4 Juni 2019. Malam lebaran.

Ramadhan tahun ini telah usai. Apakah kamu merasa kehilangan? Entah mengapa, Ramadhan kali ini aku baru menyadari.. sesuatu telah hilang dariku.

Semester lalu dan akan datang

Aku meninjau kembali diriku yang lalu, dan aku temui diriku yang terpontang panting – performaku lebih buruk bahkan dari semester lalu. Dari semester 2 itu, pencapaian apa yang berhasil ku jalankan? Tidak ada. Nihil.

Bahkan dibandingkan saat aku libur seminggu yang lalu, performaku menakjubkan: 10000+ baris koding dalam seminggu. Aku ulangi – dalam satu minggu. Terus apa saja yang aku lakukan dalam satu semester yang lalu? Sungguh, sepertinya aku telah merugikan waktuku sendiri.

Hilangnya Ramadhan ialah hilangnya himmahku

Sedih rasanya aku membiarkan ramadhan kali ini lewat karena ambisiku mencari duniawi. Namun sepertinya disitulah hikmahnya – aku pun melihat sendiri bahwa ibadahku pun terpontang panting – yang pula mencerminkan bahwa keseharianku saat masa perkuliahan selalu berubah2 tiada aturan.

Aduhai. Malangnya diriku. Buat apa berambisi duniawi jika destinasi akhirat terlupakan? Aku harus bersumpah pada diriku sendiri aku tidak boleh telat dari jadwal shalatku mesti hanya 30 menit!!! Kemunduranku merupakan kerugian bagiku.

Dan, jika besok adalah waktunya bermaaf-maaf an, maka tujuan pertamaku ialah pada Tuhan. “Ya allah, maafkanlah hamba yang selalu lupa kehadiranmu”.

Mulai malam ini. Mulai detik ini. Aku ingin berkaca kepada Tuhan, kepada diriku yang lampau, kini, dan akan datang. Mungkin aku tidak akan menyentuh ambisiku terlebih dahulu selama seminggu ini. Untuk momenku terhadap refleksiku.

Dan, bukanlah sebuah memo jika tidak ada pepatah yang dapat menggetarkan pikiranku…


Illaliqo’ Ramadhan. Marhaban ya Iidil Fitri.

Kepada semua pembaca setia saya, saya ucapkan terima kasih banyak dan selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin.

Wildan Mubarok – memo.wellosoft.net