel, literasi tersebut pula, aku tak gentar menghadapi banyak masalah orang lain, karena, pandangan mataku sekarang lebih luas, seluas hingga…. aku sudah bodoamat dengan masalah sendiri. Ini membuatku santai dan optimis dalam menyelesaikan berbagai masalah – untuk orang lain, dan diri sendiri – entah dalam artian apakah itu lebih bagus atau buruk.</p> <p>Sungguh, Seni untuk belajar otodidak, sepertinya tidak mudah untuk diturunkan. Tak akan bisa turun dengan paksaan, Tak akan bisa tertular tanpa kesungguhan. Kalaupun aku mau, aku bisa belajar skill lain secara otodidak. Memasak misalnya, belajar bahasa baru, atau menyetir mobil. Namun aku terlalu sibuk memikirkan orang lain, sebagai tanggung jawab, daripada diriku sendiri.</p> <h2 id="revolusi-ke-19">Revolusi Ke-19</h2> <p>Roda waktu telah berputar ke-19 kalinya. Saatnya aku gentar menghadapi masalah ini dengan pusaka baru.</p> <div class="language-plaintext highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code>...

I forgot that I should regret a lot from my self.
I forgot that my confusion kills my precious time.
I forgot that my undertermination kills a lot people.
I forgot that my ambitions kills my pure spirit.

I forgot I can make happiness as with simple as a smile.
I forgot I can feel satisfaction by letting things go.
I forgot I can feel safe and sound by having backup plans.

I dream a lot and I chase this world too loud.
It makes me forgot how I am grateful for today.
It makes me forgot, that confusius, as confusion to self, is dangerous.
</code></pre></div></div> <p>Confusius, penggalan dari <a href="/perspektif-baru-talim-mutaalim">full naskah</a> itu. Adalah solusi yang aku sangat idamkan. Namun entah sampai sekarang aku gagal mengganggapnya sebagai protokol tertinggiku. Aku masih menyesuaikan.</p> <p>Inti dari isinya adalah, aku harus mempunyai jadwal rutinitas sendiri, agar waktuku efisien semaksimal mungkin. Tidak hanya itu, aku harus determinitif, tajam, dan ambisius, meminimalisir waktu yang terbuang sia-sia oleh kebimbangan. Aku harus senantiasa bersyukur, tenang, dan dingin dengan meningkatkan intelijensi, namun tetap merendah diri sendiri dimata orang lain – Merubah arah kesalahan orang lain menjadi diri sendiri, lalu membuat tameng dengan perencanaan yang matang. Dan yang terpenting, untuk <strong>tidak bimbang terhadap diri sendiri</strong>, karena itu sangat berbahaya untuk diriku sendiri dan orang lain.</p> <p>Aku akan senantiasa ingat bahwa aku mempunyai harapan – Skenario diatas skenario. Maka aku tegaskan diriku sendiri, rutinitas yang aku jalani, ambisi yang aku persiapkan, protokol yang aku patuhi, untuk petualangan tak terbatas berikutnya. Mental ini harus kokoh, Lelah ini harus menjadi Lillah. Karena aku yakin, bahwa tidak ada yang patut dicari didunia ini, selain ridho ilahi dan kebahagiaan orang lain, ialah benar adanya.</p> <p><strong>Takeaway</strong>:</p> <ul> <li>Baca lagi masalah <em>Kendala Bahasa, Minat, Sumberdaya</em>. Itu adalah paragraf terpenting untuk kalian.</li> <li>Otodidak adalah senjata paling jitu untuk menguasai segala jenis skill.</li> <li>Hari ini adalah ulang tahun ku ke-19. Terimakasih.</li> </ul>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Perspektif baru dari Ta'lim Mutaalim</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/perspektif-baru-talim-mutaalim.html"/>
  <updated>2019-01-20T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/perspektif-baru-talim-mutaalim</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Dulu aku belajar kitab ini saat masa dipondok. Namun apalah dayaku untuk mengerti saat ku kecil itu. Sekarang dengan pertanyaan yang penuh dikepalaku, kitab ini menjawab hampir semuanya. Meski mati satu tumbuh seribu, kitab ini membuka sebuah perspektif yang 180 derajat berbeda dari yang aku rasakan. Aku ingin menerapkan perspektif itu mulai dari sekarang.</p> <h2 id="niat-untuk-belajar">Niat untuk Belajar</h2> <p>Aku suka coding. Dan aku suka mempelajari hal itu sebagai bagian dari hidupku. Tapi kau tahu, apa tujuanku mengejar skill ini?</p> <p>Jika kau lihat dari perspektif kitab ini. Aku salah besar. Maksudku, buat apa belajar kalau hanya mencari kesenangan dunia? Buat apa belajar jika hanya harta dunia yang selalu aku cari? <em>Confusius, as confusion to self</em>, aku tak boleh demikian. Aku harus menggunakannya dengan bijak, untuk kebaikan dan menolong sesama manusia. Ilmu yang aku raih dengan skill ini menurutku sudah cukup tinggi, sehingga ini waktuku untuk menyalurkan apa yang aku dapatkan kepada mereka yang ingin sekali mendapatkannya. Belajar untuk mengajar, mengamalkan untuk <em>amar ma’ruf nahi munkar</em>, yah itu pasti akan sangat sulit.</p> <p>Niat tulus seperti itu tentu akan menyengsarakan diriku, maksudku, aku mungkin tidak akan mempunyai waktu untuk menjalankan to-do list projects yang aku punya, dan aku harus mengabaikan semua offer dari client yang tahu bakatku akan berguna, termasuk maintenance releases dari bisnis yang aku jalankan selama 3 tahun ini. Namun akan selalu kuingat, <em>Happiness doesn’t come from money, it’s comes from inside, as simple as a smile</em>. Aku lakukan apa yang aku suka lakukan, mulai dari niat baik yang tulus, hingga membuat diriku berguna melalui bakat yang aku andalkan.</p> <h2 id="iklash-tanpa-imbalan">Iklash tanpa Imbalan</h2> <p>Hal tersulit dalam kitab ini ialah bagaimana aku harus berharap dan mentarget apa yang aku inginkan selama mengejar sebuah cita-cita.</p> <p>Pertama, niat baik yang tulus. Itu sudah aku bahas. Kedua, aku harus ingat, bahwa <em>Hanya Tuhan yang pantas dijadikan untuk tempat bergantung</em>. Aku tahu sebuah fakta bahwa <em>satisfaction</em> itu setara dengan <em>realita</em> dibagi dengan <em>ekspetasi</em>: Aku tak boleh menggantungkan diri pada orang lain, menggantungkan jadwalku pada orang lain. <em>Confusius, as confusion to self</em>, Jika ada yang tidak lengkap, aku sendiri yang akan mencarinya, karena semakin sedikit harapanku pada orang lain, semakin besar kemungkinan apa yang aku dapatkan.</p> <p>Dan aku harus menerima kenyataan yang paling dasar, <em>Most people don’t care</em>, pada dasarnya tidak ada yang peduli denganku, tak ada yang peduli dengan apa yang aku citakan. Tempatku bergantung itu bukan pada orang lain. Usaha keras dan curhatanku melalui doa, itu yang paling baik diantara yang terbaik.</p> <p>Namun aku harus tetap ingat pada statement pertama. Niat baik yang tulus. Itulah iklash tanpa Imbalan. <em>I expect no return</em>. Tiap kali aku membantu mereka, pastikan aku tak berharap apapun. Hanya ridho sang Ilahi yang ingin aku panjatkan. Tiap kali aku mengejar seseorang, pastikan aku siap menerima segala kemungkinan, termasuk yang paling buruk diantara yang paling buruk. Karena tempatku bergantung bukan disana, melainkan usaha dan do’a.</p> <h2 id="bioritma-sebagai-protokol">Bioritma sebagai Protokol</h2> <p>Inilah kenyataanku yang paling pahit. Kitab ini menerangkan tentang rutinitas yang harus selalu dijaga, namun aku tidak menjaganya dengan baik. Bioritme ku hampir hancur.</p> <p>Serugi-ruginya makhluk ialah manusia yang melewatkan banyak hal seiring waktu berjalan. <em>Malas</em>, jika kau ingin kata pedasnya. Aku adalah Panda yang lelet dan suka mengolor waktu. Itu adalah fakta, bukan opini. Aku adalah orang paling malas didunia ini, dan aku ingin merubahnya. <em>Confusius, as confusion to self</em>, Waktuku harus efisien dan teratur, bioritme ku harus aku jaga dan prioritaskan agar efisiensi ku meningkat.</p> <p>Aku tak ingin melewatkan banyak hal. Aku teringat dulu saat aku bangun teratur jam 3 pagi, memulai pagi dengan air dingin yang segar, berjalan mencium aroma rumput ilalang yang sedap dipandang, atau melanjutkan aktivitas yang aku lewatkan semalam. Teknologi zaman sekarang, handphone dan laptop, itu <em>Noise</em>, penuh dengan kebisingan, dan aku harusnya tidak memulai pagi dengan kebisingan yang mengganggu bioritmeku.</p> <p>Aku pula teringat dulu, setelah 6 jam penuh energi untuk memulai hari, aku harus <em>break</em>, mengurangi aktivitas saat matahari tergelincir. Memulihkan otak dan tenaga, dan lanjut beraktivitas hingga <em>sunset</em>, melanjutkan tugas saat malam dan akhirnya terlelap dalam damai sebelum pukul 10 malam.</p> <p>Bioritme itu sangat indah dan teratur, namun entah mengapa itu hilang, mungkin karena ambisiku terlalu tinggi. Dan aku ingin menggalinya kembali mulai dari sekarang. Kali ini mengganggapnya sebagai protokol tertinggi dalam sistemku.</p> <h2 id="revolution-of-19th">Revolution of 19th</h2> <p>Memo ini, kuanggap sebagai refleksi untuk diriku sendiri. Aku bahkan membuat puisi untuk itu:</p> <div class="language-plaintext highlighter-rouge"><div class="highlight"><pre class="highlight"><code>I forgot how to dream this life.
I forgot how should I see this world as.
I forgot how should I've been:

I forgot how I wake up at three of the early dusk.
I forgot how I wake, and avoid the noise first.
I forgot how I wake, then drink, and grasp a water.
I forgot how I wake, and rejuvenate with my creator.
I forgot how I wake and start. The day.

I forgot the smell of grass in weekend morning.
I forgot to enjoy a sunshine. Seeing how beautiful the world are.
I forgot to get a breakfast and feel the road to plan a goal for today.

I forgot... the feeling to bootstrap the day. Fast.

I forgot the Noise. This phone, the internet. They're noisy. Don't mix my bootstrap with it.
I forgot 7 o'clock in morning, the time to meet the world. Bringing the stuff on.
I forgot the noon, the rest time, to recharge the day.
I forgot near sunset, after recharge, to regain the body. Another cold water.
I forgot 6 o'clock I have to rejuvenate, reading the state-of-the-art book.
I forgot 7 o'clock I have to review stuff. No reasoning to get the ass off.
I forgot 10 o'clock I have to rebase and get thyself on tomorrow.

I forgot that I should regret a lot from my self.
I forgot that my confusion kills my precious time.
I forgot that my undertermination kills a lot people.
I forgot that my ambitions kills my pure spirit.

I forgot I can make happiness as with simple as a smile.
I forgot I can feel satisfaction by letting things go.
I forgot I can feel safe and sound by having backup plans.

I dream a lot and I chase this world too loud.
It makes me forgot how I am grateful for today.
It makes me forgot, that confusius, as confusion to self, is dangerous.

Welcome to the crazy world, shenanigans.

The road to 19th revolution, just began.
</code></pre></div></div> <p>Dunia ini, dan seisinya, adalah <em>fana</em> – mereka hanya ilusi yang nyata, hanya perspektif kita terhadap dunia, membuat ilusi itu menjadi kenyataan.</p> <p><strong>Takeaway:</strong></p> <ul> <li>Jangan mengejar hal yang “fana”, carilah demi sifat yang kekal<sup id="fnref:1" role="doc-noteref"><a href="#fn:1" class="footnote" rel="footnote">1</a></sup>.</li> <li>Jangan bergantung pada orang lain.</li> <li>Jangan menyia-nyiakan waktu dan buat dirimu berguna se-efisien mungkin.</li> </ul> <!-- Buku ini pada dasarnya membahas tentang adab belajar mengajar, namun isinya lebih dari itu. Tujuan dari pengarang ialah meluruskan niat pelajar, menjelaskan apa yang membuat belajarnya barokah (bermanfaat) dan mana yang justru membuatnya jauh -- Meski aku rasa, buku ini membahas lebih dari itu, sebut saja subbab-subbabnya, mulai dari meluruskan niat hingga adab mengejar cita-cita yang luhur. Aku melihat bahwa kitab itu selurus dengan pepatah-pepatah dulu yang aku ingat, dan jika dikaitkan dengan filosopi yang lain, kitab ini seperti meringkasnya menjadi satu. Aku sampai takjub membacanya. Dari banyaknya hal yang disuguhkan dikitab ini. Aku hanya membahas bagian kecil yang relevan dengan judul artikel ini: Apa hakikat belajar dan bercita-cita ala Ta'lim Mutaalim? ## Hakikat Belajar. > Belajarlah! sebab Ilmu adalah hiasan bagi pemiliknya. Jadikan hari-harimu untuk menambah Ilmu. Pepatah nomor satu ialah *tak ada kata terlambat untuk belajar*. Kau tahu ada banyak sekali lautan ilmu yang tersebar didunia ini, jauh lebih luas melebihi jangka umur kita yang pendek. Rugi kalau kita enggan mengisi hidup kita dengan ilmu. Bahkan orang yang lebih mementingkan rasa malas daripada *thalibal ilmi* adalah serugi-ruginya makhluk yang hidup didunia ini. Sekali lagi, **tak ada kata terlambat untuk belajar**, karena Ilmu itu tidak terbatas, namun Ilmu apa yang paling pantas didahulukan? #### Ilmu Akhirat Menurut kitab, ia ialah ilmu *Hal*: ilmu agama dan apapun yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban amalan akhirat, seperti shalat. Termasuk semua ilmu yang mendukungnya seperti syarat rukun, dan hal-hal yang membatalkannya. Begitu pula pada Puasa, termasuk Zakat bagi yang berharta, termasuk Haji bagi yang sudah mampu, termasuk Ilmu jual/beli pun wajib dipelajari jika ingin berdagang, dan lain seterusnya. Jika kamu bertanya, mengapa demikian? Ingat pepatah nomor dua, bahwa **kita hidup untuk beribadah**. Jadi jika kita tidak mempelajarinya, Apakah ibadah kita benar? Sia-sia juga kan kalau tidak benar? Maka dari itu, ilmu akhirat wajib ditekuni. Lagipula ini juga merupakan salah satu bukti untuk kita ber-Taqwa pada Allah. Sekali lagi, aku menekankan ini karena... jangankan mencari ilmu akhirat, kita (termasuk saya) bahkan malas-malasan dan sibuk untuk mencari ilmu dunia yang justru amat sangat luas. Ini bukan berarti kita hanya diwajibkan untuk mempelajari amal akhirat saja, namun apapun yang bermanfaat didunia dan akhirat. Ilmu lain tidak bermanfaat (ramalan, judi, dsb.) harusnya dijauhkan karena sia-sia dan merugikan[^1]. Simpan itu baik baik. Ilmu akhirat itu tak boleh kalah penting, sebagai bentuk taqwa kita pada Allah. Namun bagaimana dengan ilmu dunia? #### Ilmu Dunia Ada banyak jenis ilmu dunia didunia ini. [^1]: Di dalam kitab sudah dijelaskan bahwa ilmu Nujum (untuk meramal) jelas diharamkan karena hanya mitos dan tidak ada dasarnya. Namun didunia sekarang, ramalan pun lazim dan lebih pintar, contoh saja ramalan cuaca, traffic, bahkan stock pasar. Apakah itu diharamkan pula? Aku belum yakin. --> <div class="footnotes" role="doc-endnotes"> <ol> <li id="fn:1" role="doc-endnote"> <p>Taqwa dan ridho pada ilahi <a href="#fnref:1" class="reversefootnote" role="doc-backlink">&#8617;</a></p> </li> </ol> </div>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Terkekang Indah oleh Deadline</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/terkekang-indah-oleh-deadline.html"/>
  <updated>2019-01-09T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/terkekang-indah-oleh-deadline</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p><em>Deadline. Deadline. Deadline. Kau terus memburuiku tiada henti.</em></p> <p>Kehidupanku enam bulan terakhir sangat jauh berbeda dari yang dulu. Dulu aku sepi dalam zona nyaman. Sekarang aku harus beranjak menggapai semua yang tertinggal. Aku dulu mulai bosan dengan semua hal yang berkaitan dengan IT, mungkin efek terlalu lama aku berlibur, sekarang aku tahu banyak sekali kekuranganku.</p> <p>Kau tahu, banyak hal telah berubah didalam diriku. Aku dulu mempunyai banyak waktu, dan aku antisipasi itu dengan mulai project yang aku suka, seperti bermain web dan merombak aset digitalku sendiri. Namun manusia juga mempunyai rasa bosan, dan sangat susah bagiku untuk memulai sebuah project baru.</p> <p>Sekarang? Ohh jaman seperti berubah 180 derajat didepan mataku. Aku tidak lagi cuman berhadapan dengan benda mati – laptop yang menuruti semua keinginan tuannya. Teman dan rekan baru, mereka semua lebih unik dari yang kubayangkan, dan mereka manusia, sama sepertiku, mempunyai tujuan dan ambisi mereka masing-masing, entah sama ataupun beda.</p> <p>Dan tidak seperti zaman sekolah dulu, Entah mengapa aku merasa kali ini berbeda jauh. Seperti aku dikenal lebih cepat disini. Mungkin terlalu cepat. Maksudku, kau mungkin sudah tahu, agendaku seperti tiada habisnya. Bahkan waktu pribadi seperti mencuci baju dan tidur siang jarang aku dapatkan. Banyak agenda baik kampus dan diluar kampus datang memburuku, bahkan sering juga membatalkan beberapa agenda, membandingkan satu dengan satu yang lain, mana yang lebih penting, mencari solusi yang terbaik. Yah begitulah gambaran umum keseharianku. Seperti ditarik tarik, namun aku tetap menikmatinya.</p> <p><em>… Dan aku akan kasih tau mengapa…</em></p> <p><strong>Yang pertama</strong>, disini, di prodi ini, matkul utamanya bak seperti <em>playground</em>, tempat bermain yang aku suka. Katakanlah <em>Alpro, Strukdat, OOP</em>, dsb. Aku sudah mencicipi mereka dulu, jadi bertemu matkul tersebut seperti aku mengenang makanan masa duluku, indah sekali. Wkw. Mungkin ada satu dua konsep yang baru aku kenal, namun itu tak jadi masalah. Aku lebih suka jika ada yang konsep baru sekalipun mereka susah dicerna.</p> <p><strong>Yang kedua</strong>, aku berhadapan dengan manusia, sama-sama mahasiswa, sibuk tenggelam dalam deadline dan tak mempunyai banyak waktu. Aku beranggapan mereka dan aku terpaut dalam relasi. Mereka membutuhkan, akupun demikian, sehingga apapun agenda yang mereka rencanakan aku akan tetap menghargai nya, entah itu belajar ataupun kumpul, asalkan niatnya baik. Yah, beberapai kali konflik jadwal itu ada, namun itu pun tak bisa aku elak juga.</p> <p><strong>Yang terakhir</strong>, dan yang paling berpengaruh – Ialah aku masih membawa kebiasaan burukku: Selalu memulai hal baru secara serempak. Seperti aku dulu, selalu mempunyai beberapa projek sekaligus untuk dikerjakan. Namun kali ini mereka berbeda – Kalau dulu aku cuman mengurutkan mana yang lebih penting, sekarang aku harus memikirkan mana yang lebih penting, dan mana yang mendesak – alias mereka mempunyai deadline tersendiri – karena sekali lagi, aku berurusan dengan makhluk hidup, tidak mempunyai semua waktu yang ada.</p> <blockquote> <p>“We suffer more often in imagination than in reality” — SENECCA</p> </blockquote> <p>Mengurusi 2 variabel – mana yang penting dan mana yang mendesak itu memang bikin sesak – maksudku, lihatlah. Sepanjang liburan ini aku berpetualang solo, mulai dari Bangkalan, lalu Pamekasan, Sumenep, dan pulang transit Mojokerto, lalu Jombang, Gresik. Jombang. Dua minggu kemudian balik lagi ke Sidoarjo, lalu ke Lamongan, lalu banting stir ke Madura, sebelum akhirnya balik lagi ke Malang, Banyuwangi, dan balik lagi ke Madura. Belum lagi rencanaku tuk balik Jombang dan mampir lagi ke Malang sebelum masuk kuliah lagi ke Madura. Haduh. Pusing bukan? Wkw.</p> <p>Dan aku melakukan hal-hal itu tanpa alasan. Jangan kira hanya cuman liburan ya. Meski pakai motor sendiri, itu tetap menghabiskan dana banyak. Lagipula ini terlalu ekstrim bagi anak 18 tahun, untuk merantau hingga ratusan kilo jauhnya (btw sepedaku sudah ganti oli 2 kali (setiap 1000 kilo) hanya dalam satu semester). Aku begitu karena aku menghargai relasi yang aku buat. Dan sepatutnya, itu jauh lebih mahal. Lagipula, ini sejalan dengan prinsip gilaku – Bagaimana aku bisa menaklukkan dunia kalau pulau Jawa saja tidak bisa?</p> <p>Kalo kamu mengganggap itu hal yang luar biasa. Haysh. Itu masih belum cukup. Tahukah kamu, aku pula punya profil dalam dunia bisnis? Itulah mengapa, aku masih bersikeras merombak web utama <a href="https://wellosoft.net">https://wellosoft.net</a>. Karena aku ingin membuka ranah freelance, jadi mempunyai portofolio ideal itu wajib. Dan juga aku harus memperbanyak galeri web interaktif lagi di codepen atau itch.io, sehingga paling tidak mereka si pemburu CV (dan aku) tahu sampai mana ujung skill ku.</p> <p>Dan hey. Kau tahu bahwa blog ku sekarang terpisah jadi dua? Yah. Yang <a href="https://blog.wellosoft.net">blog lama</a> aku khususkan sekarang untuk tutorial, dan khusus berbahasa indonesia (dulu aku sudah mencoba billingual, dan hasilnya berantakan) dan <a href="https://memo.wellosoft.net">satunya disini</a>, khusus catatan pribadiku yang panjang, boring, dan unfaedah disini.</p> <p>Jadi kerja penulisan ku sekarang lebih tertata, meski otomatis aku harus membuang catatan lama, lagi. Hmh. Moga saja ini yang terakhir kalinya aku merombak ulang sistem blog 😅.</p> <p>Dan yang terakhir, kau tahu bahwa kita lebih mudah untuk mengkritik daripada memuji? <em>Yah, itu dia</em>. Sekarang aku beranggapan, setiap kali aku mengritik tanpa solusi, aku kritik diriku kembali. Dari situ aku tahu dimana letak kelemahanku, dan aku akan menaruhnya di booking list tuk membenahi diri. Maka dari itu aku baru-baru ini sedang membangun kembali teman lamaku – Buku, Novel dan Artikel.</p> <blockquote> <p>“There is no friend as loyal as a book” — ERNEST HEMINGWAY</p> </blockquote> <p>Jangan salah kira. Aku dulu suka buku – dan aku sekarang ingin membukanya lagi, baik non-fiksi maupun fiksi. Kisah dan cerita, menurutku mereka kaya akan analogi – sebuah persoalan dan jawaban yang bisa diterapkan dalam berbagai persoalan hidup. Begitu pula dengan non-fiksi – mereka kaya tentang ide-ide yang belum sempat terlintas dalam pikiranku – mungkin termasuk membuka kesempatan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Intinya demikian – Semua top leader menunjukkan giat mereka dalam membaca, bahkan Elon Musk si revolusionalis teknologi pernah membaca 60 buku dalam satu bulan, jadi mengapa kita tidak?</p> <p>Kali ini aku sedang membaca buku legendaris <em>Tony Robbins - Money Master the Game</em>. Ada beberapa pinjaman buku lain yang masih menunggu di rak, diantaranya seri-seri novel seperti enam seri buku Bumi Tere Liye, hingga buku yang terangkat menjadi film seperti Merry Riana ataupun Harry Potter. Haduh. Aku benar-benar tidak sabar menyantap semuanya sebelum liburan berakhir. :”</p> <hr /> <p>Jadi banyak sekali to-do list ku ternyata. Hmh andaikan liburan ini lebih panjang. Heheh. Bagaimana dengan liburanmu?</p> <p>Hehe. Meski postingan ini terkesan seram. Tetap pasti ada hikmah yang lebih indah. Seperti foto ini, salah satu favoritku saat aku menginjakkan kaki pertama kali di tanah asing Pamekasan:</p> <p><img src="https://res.cloudinary.com/wellosoft/image/upload/v1546833986/home/me-backcloud.jpg" alt="" /></p> <p><strong>Takeaway:</strong></p> <ul> <li>Cobalah untuk membuka banyak kesempatan secara bersamaan. Takut terlalu padat? Itulah gregetnya hidup. Kau tak akan bosan dengan tantangan yang ada.</li> <li>Jika kesempatan itu tidak muncul. Buatlah kesempatanmu sendiri. Jangan takut apalagi bimbang memulai hal baru.</li> <li>Bacalah buku. Serius.</li> </ul> <p>Terima kasih kepada semua rekan dan sahabat untuk semester satu ini. Kalian memiliki keunikan masing-masing. Tanpa kalian tak mungkin wawasanku lebih luas daripada yang dulu-dulu…</p> <p><strong>Selamat Berlibur 📸</strong></p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Beribu Siasat, Satu Ambisi</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/beribu-siasat-satu-ambisi.html"/>
  <updated>2018-11-11T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/beribu-siasat-satu-ambisi</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Dua minggu yang mencengangkan telah berlalu. Aku pun kembali lagi ke tanah rantau, sembari menggenggap tangan kosong dengan geram.</p> <p>Tidak masalah orang mempunyai cita-cita apalagi impian yang tinggi-tinggi. Yang menjadi masalah, ialah bagaimana mereka mewujudkan impian mereka masing-masing.</p> <p>Tiap orang mempunyai latar belakang dan impian yang beda-beda, sehingga tentu lah mereka harus mencari jalan setapak menuju impian mereka sendiri. Tapi jangan kan melangkah, banyak orang pun masih belum tahu kearah manakah mereka harus menuju.</p> <p>Sama pula sepertiku.</p> <p>6 tahun bergelut dengan coding, kini waktunya aku mencari relasi untuk mencari masa depanku. Aku tahu, waktuku seperti terlalu cepat. Maksudku, rata-rata teman sekelasku masih baru mengenal coding, Aku sudah bicara masalah relasi, hal yang sepatutnya baru dibahas setelah lulus dari dunia pendidikan.</p> <p>Pasti sangat susah, bukan?</p> <p>Seperti itulah yang aku rasakan enam tahun silam. Dari mana aku bisa belajar coding? Jangankan orang tua, sanak famili, atau sekolah. Internet pun masih mahal saat itu. Paling tidak dulu aku sudah memenuhi syarat: komputer ada, juga suka dengan matematika dan bahasa inggris.</p> <p>Aku ingin menguraikan semua pengalamanku selama 6 tahun terakhir, namun tulisan itu tak pernah selesai, lagipula memori manusia pula sangat terbatas untuk mereka ujung-ujung memori tak terurus itu.</p> <p>Yang jelas, aku mulai sangat pelan, namun lambat laun kan lebih cepat dengan sendirinya. Dari yang awalnya cuman iseng, lalu suka, menjadi hobi, hingga menjadi modal pembantu orang tuaku.</p> <p>Mungkin inilah nikmat yang dianugrahkan oleh Allah. Dengan belajar otodidak sepenuhnya, aku tak perlu menggantungkan orang lain jika ingin belajar, cukup menyempatkan sedikit waktu luang. Teknik belajarku juga sangat cepat belakangan ini, hanya andalkan google, aku bisa paham materi coding dalam beberapa menit.</p> <p>Hingga detik ini, aku sudah hijrah keberbagai macam bahasa coding. Memang naif, namun rasa penasaranku tak pernah kunjung padam. Aku ingin menerapkan semua teknik belajar yang aku tahu kepada orang lain, namun sayang, tentu mereka tak bisa mengikuti, karena background mereka sangat berbeda denganku, dan tentu menyita banyak waktu juga jika aku juga yang harus mencari tahu teknik mana yang cocok buat mereka. Dipaksa bisa pun aku juga tak tega melihatnya, karena mental setiap orang pasti terbatas.</p> <p>Sudah jelas, inilah resiko yang harus aku tanggung. Jangankan menyetarakan orang lain untuk bisa coding seperti saya. Aku bahkan masih belum tahu cara mencari relasi secara tepat dan mudah. Semuanya masih berjalan lambat.</p> <p>Jalan pertama yang aku tahu adalah mengenalkan diriku pada rekan satu kelas, prodi, fakultas atau universitas. Ini tak semudah yang diucapkan. Karena sekali aku mengenalkan diri, maka siap pula aku harus menjaga relasi tersebut – melonggarkan waktu dan tempat saat mereka sedang membutuhkanku. Inilah mengapa sering kali aku pula harus teriak, bahwa mengabaikan mereka berarti pula menjatuhkan harga diriku sendiri.</p> <p>Jalan kedua ialah melalui lomba-lomba IT. Sekali lagi ini sangat sulit dilakukan namun sangat berpotensi untuk membuka relasi yang aku inginkan, relasi tengah dan atas. Ada banyak jenis lombanya, dan banyak pula yang masih belum aku kuasai. Mungkinkah aku bisa mengejarnya? Entahlah, pastinya akan kucoba meskipun harus sering kubelain gak tidur… Hmm.. Pasti seru.</p> <p>Aku masih mencari dan mencari jalan dan celah baru yang aku butuhkan agar bisa meraih targetku dengan tepat waktu. Lambat namun pasti, akan melesat dengan sendiri. InsyaAllah. Aku yakin itu.</p> <p>Akhir kata, aku menulis artikel ini agar aku tetap ingat pada ambisi yang lama telah aku rencanakan. Terima kasih pula kuucapkan kepada semua, yang telah menemaniku dalam mempernalkan UTM kepada Unsoed – Termasuk rekan satu tim – David, Laila, Kak Bimo, Kak Sherly – Dan semua rekan ITC yang telah membantu meringankan beban berat kami – Dan semua kawan yang telah memberikan dukungan penuh kepada kami baik secara lahir maupun batin. Aku sangat menghargai dukungan kalian semua. Tanpa kalian tak mungkin aku bisa melesat maju secepat sekarang, meskipun langkah itu pula masih jauh dari tempat harapan.</p> <p>Hari ini aku mungkin menggenggam pulang dengan tangan kosong. Namun mindset ku berkata aku akan kembali, dan pasti akan kembali lagi. Semoga langkah ini akan menjadi saksi dalam langkah perjuanganku selanjutnya. Amiinnn…</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Merancang kembali visi masuk ke UTM</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/merancang-kembali-visi-masuk-ke-utm.html"/>
  <updated>2018-10-01T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/merancang-kembali-visi-masuk-ke-utm</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Tak terasa, September telah berlalu. Bulan ini adalah bulan kedua masa perkuliahan aktif di UTM, dan aku ingin bercerita sedikit tentang kegiatan ku di UTM selama ini.</p> <p>Selama sekitar awal bulan semuanya berjalan lancar. Seperti pertemuan perkuliahan biasanya, hanya ada pengelanan kontrak kuliah. Itu pun ada 3 yang kosong dari 7 matkul. Minggu kedua aku mulai mengenal karakteristik dosen, mana yang sepertinya killer dan mana yang tidak. Ada beberapa dosen yang sudah memulai materi kuliah, dan seingat saya belum ada tugas yang diberikan dalam minggu ini.</p> <p>Minggu ketiga semua matkul berjalan seperti perkuliahan biasanya. Tidak ada kendala yang dihadapi kecuali matkul Alpro (Algoritma Pemrograman) – karena pada minggu itu dosen sudah mulai memberikan materi live coding dan beberapa yang masih belum paham masalah syntax apalagi konsep input/output. Di minggu ini pula jadwal ku mulai padat karena beberapa teman ingin mengajak belajar coding bareng dan beberapa tugas kelompok yang harus diselesaikan untuk minggu depan.</p> <p>Minggu keempat ini sedikit diluar kendali. Dosen Alpro sudah mulai memberikan pertanyaan, mengetes pemahaman kami satu-per-satu. Disini teman satu kelasku banyak yang belum paham masalah branching sehingga jadwalku sedikit lebih padat untuk belajar coding bareng lagi. Kendala lain lagi yakni waktu yang tersita untuk kerkel tugas kelompok, rapat satu angkatan dan diklat UKM yang dijadwalkan pada weekend minggu ini.</p> <p>Minggu kelima lebih parah. Alpro sudah masuk iterasi dan praktikum mulai berjalan. Dari pengamatan minggu ini rata-rata teman sekelas belum paham satu atau dua pertemuan alpro sebelumnya. Waktuku juga banyak tersita untuk persiapan lomba dan belajar bareng. Yang paling parah dari minggu ini ialah aku harus pulang mengorbankan 2 absen matkul karena terlalu lama tidak pulkam dan kekurangan dokumen yang dikumpulkan untuk persiapan UTS.</p> <p>Minggu ini adalah minggu keenam dan aku masih begadang kehilangan rasa lelap untuk menulis artikel ini ditengah kesibukan besoknya.</p> <h2 id="masih-kah-aku-kuat">Masih kah aku Kuat?</h2> <p>Ini masih bulan pertama dan akhir-akhir ini jam tidurku sering diatas jam 12 malam. Padahal sebenarnya aku sendiri tidak mempunyai masalah dengan tugas-tugas matkul, apalagi Alpro. Tentu aku punya banyak waktu luang diluar jam matkul, namun bisa kukatakan nyaris tidak ada yang kosong. Hmmm.. mungkin kah aku terlalu memikirkan orang lain daripada diriku sendiri?</p> <p>Mulai minggu ini aku merasakan bahwa apa-apa yang diajarkan saat ospek prodi, yang kita nilai begitu kejamnya, bukanlah apa-apa dari aktivitas anak teknik sesungguhnya. <em>Great power comes great responsibility</em>, meskipun aku berhasil menarik perhatian dosen alpro karena terlalu sering maju mengerjakan soal dosen, tetap saja aku tak bisa egois meninggalkan yang lain dibelakang. Dulu aku sangat mudah menghandle beberapa orang belajar coding untuk keperluan apapun, sekarang aku membicarakan teman sebanyak satu kelas yang ingin belajar bareng dengan saya. Orang mudah saja berpikir kalau mengadakan kumpulan akbar buat belajar bareng bisa menyelasaikan masalah ini, namun kenyataan berkata tidak, karena bagaimanapun ampuh nya metode belajar yang digunakan, tak akan masuk dengan mudah kecuali tatap muka dan saling berkomunikasi secara langsung.</p> <p>Bukan cuman masalah diatas, ada beberapa aspek lain yang harus aku pertimbangkan, apalagi saat nantinya jika aku berpartisipasi aktif dalam 3 organisasi UKM dan 3 event lomba yang aku handle di waktu kedepan. Kalau sudah seperti ini bagaimana nasib kuliah ku sendiri? Sempatkah aku untuk membenahi diri ataupun bertahan di teknik ini?</p> <h2 id="kebijakan-baru">Kebijakan Baru</h2> <p>Saat aku balik kampung, aku sempat berpikir untuk menyiapkan segala sesuatu agar waktuku terpakai lebih efisien lagi. Beberapa langkah yang sudah aku lakukan sekarang harus aku rubah mulai dari sekarang, yakni:</p> <ol> <li> <p>UKM. Aku dulu sangat pede dengan mendaftar kedalam 3 organisasi UKM sekaligus karena aku berpikir kuliah tak kan memberatkan ku dan aku ingin pengalaman berorganisasi yang lebih luas. Dan sekarang aku berubah pikiran, <strong>sehingga dengan berat hati, aku akan melepaskan diri dari 2 UKM mulai dari detik ini juga, sebelum terlambat</strong>. Dengan ikut 1 UKM saja waktuku tak akan tersita oleh konflik jadwal yang sering kualami gara-gara jadwal UKM yang tumpang tindih.</p> </li> <li> <p>Mobilitas. Bulan lalu aku sengaja tidak membawa motor ke madura agar aku bisa lebih dekat mengenal UTM dan kawan lain bila bertemu dijalan atau pas mendapatkan tebengan. Namun lama-kelamaan kebutuhan di luar jam kampus makin membendung. Sekarang dengan adanya motor aku lebih independen dan bisa memanfaatkan waktu lebih efisien dan mudah.</p> </li> <li> <p>Jam Vakum. Sebenarnya aktivitas pondok disini sudah mengkover jam vakum (pembatasan jam diluar), yakni 7 pagi sampai sore dan habis isyak sampai 10 malam. Sekarang aku mau ini lebih diketatkan lagi, apalagi batas jam malam untuk kebaikan diriku sendiri. Hari matkul kosong (senin) akan aku vakumkan semaksimal mungkin agar aku mempunyai waktu untuk mempersiapkan tugas dari dosen dan keperluan mandiri lainnya.</p> </li> </ol> <h2 id="end-quote">End Quote</h2> <p>Jam menunjukkan dua malam dan sekarang aku ingin mengutarakan maksud dari semua penjelasanku diatas:</p> <p>Setiap orang bisa terhindar dari masalah selama mereka mempunyai relasi: <strong>1.) diatas mereka sendiri, 2.) sejajar dengan mereka sendiri, 3.) dibawah mereka sendiri</strong>. Orang yang berada diatasku ialah seperti keluarga, orang tua, dan semua rekan dan kenalanku yang mempunyai pengalaman lebih dari saya. Orang yang berada sejajar denganku ialah seperti rekan satu kelompok, organisasi, tim lomba, atau siapapun yang mempunyai tujuan dan misi yang sama denganku dalam hal dan tujuan apapun. Dan sisanya, orang yang berada dibawahku ialah siapapun yang mempunyai kemampuan atau pengalaman yang kurang dari diriku sendiri dalam bidang tertentu. Mereka wajib ada disetiap aspek kehidupan karena: 1.) Kamu butuh orang yang bisa menghandle kamu saat dalam masalah, 2.) Kamu butuh rekan dan environment yang bisa diandalkan untuk berkembang bersama dengan anda, 3.) Kamu punya tanggung jawab terhadap sesama rekan sendiri yang saling membutuhkan.</p> <p>Dari pengalaman bulan lalu, aku berpikir bahwa aku mungkin terlalu memberanikan diri untuk memberikan segala sesuatu pada orang lain, sehingga muncul masalah baru pada diriku sendiri, kekurangan waktu untuk membenahi diri sendiri. Letak kesalahanku lagi ialah aku terlalu banyak membagi waktu untuk rekan dibawahku, sehingga ibarat mereka itu sudah melangkah tinggi namun aku sendiri tidak sempat melangkahkan skill lebih tinggi lagi. Ayahku berkata aku adalah tipe orang yang optimis hanya selama banyak orang bisa mengandalkan skill yang aku punya, dan memang aku akui itu. Maka dari itu, dimana-mana kalau ada teman yang membutuhkanku, baik coding bersama atau event lainnya, aku selalu berkata ‘iya’, tidak peduli bagaimana kocar-kacirnya keadaanku sekarang, sehingga masalahnya kembali ke letak kesalahanku diatas.</p> <p>Jika kamu masih belum paham juga, coba lah kamu berpikir, bagaimana aku bisa menjunjung teman satu kelas, atau bahkan satu angkatan, jikalau aku tak bisa menjunjung diriku sendiri keatas?</p> <p>Dan satu lagi, sebelumnya aku pernah meremehkan jenjang S1 ini. Namun mulai detik ini aku akan tarik ucapan itu. Sebagai teman yang baik aku akan mengingatkan kepada anda, bahwa jenjang S1 ini adalah ujung tombak karir hidup anda, sehingga <strong>jangan pernah meremehkan kesempatan apapun yang ada didepan mata</strong>. IPK tentu menentukan prospek karir anda kedepan, namun relasi juga tak kalah pentingnya. Selama Jenjang S1 ini, usahakan untuk terus membenahi diri dan fokus untuk mencari relasi baru dengan orang lain, terutama hubungan relasi diatas dan orang diluar area kampus, sehingga dengan demikian, setelah kamu wisuda, kamu akan terbantu dengan channel-channel luas didepan mata, tak akan sulit untuk menghadapi kejamnya kehidupan yang menanti ada kedepannya.</p> <p>Selamat malam kawan, dan semoga kamu bisa tidur lelap dengan nyaman 🌃</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>I'm a College Student. What now?</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/im-a-college-student.html"/>
  <updated>2018-09-07T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/im-a-college-student</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>It’s been a month since <a href="/en/off-the-internet-again.html">my announcement</a> that I’ll be a college student. Now I am! I’m kinda somewhat proud here, but there’s more to tell, especially when you need my support when using my products.</p> <p>The first thing is about how busy I am. My weekday is full of university agendas. Of course there’s some extra spare time, but likely it’s not enough to tweak things like the past. So I plan to use weekdays to replying emails and getting support ticket closed.</p> <p>But what about weekends? This is where uncertainity happens. Although I do have a lot of spare time there, there still a chance that those spare time will be taken also by university agendas. Who knows? But anyway, I’ll try my best to improve my product.</p> <p>Actually, I’m not gonna scare you guys with this somewhat this-scary article, I’m really having fun and busy with my own activities in college. If you want more details about my university: I entered <a href="https://trunojoyo.ac.id">UTM</a> with Informatics Engineering field since August 2018, so this will be a perfect enviroment to rebake my skills and get involved with local community to drive myself to become a better person, which I hope then be better for everyone (and you!).</p> <p>The transition from full-time Asset Store Publisher into full-time college student is entirely challenging so I hope that I can manage my own time more efficient in future.</p> <p>So that’s it. I admit support will be slightly scarce from now. But again, i’m trying my best to keep these products (and my Github profile) alive today and tomorrow.</p> <p>💖</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Coding itu Asyik</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/coding-itu-asyik.html"/>
  <updated>2018-08-31T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/coding-itu-asyik</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Malam ini ku tak bisa tidur memikirkan kalian yang dituntut untuk bisa coding namun belum sempat menghirup nikmatnya aroma coding.</p> <p>Singkat cerita, saat aku pertama kali coding, aku hanya iseng, tidak menduga kalau dampaknya lebih besar di masa sekarang, bahkan dulu kata-kata <em>“coding”</em> itu belum masuk ketelinga saya. Aku dulu menyebutnya “Macro”, sejak <a href="https://wellosoft.net/about/">enam tahun silam</a>, lalu berpindah-pindah bahasa dan topik sampai aku demen sama skill coding saya sekarang.</p> <p>Sebenarnya aku tidak berbeda dengan kalian. Hanya saja aku sudah mulai coding duluan sejak lama, jadi tentu pengalaman kita pasti berbeda. Namun tetap, aku ingin pula merasakan pahitnya masa duluku yang tak menentu. Tidak adil bagiku kalau aku tenang-tenang saja mengerjakan tugas dosen, dapat lulus dengan mudah, namun kalian merasakan sebaliknya. Bagaimanapun caranya, aku ingin kalian semua membuang segala feeling negatif apalagi unek-unek terhadap coding, dan membuka hati bahwa coding merupakan bagian dari hidup kalian.</p> <p>Seandainya nanti kalau kamu mempunyai masalah dengan coding, maka janganlah mengeluh apalagi putus asa ditengah jalan, karena solusi itu pasti ada. Kalau saya boleh jujur, tugas dosen itu masih belum apa-apa dibandingkan saat kamu terjun dalam <a href="https://forum.unity.com/threads/texdraw-create-math-expressions-inside-unity.379305/">dunia</a> <a href="https://blog.wellosoft.net/en/do-i-need-open-source.html">coding</a> <a href="https://github.com/desktop/desktop/pull/3922">yang</a> <a href="https://forum.unity.com/threads/asset-vendor-propose-paid-service-for-solving-issue-should-i-be-pissed.523258/#post-3439949">sesungguhnya</a> – dunia yang menanti anda didepan pintu kalian seusai lulus kuliah.</p> <p>Sekali lagi aku tidak berbeda dengan kalian – aku pun ikut pusing kalau dosen memberikan tugas diluar kemampuan saya. Silahkan kalian menyibukkan saya dengan pertanyaan atau sharing seputar coding – semua request akan aku hargai, karena aku ingin keluar dari sifat terpendam dari diriku ini dan belajar untuk respect dalam mensikapi setiap sifat dan kepribadian diri kalian masing-masing.</p> <p>Bolehlah semua orang bercita-cita mendapat nilai bagus dan lulus dengan lancar – hanya saja aku ingin lebih dari itu. Aku ingin bakat ini tersalurkan, sama-sama kita mampu menghirup nikmatnya aroma coding bersama-sama, menyatukan pikiran bersama. Sekali lagi kusampaikan, bahwa <strong>Coding itu Asyik</strong>, bagaikan meneguk secangkir kopi hangat ditengah dingin yang menusuk malam ☕</p>]]></summary>
</entry><entry>
  <title>Emm... Sekarang Gue jadi MABA?</title>
  <link href="https://memo.wellosoft.net/emm-sekarang-gue-jadi-maba.html"/>
  <updated>2018-08-07T00:00:00+00:00</updated>
  <id>https://memo.wellosoft.net/emm-sekarang-gue-jadi-maba</id>
  <summary type="html"><![CDATA[<p>Tiga Juli 2018, pengumuman itu keluar, dan sesuai dengan expetasi, Ijab saya terkabul dengan sempurna….</p> <p><img src="//res.cloudinary.com/wellosoft/image/upload/blog/Lulus-SBM-Cropped.png" alt="Screen Pengumuman SBMPTN" /></p> <p><em>Alhamdulillah</em> 🤲</p> <p>Entah bagaimana aku bisa melampiaskannya. Namun aku sangat bersyukur mendengarnya – tidak ada yang lebih membahagian daripada saat tuhan mengabulkan tekad yang sudah dibulatkan<sup id="fnref:1" role="doc-noteref"><a href="#fn:1" class="footnote" rel="footnote">1</a></sup>.</p> <p>Aku memilih Trunojoyo dengan harapan agar aku pengalaman dan semangatku bertambah dalam menjejaki langkah dunia ini sebagai Programmer. Tentu, mungkin terbebani dengan tugas dan aktivitas lain sebagai mahasiswa, namun itu hanyalah masalah kecil bagiku, lagipula trunojoyo masih mempunyai banyak keunggulan lainnya <a href="mengapa-pilih-madura.html">dimata saya</a>.</p> <p>Setelah tanggal pengumuman ku menunggu untuk tanggal verifikasi data, mendapatkan jatah UKT (dapet yang paling tinggi, hehe), membayar UKT, lalu mengumpulkan berkas-berkas, dan akhirnya, menunggu untuk hari aktif (OSPEK) pertama pada minggu depan.</p> <p>Aku akan berada di Madura dalam beberapa hari lagi, hanya perlu untuk mencari beberapa perlengkapan Ospek yang kurang dan beberapa lagu yang belum hafal (termasuk, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=s9NoBV_7yVI">uhuk..</a>).</p> <p>Aku pun tak sabar menunggu bertemu dengan kalian, wahai para Maba dan Kating UTM. Sampai bertemu disana!</p> <p><em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=dvgZkm1xWPE">Viva la vida</a></em> (Hidupkan Hidupmu 🌹)</p> <div class="footnotes" role="doc-endnotes"> <ol> <li id="fn:1" role="doc-endnote"> <p><a href="mengapa-pilih-madura.html">Flashback</a>, dan <a href="https://willandgottaloveideas.wordpress.com/2017/06/15/12-mental-katastropik/">Flashback lagi</a> <a href="#fnref:1" class="reversefootnote" role="doc-backlink">&#8617;</a></p> </li> </ol> </div>]]></summary>
</entry>
</feed>
